Jatim Terbanyak Klaster Covid PTM, Jakarta Catat 1 Sekolah

SURABAYAONLINE.CO – Provinsi Jawa Timur menjadi daerah dengan klaster Covid-19 tertinggi di sekolah, sejak pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas berlangsung. Hal itu berdasarkan temuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Dari temuan 1.303 sekolah yang menjadi klaster Covid-19 selama PTM terbatas, sebanyak 165 sekolah di antaranya atau 2,77 persen berada di Jatim.

Kemendikbudristek: 1.296 Sekolah Jadi Klaster Covid-19 PTM
Hal itu terungkap dari data survei yang dilakukan oleh Kemendikbudristek dan dipublikasikan pada situs https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ per Kamis (23/9).

Hal itu terungkap dari data survei yang dilakukan oleh Kemendikbudristek dan dipublikasikan pada situs https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ per Kamis (23/9).
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi membenarkan bahwa ada sejumlah temuan klaster Covid-19 di sekolah. Mayoritas terjadi di tingkat SD yang dikelola kabupaten/kota.

Data klaster sekolah terhadap Covid-19 secara nasional dari Kemendikbudristek, jenjang SD 45,97 persen, PAUD 19,94 persen, dan SMP 19,07 persen,” kata Wahid.

Sedangkan, di tingkat SMA, SMK dan SLB yang dikelola Pemprov Jatim, Wahid mengatakan pihaknya belum mendapatkan temuan klaster Covid-19.

“Laporan dari para Kacab Dindik se-Jatim untuk SMA, SMK, SLB di Jatim aman dari klaster Covid-19 sekolah,” ujarnya.

Sekolah juga diminta tegas mengingatkan siswanya untuk segera pulang setelah PTM. Wahid mengatakan pihaknya beberapa kali mendapatkan laporan tentang siswa yang berkumpul selepas PTM.

“Untuk itu kami meminta agar kepala sekolah memberikan imbauan kepada siswa untuk langsung pulang setelah selesai PTM karena pada beberapa jam berikutnya ada PJJ, sehingga keberadaan siswa termonitor,” katanya.

7 Sekolah Jakarta Ditutup Imbas Covid-19 dan Langgar Prokes Satu Klaster di Jakarta. Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengungkap satu klaster Covid-19 di sekolah saat PTM. Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taga Radja Gah menjelaskan berdasarkan evaluasi pihaknya hingga 22 September, ada tujuh sekolah yang ditutup sementara.

Enam di antaranya ditutup karena ditemukan kasus positif. Sementara satu sekolah ditutup karena pelanggaran protokol kesehatan (prokes).

“Enam sekolah itu ditemukan kasus positif hanya satu orang saja,” kata Taga saat dihubungi, Kamis (23/9).

Taga menjelaskan temuan kasus itu. Pertama, di SD Klender 03, ada satu siswa yang tertular virus corona. Setelah dilakukan tracing, didapatkan satu siswa lagi positif, sehingga total 2 siswa positif.

“Tapi itu sudah di-tracing ya, tidak ada lagi penyebarannya,” katanya.

Temuan selanjutnya adalah satu guru positif di SMK 66. Taga mengklaim penularan itu terjadi di rumah, bukan sekolah.

“Lalu SDN Pondok Rangon 02, satu siswa juga dari rumah, kemudian SMP PGRI 20, satu orang guru positif. Kemudian SMA 25, satu orang guru positif, dan SMA 20 satu siswa positif,” kata Taga.

Dengan temuan itu, menurutnya, hanya ada satu klaster penularan di sekolah, yakni di SD Klender 03.

“Kalau klaster itu hanya 1 yang di SDN Klender itu, itu pun sudah ditracing lagi hanya tiada lagi yang lain,” katanya.

Lebih lanjut, Taga menjelaskan meski sempat dilakukan penutupan sementara, enam sekolah yang ditemukan kasus positif telah diizinkan untuk buka kembali. Namun satu sekolah yang melanggar prokes, masih belum diizinkan.

Saat disinggung mengenai data Kemendikbud yang menyebut 25 klaster Covid-19 PTM di Jakarta, Taga meminta langsung mengonfirmasi ke Kemendikbud. Pihaknya tidak pernah mengumumkan data itu.

Dikutip dari sekolah.data.kemendikbud.go.id, terpampang infografis klaster Covid-19 PTM. Wilayah Jakarta tercatat 25 klaster dari total 900 responden sekolah.

Selain itu, juga tercatat sebanyak 227 pendidik dan tenaga kependidikan dilaporkan terinfeksi Covid-19 Sementara untuk peserta didik yang terinfeksi berjumlah 241 orang.

WHO Soroti Klaster Sekolah Tatap Muka, 193 Siswa Positif. Di Kota Bandung, Sekretaris Daerah sekaligus Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Ema Sumarna mengatakan tidak ada klaster Covid-19 selama PTM berlangsung.

Ema menyatakan sekolah yang menggelar PTM terbatas harus mengacu pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang sudah menjadi pedoman. Hal itu untuk antisipasi terjadinya klaster Covid PTM.

“Di Kota Bandung sampai saat ini, alhamdulillah tidak ada laporan klaster pendidikan. Saya berharap tidak. Kalau pun ada tentunya harus cepat langsung mengantisipasi karena kita sudah mengingatkan termasuk juga tertuang dalam juklak juknis,” kata dia. (Nug)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *