SURABAYAONLINE.CO – Citra Karang Taruna yang kerap dianggap hanya aktif saat menggelar lomba agustusan perlahan terkikis di Desa Teja Barat, Kecamatan Pamekasan. Lewat tangan dingin para pemudanya, organisasi ini bertransformasi menjadi wadah wirausaha mandiri dengan memproduksi tempe lokal. Berbekal modal swadaya dari kantong pengurus dan alat produksi yang masih tradisional, para pemuda ini nekat memulai usaha dari nol. Keterbatasan modal justru menjadi bahan bakar yang membakar mental mandiri mereka. Dwi Ari Oktaufikur Rachman, Ketua Karang Taruna Desa Teja Barat, menceritakan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan sosial atas mahalnya harga protein hewani di tingkat desa. “Kami ingin memberikan solusi pemenuhan…
Author: Andy Setiawan
Sebuah Perenungan tentang Fana’, Baqa’, dan Jalan Kembali Menuju Diri Sejati Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember) SURABAYAONLINE.CO – PADA suatu senja yang temaram, ketika langit barat dihiasi semburat jingga yang perlahan ditelan gelap, seorang darwis tua duduk di tepi sungai. Matanya yang redup memandang aliran air yang tak pernah lelah mengalir. Di sampingnya, seorang murid muda—yang baru saja memulai perjalanan spiritualnya—ikut duduk dengan hati yang gelisah. “Wahai Syaikh,” kata si murid, memecah keheningan, “aku mendengar sebuah kisah yang aneh. Tentang sebuah sungai yang takut memasuki samudra. Bagaimana mungkin sungai takut pada samudra? Bukankah samudra adalah tujuannya? Bukankah…
Dari Negara Pascakolonial Menuju Negara Peradaban Indonesia Oleh: Kusbachrul, SH (Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember) Mengapa Soekarno Selalu Kembali? SURABAYAONLINE.CO – Setiap bulan Juni, bangsa ini seperti dipaksa kembali menatap cermin sejarahnya sendiri. Nama Soekarno hadir lagi, bukan sekadar sebagai gambar di dinding kantor pemerintahan, bukan sekadar sebagai patung, nama jalan, atau kutipan pidato yang dipakai untuk membuka upacara. Ia hadir sebagai pertanyaan yang belum selesai. Ia hadir sebagai luka. Ia hadir sebagai suara dari masa lalu yang terus menggugat masa kini: sudahkah Indonesia benar-benar merdeka? Pada 1 Juni 2001, tepat seabad kelahiran Soekarno, M. Imam Aziz menulis esai reflektif…
Oleh: Tri Prakoso, SH., M.HP (Alumni FH Universitas Jember) Sebuah Pemandangan di Lantai 42, Manhattan SURABAYAONLINE.CO – Bayangkan seorang manajer investasi di sebuah hedge fund di New York. Ia duduk di ruang kerjanya yang sunyi, hanya ditemani oleh enam layar monitor yang menyala. Secangkir kopi hitam di tangan kirinya. Sebatang cerutu Kuba di asbak kristal. Di hadapannya, terminal Bloomberg Professional menampilkan ribuan titik data dalam warna-warna yang hanya dipahami oleh mereka yang telah bertahun-tahun membaca bahasa pasar. Ia tidak perlu berteriak di televisi. Ia tidak perlu menulis utas di media sosial. Ia bahkan tidak perlu menelepon siapa pun pada saat itu.…
Oleh: Tri Prakoso, SH., M.HP (Alumni FH Universitas Jember) SURABAYAONLINE.CO – Pada awal Juni 2026, rupiah kembali memasuki ruang kecemasan. Nilai tukarnya bergerak di kisaran Rp17.000-an per dolar Amerika Serikat. Bagi sebagian orang, itu hanya angka pasar. Bagi ekonom teknokrat, itu gejala tekanan eksternal. Bagi pelaku pasar, itu sinyal volatilitas. Namun bagi rakyat, pelemahan rupiah adalah ancaman yang perlahan masuk ke dapur: harga pangan impor naik, biaya energi membengkak, ongkos produksi meningkat, subsidi tertekan, dan daya beli makin rentan. Ironisnya, pada saat yang sama, indikator makro tertentu tampak jinak. Inflasi masih berada dalam target. Pertumbuhan uang beredar atau M2 masih…
Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Di meja warung kopi, ketika asap rokok berpilin dengan aroma arabika, sebuah pertanyaan menggelitik dilemparkan ke tengah gelanggang: jika “keamburadulan” negeri ini bisa dikuantifikasi, berapakah angka yang pantas kita sematkan? Sebuah pertanyaan yang sekilas naif, namun sejatinya menuntut pertanggungjawaban ilmiah yang rigid atas rasa frustrasi kolektif yang selama ini hanya mengendap menjadi sinisme publik. Bukan perkara lazim dalam ilmu sosial menghitung “persen signifikansi” dari sebuah kekacauan dengan presisi matematis layaknya hukum fisika kuantum. Namun, jika kita memijakkan kaki pada konsensus para ilmuwan politik, ekonom institusional, serta sosiolog yang jernih memandang realitas, konklusi numerik itu menyeruak dengan…
Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Sejarah manusia adalah sejarah penaklukan. Kita pernah menaklukkan jarak dengan roda, menaklukkan kegelapan dengan api, dan menaklukkan ketidaktahuan dengan aksara. Namun, di tengah perjalanan peradaban, manusia menciptakan sebuah entitas yang awalnya diniatkan sebagai pelayan, tetapi kini justru bertransformasi menjadi ‘majikan tunggal yang mutlak: uang’. Sejak lembaran Kode Hammurabi mencatat praktik riba di Mesopotamia sekitar 3000 SM, hingga Thales memonopoli alat pemeras zaitun di Yunani kuno, benih-benih “predasi finansial” sebenarnya telah tertanam. Manusia menemukan cara spekulatif agar “uang bisa membiakkan uang” tanpa perlu memeras keringat di ladang riil. Nilai waktu diperdagangkan melalui bunga; risiko masa depan ditebak…
Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Sebuah Perenungan tentang Nalar, Keserakahan, dan Batas Ekologis Kekuasaan Bayangkan sebuah rimba yang lebat. Pikiran awam kita akan segera menunjuk harimau yang mengaum lantang atau singa politik yang gemar memamerkan taring di atas podium sebagai penguasa tertinggi. Namun, benarkah mereka berada di puncak rantai makanan? Di medan laga kekuasaan yang sejati, sejarah berulang kali membisikkan koreksi: top predator bukanlah ia yang paling bising, melainkan kekuatan hening yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur siapa yang boleh berburu, kapan perburuan dimulai, di mana ladangnya, dan dengan aturan siapa. Ia adalah wujud dari ‘meta-kekuasaan’—sebuah kekuasaan atas kekuasaan itu sendiri.…
Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Tulisan ini terinspirasi obrolan Rocky Gerung di podcast Hersubenopoint kemarin yang nyambung dengan artikel saya sebelumnya yang mengkritik kesenjangan kebijakan macro economic dengan kebutuhan penanganan serius sektor riil. Dalam ruang rapat berpendingin udara, ekonomi sering kali diringkas menjadi angka statistik yang steril: nilai tukar rupiah, kurva inflasi, atau grafik PDB. Namun di luar jendela kaca, ekonomi adalah urusan dapur yang kekurangan beras, tentang kecemasan jutaan orang tua yang menyaksikan tabungannya menguap, dan tentang runtuhnya fondasi sosial penopang republik. Hari ini, Indonesia berada di persimpangan jalan. Riuh rendah rumor politik mengenai pergantian Menteri Keuangan sebenarnya bukan sekedar…
Oleh: S. Alamsyah SURABAYAONLINE.CO – Danantara Indonesia sedang sibuk mempersiapkan penerbitan global bond. Nilainya sampai US$5 miliar atau sekitar Rp80 triliun. Ini besar. Dan yang menarik, skemanya pakai format 144A dan Reg S, plus senior unsecured notes di bawah program GMTN. Istilah-istilah ini memang akrab di pasar modal global. Saya coba jelaskan sederhananya dulu. GMTN itu singkatan dari Global Medium Term Notes. Intinya surat utang berskala global dengan jangka waktu menengah. Tetapi penerbitannya nggak harus sekaligus. Mereka bisa keluarkan sedikit demi sedikit tergantung permintaan pasar. Nah, yang bikin agak rumit adalah label senior unsecured notes. Artinya utang ini nggak punya…

