Keutamaan Bulan Ramadhan Bagi Umat Islam

SURABAYAONLINE.CO | GONTOR – Bulan Ramadhan, merupakan bulan yang ditunggu-tunggu setiap umat muslim. Bahkan dalam bulan suci ini, semua umat Islam berlomba-lomba untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ustadz H Farid Silistyo Lc dalam ceramah subuhnya membagi tiga perkara di dalam pelaksanaan Ramadhan, yaitu:

Rahmah (Kasih sayang) pada pelaksanaan 10 hari pertama.
Magfirah (Ampunan) pada pelaksanaan 10 hari kedua
Khalqon Min An-nar (terbebas dari neraka) pada pelaksanaan 10 hari ke tiga

Sebagaiman yang kita ketahui dari gol terakhir itu Laalakum Tattakun, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Kita tidak tahu nantinya kita akan menjadi orang yang bertaqwa atau tidak itu semua tergantung diri kita masing-masing, itulah yang dijanjikan oleh Allah.

Semua orang itu berproses di dalam Ramadhan, tetapi didalamnya semua orang berproses tidak sama antara satu dan yang lain.

Meskipun kurikulumnya sama, terrmasuk didalamnya kurikulum wajib yaitu: puasa dan kurikulum lain yang dianjurkan seperti beramal soleh, berinfak dll. Itu semua tergantung diri kita masing-masing yang mengambil materi itu.

Yang wajib kita ambil dari kurikulum itu adalah puasa, itupun masih dipertanyakan bagaimana kita berpuasa, apakah puasa kita dapat diterima oleh Allah atau tidak karena puasa itu.

Karena yang tahu kita berpuasa hanya 2, yaitu diri kita dan Allah sendiri. Yang tau kita berpuasa hanya diri kita sendiri apakah kita minum atau makan di tempat yang tidak terlihat dll.

Untuk mencapai kualitas puasa yang baik itu tidak mudah. Karena disamping kita menahan lapar, haus, merokok dan disamping itu semua orang yang berpuasa. Itu mampu menahan nafsu untuk tidak terjerumus kepada nuansa yang berbau maksiat.

Maka kembali kepada devinisi taqwa sebelumnya. Bahwa taqwa itu Wiqayah artinya pencegahan/menahan. Menahan dari hal-hal yang merujuk kepada maksiat. Tidak terjerumus kepada hal-hal yang berujung dosa. Jika kita sudah mencapai tahapan ini, kita sudah sampai pada relatif keadaan yang lumayan bagus.

Disamping kita menahan makan dan minum. Kita juga menahan dari hasrat pikiran kita yang kita turuti akan menjerumuskan kepada hal yang dosa dan maksiat. Tetapi jika kita bisa manahan dari ini semua insyaallah puasa kita akan bagus.

Dan menahan ini teurs kita biasakan hingga pertahanan jiwa kita kuat. Insyaallah gelar orang yang bertaqwa itu akan kita raih. Maka yang menjadi pertanyaannya sejauh mana taqwa kita masing-masing dalam menjalani puasa pada tahun.

Nabi yusuf yang mempunyai taqwa yang sangat ideal. Ia memiliki banyak sekali persediaan makanan di gudang kalau saja ia mau maka ia akan mengambil sepuasnya. Sangat mudah sekali, tetapi ia tidak melakukan itu. Ia mampu membendung jiwanya untuk tidak mengambil makanan itu.

Ada sesuatu yang kuat sekali dalam diri nabi Yusuf. “Saya ini takut/khawatir kalau-kalau saya kenyang akan menjadi lupa terhadap orang-orang yang lapar.” Ini yang menjadi pendorong nabi Yusuf untuk tidak seenaknya, melanggar amanah. Inilah kualitas taqwa yang sangat tinggi.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang lain bersabda:
لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

Artinya: “Seorang hamba tidak akan sampai menjadi orang yang bertakwa sampai dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada bahaya padanya (musytabihat) karena mewaspadai/takut akan melakukan sesuatu yang ada bahayanya (haram)”

Ini sampai kepada orang yang bertaqwa sampai seorang hamba meninggalkan sesuatu yang biasa tidak mengandung dosa. Kenapa? Karena ia takut di dalamnya dapat menjadikannya dosa.

Seperti orang yang menonton TV, ia takut jika ia menonton TV takut akan lalai dalam sholat. Jadi terdapat kekhawatiran di dalamnya. Maka taqwa itu terwujudkan di dalam tindakan itu.

Jika kita di dalam bulan Ramadhan selalu melaksanakan ini maka akan tercipta keadaan yang baik, sudah terbentuk mental yang baik pula.

Pembagian taqwa menurut Ali bin Abi Thalib:
Al Khaufu Minal Jalil(takut kepada Allah yang Maha Agung)
Al Amalu Bit Tanzil(beramal dengan dasar Al Qur’an)
Al Qona’atu Bil Qolil(menerima (Qona’ah) terhadap yang sedikit.)
Al Isti’dadu Li Yaumir Rakhil (bersiap-siap menghadapi hari akhir (hari perpindahan).

Jika perasaan takut sama Allah maka ia takut melakukan perbuatan maksiat karena ia tahu bahwa ia selalu di waspadai. Seperti halnya CCTV di dalam sebuah ruangan maka orang pun akan waspada/takut padanya.

Jika kita menanyakan pada diri kita masing-masing, berapa persen dari ajaran Al-Qur’an yang sudah kita amalkan? Tentu hanya sekian persen. Kalau kita mampu melakukannya itulah namanya ketaqwaan. Maka marilah kita tingkatkan ketaqwaan di bulan Ramadhan ini. (Rangkuman kuliah Subuh: H. Farid Sulistyo, Lc, ustadz Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *