Ironis dan Tragis, Surabaya Sebagai Kota Pahlawan Malah Mengabaikan Tokoh yang Telah Berjasa

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Namun di Surabaya, sebagai kota pahlawan justru sangat ironis dan tragis, sosoknya dihormati dengan diabadikan sebagai nama jalan, tapi kondisi makamnya memprihatinkan, tidak layak, kotor ditumbuhi rumput.

Kondisi Makam Walikota Moestadjab

Sosok itu adalah Walikota Mustajab, Nama aslinya adalah Raden Moestadjab Soemowidagdo, adalah Wali Kota Surabaya yang menjabat pada periode 1952-1956

Kondisi makam baru diketahui setelah Paseban (Paguyuban Seni Budaya Nusantara) Surabaya berinisiatif mengadakan ziarah, tabur bunga dan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di pusara Walikota Mustadjab di TPU Karang Tembok pada hari Senin (17/8).sebagai bentuk kepedulian Paseban terhadap sosok sosok pejuang agar tidak terlupakan.

Dhahana Adi salah satu anggota Paseban, sekaligus pengamat sejarah khususnya sejarah Surabaya, menyampaikan bahwa jasa-jasa walikota Moestadjab sangat banyak. Momen saat itu adalah pasca revolusi, yang mana Surabaya membutuhkan pembangunan infrastruktur seperti pasar, sempadan jalan dan perumahan.

Selain pembangunan infrastruktur, beliau juga menyelesaikan beberapa bangunan yang saat ini menjadi monumental.

“Membangun tugu pahlwan, stadion tambaksari (10 novemver -red) dan meresmikan Universitas Airlangga” kata Dhahana.

Paseban Surabaya Tabur Bunga di Makam Walikota Moestadjab

Sementara Ir. Siswandi ketua Paseban saat memberikan sambutan sempat meneteskan air mata dan terbata.

“Beliau jasanya banyak, namun kondisi makamnya kog seperti ini” ujar Siswandi tanpa mampu meneruskan kata katanya

Hal senada juga disampaikan oleh Cak Albaroyo yang terkenal sebagai seniman pengocok perut Cak Eko Lontong Tralala.

“Melihat kondisi seperti ini, saya mohon segenap warga Surabaya perhatian dengan makam Walikota Moestadjab” kata Eko

Lebih lanjut Eko mengharapkan kepada Siti Snggraenie Hapsari (SAH) Notaris-PPAT yang hadir sebagai undangan, untuk memugar makam ini.

“Mohon untuk ibu SAH, calon wakil walikota Surabaya, untuk memperbaiki, supaya tampak lebih layak dihadapan masyarakat Indonesia khususnya Surabaya” imbuh Eko

Makam M. Pamoedji Pendiri Persebaya

Awak media pernah mengetahui bahwa masalah ini pernah diangkat pada tanun 2017, artinya pemerintah kota Surabaya telah tiga tahun melakukan pembiaran

Baca juga : Miris, Namanya Abadi Jadi Jalan di Surabaya, Tapi Beginilah Kondisi Makam Sang Mantan Walikota

Siti Anggraenie Hapasari (SAH) mengatakan kepada awak media, bahwa warga Surabaya kenal dengan Walikota Moestajab karena diabadikan sebagai nama jalan, mamun belum banyak yang tahu, dimana makamnya.

“Oleh karena itu saya diundang Paseban hadir di sini (makam -red), saya melihat makam kotor, tidak terawat, ditumbuhi rumput-rumput” kata SAH

Rombongan Paseban Surabaya Ziarah ke Makam W. R. Supratman

Lebih lanjut Siti Anggraenie Hapsari (SAH) merasakan, kurang ada peduli terhadap para tokoh yang telah berjasa.

“Hari ini Paseban melakukan pembersihan sekaligus upacara sebagai bentuk apresiasi kepada para tokoh yang telah berjasa” imbuh SAH.

Kunjungan Paseban ke Makam Walikota Mustajab, adalah merupakan rangkaian ziarah ke makam para pahlawan dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan RI yang ke 75.

Selain mengujungi makam Walikota Mustajab, Paseban juga mengunjungi makam M. Pamoedji pendiri Persebaya dan W.R. Supratman.