SAH Buktikan Komitment Kembangkan UMKM di Surabaya dengan Teknologi

Surabayaonline.co- Setelah Siti Anggraienie Hapsari (SAH) melakukan sapa warga di seluruh pelosok Surabaya, untuk menggali dan menerima masukkan permasalahan yang ada di Surabaya, Siti Anggraenie Hapsari (SAH) yang saat ini sedang mempersiapakan diri menjadi wakil walikota Surabaya, mengajak Pelaku Usaha (UMKM) dan Penggerak Usaha Se-Surabaya berkunjung Techno Park  Laboratorium Teknologi Tepat Guna (TTG) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPN Surabaya).

Ada puluhan orang yang ikut dalam rombongan ini, diantaranya adalah penggerak Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM Surabaya), beberapa nelayan dan masyarakat pelaku usaha seperti pembuat tempe, pembuat tape dan lain-lain.

Edi Mulyadi kiri bersama Siti Anggraenie Hapsari ( SAH )

Tujuan SAH mengajak pelaku dan penggerak usaha se-Surabaya ke Techno Park UPN Surabaya adalah agar pelaku dan penggerak usaha mendapatkan solusi real, dan bisa membuat pelaku  usaha bisa survive di tengah suasana Covid 19.

“Jadi saya ingin ada program yang real, bukan sebuah janji saja dan bisa membuat pelaku usaha survive terutama disaat sekarang ini (Covid-19 -red)” ujar SAH saat menemui Dr. Ir. Edi Mulyadi SU, direktur Inkubasi Bisnis Techno Park UPN Surabaya

Pada kesempatan itu, Edi mencotohkan bahwa ada di Surabaya sentra tempe yang terdiri dari beberapa kelompok orang, disini akan diberikan sentuhan teknologinya, sehingga terjadi efisiensi dan efektifitas, seperti di dalam membuat tempe diperlukan air, fungsi teknologi disini adalah memberikan penghematan air, sehingga biaya menjadi murah, yang dulunya di injak-injak, sekarang memakai mesin sehingga lebih higienis.

Sentuhan teknologi tidak berhenti disini, melainkan dari hulu sampai hilir, Setelah jadi tempe, ini bisa disentuh dengan teknologi lagi sehingga yang tempe tradisional menjadi produk baru yang milenial, misal tempel biasa menjadi kering tempe, kemudian burger tempe dan seterusnya.

“Bisa dilanjutkan dengan olehaan tempenya seperti kering tempe, burger tempe, yang mula-mula tradisional menjadi milenial” jelas Edi

Untuk kasus Tape, Edi mencontohkan dari tape itu masih bisa dilanjutkan menjadi dodol, sehingga tahan simpan, atau minuman tape dan seterusnya, sehingga teknologi ini bisa memberi nilai tambah.

Untuk kasus nelayan, ikan selain dijual langsung, juga bisa bisa dikeringkan, dijadikan abon, limbahnya bisa untuk pakan ternak, saos dan lain lain.

“Yang penting, niat itu saja” kata Edi saat ditanya awak media tetang hal apa saja yang paling sulit dalam berusaha agar sukses,

“Apa kesulitannya sampaikan, komunikasikan, kerjakan apa yang menjadi saran kami, tapi kalau dapat dana untuk beli mesin terus berubah jadi motor, ya selesai sudah” lanjut Edi.

Mendengar penjelasan yang panjang dan lebar dari Edi, para pelaku dan penggerak usaha menjadi paham dan semangat.

Pada kesempatan itu Edi langsung  langsung memberikan bantuan berupa pendampingan dan sentuhan teknologi kepada lima kelompok masyarakat pelaku usaha yaitu : kelompok pembuat tape, kelompok pembuat tempe, kelompok pembuat bakso. kelompok nelayan dan kelompok pembuat jamu.

“Ini yang saya tunggu dan saya berterimakasih, karena saat ini saya sangat prihatin, kelompok yang saya bina dari tidak bisa membuat, sampai pintar membuat tape, namun terpaksa merugi, karena tiap hari selalu membuang produksinya karena kedaluarsa, saya berharap dengan teknologi ini, produk tape tidak terbuang, bisa diolah menjadi beberapa produk dan meningkatkan daya jualnya” demikian kata Enggar salah satu penggerak pelaku usaha dari KPM Surabaya.

Dengan melihat mesin-mesin yang sudah siap pakai dan penjelasan lengkap yang diberikan oleh Edi, menurut SAH Techno Park Surabaya bisa menjadi partner pemerintah untuk masa depan.

“Dengan teknologi tepat guna, kedepan (UPN -red) bisa menjadi partner pemerintah dimasa depan” kata SAH.

@AdiJaya