SURABAYAONLINE.CO – Industri peternakan ayam petelur (layer) rakyat di Jawa Timur berada dalam kondisi kritis akibat hantaman ganda: kejatuhan harga telur di pasaran yang dibarengi dengan lonjakan harga pakan secara masif. Merespons krisis ini, Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia (PATERAIN) secara resmi melayangkan surat penyampaian aspirasi dan tuntutan keras kepada Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Para peternak yang berbasis di wilayah lumbung ternak Jawa Timur termasuk Magetan, Blitar, Ponorogo, Jombang, dan Bojonegoro menyatakan bahwa struktur pasar saat ini sudah tidak sehat dan cenderung diskriminatif terhadap peternak kecil. Ketua PATERAIN, Nur Muhammad Ali, mengungkapkan bahwa saat ini harga telur di…
Author: Andy Setiawan
Membaca Ulang Lenin, Materialisme, dan Politik Kesadaran Oleh: Kusbachrul, SH. (Ketua Yayasan Satria Merah Jambu) SURABAYAONLINE.CO – Ada pertanyaan yang sekilas tampak sederhana, bahkan nyaris menggelikan: apakah manusia berpikir dengan bantuan otak? Bagi akal sehat modern, jawabannya hampir tidak membutuhkan perdebatan. Tentu saja manusia berpikir dengan otak. Kita menyaksikan setiap hari bahwa gangguan pada otak—akibat stroke, trauma kepala, tumor, epilepsi, penyakit Alzheimer, Parkinson, atau kerusakan saraf tertentu—dapat mengubah daya ingat, bahasa, emosi, gerak tubuh, bahkan kepribadian seseorang. Ilmu kedokteran, neurologi, psikologi kognitif, dan ilmu saraf modern telah menunjukkan hubungan yang sangat erat antara aktivitas otak dan fungsi mental manusia. Namun…
Oleh: Eko Muhammad Ridwan Ketua Umum Ranggah Rajasa Indonesia (RRI) SURABAYAONLINE.CO – Ada saat ketika sebuah regulasi tidak bisa lagi dibaca sekadar sebagai tumpukan pasal, alinea, dan lampiran administratif. Ada saat ketika sebuah peraturan menjelma menjadi cermin yang memantulkan arah ideologis sebuah bangsa. Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pembudayaan Olahraga adalah salah satu momen semacam itu. Ia bukan hanya produk hukum teknokratis dari birokrasi kementerian. Ia adalah semacam manifesto ideologis yang menandai perubahan besar dalam cara negara memandang, mengelola, dan memperjuangkan olahraga. Di tengah riuh rendah polemik Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Kepemudaan dan…
Tafsir Kosmologis atas Gelar “Baginda Pemuka Bangsa” dan Ritual Adat Lampung untuk Joko Widodo Oleh: Nyi Deasy Arista Sari Lestari (Budayawan Masyarakat Adat Nusantara — MATRA) SURABAYAONLINE.CO – Ada peristiwa adat yang, bila dibaca dengan nalar modern yang tergesa-gesa, mudah dianggap ganjil. Seorang mantan presiden duduk di kursi adat, menerima gelar kehormatan, lalu menjalani prosesi menginjak kepala kerbau. Di layar media sosial, adegan seperti itu cepat menjadi potongan gambar yang diperdebatkan: sebagian melihatnya sebagai penghormatan budaya, sebagian lain sebagai simbol yang memancing tafsir politik, bahkan ada yang menilainya dengan ukuran moral modern yang kaku. Namun adat tidak pernah cukup dibaca…
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember) SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah sudut malam yang basah oleh embun, seorang lelaki tua duduk bersila di atas tikar pandan. Matanya terpejam, namun batinnya terbangun. Ia baru saja menunaikan shalat malam, dan kini ia tenggelam dalam lautan muhasabah—introspeksi diri yang telah menjadi kebiasaan para pencinta Ilahi sejak zaman para nabi. Tiba-tiba, dari kedalaman hatinya yang paling rahasia, sebuah suara bergema tanpa bunyi. Suara itu bukanlah suara yang akrab dengan telinga jasmani. Ia adalah suara sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di dalam diri setiap insan, yang hanya bisa didengar oleh telinga batin yang telah disucikan.…
SURABAYAONLINE.CO — Asap tipis membubung dari dapur produksi sederhana di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep. Di tengah aroma manis gula merah yang khas, Rosidah (50), dengan cekatan mengaduk adonan di atas tungku besar. Ia telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melestarikan kuliner tradisional tersebut. Bagi Rosidah, gula merah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya. Sejak 2006, ia mengembangkan usaha gula merah khas Madura dengan memanfaatkan air nira dari pohon siwalan atau lontar yang banyak tumbuh di Sumenep. Dua dekade lalu, perjalanan ini tentu tidak langsung berjalan mulus seperti sekarang. Pada awal merintis usaha, Rosidah harus berhadapan dengan…
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember) SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah malam yang pekat, ketika bintang-bintang enggan menampakkan diri dan bulan bersembunyi di balik awan tebal, seorang pencari kebenaran duduk termenung di sudut kamarnya yang sunyi. Ia baru saja terlibat dalam pertengkaran sengit dengan sahabat karibnya. Kata-kata pedas telah terucap. Harga diri telah terluka. Dan kini, di dalam dadanya, ada sesuatu yang menyala-nyala. Sesuatu yang panas, yang membara, yang terus-menerus membisikkan kalimat-kalimat pembenaran: ”Engkau benar. Dialah yang salah. Engkau berhak marah. Engkau berhak membalas.” Api itu bernama kebencian. Dan setiap manusia pernah merasakan nyalanya. Namun, di tengah gelapnya malam…
Oleh: Dr. Sri Setyadji, S.H., M.Hum (Pakar Hukum Agraria/Pertanahan Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Surabaya) SURABAYAONLINE.CO – Indonesia sejak awal berdirinya tidak pernah dimaksudkan menjadi negara yang menganut kapitalisme liberal secara penuh, maupun sosialisme ala negara-negara komunis. Para pendiri bangsa telah merumuskan suatu jalan tersendiri yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jalan tersebut menempatkan kemanusiaan, demokrasi, serta keadilan sosial sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks inilah, konsep Sosialisme Indonesia sesungguhnya hadir sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan bersama. Sosialisme Indonesia bukanlah sosialisme yang menghapus hak milik pribadi atau menempatkan negara…
Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Peneliti Yayasan Merah Jambu) SURABAYAONLINE.CO – Ada ungkapan tua dari khazanah Sunda Kuno yang terasa sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filsafat sejarah yang sangat dalam: hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke—ada dahulu maka ada sekarang; tidak ada dahulu maka tidak ada sekarang. Di balik kalimat itu tersimpan pandangan dunia yang tidak melihat masa lalu sebagai puing, melainkan sebagai akar; tidak memandang leluhur sebagai nostalgia, melainkan sebagai sumber orientasi moral; tidak memahami gunung sebagai batu dan tanah belaka, melainkan sebagai pusat kesadaran kosmis. Dari ungkapan inilah kita dapat memasuki dunia batin Prabu Darmasiksa,…
Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Kisah di balik aksara Jawa, Hanacaraka, bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau metode menghafal huruf kuno. Di balik jalinan katanya, tersimpan sebuah cermin yang tajam—bahkan cenderung menyengat—untuk memotret hiruk-pikuk perebutan kekuasaan di Indonesia hari ini. Ini adalah sebuah alegori abadi tentang bagaimana ambisi yang berbenturan dan kebuntuan komunikasi bisa berakhir pada satu titik: kehancuran bersama. Tragedi Dua Utusan: Ketika Kesetiaan Menjadi Buta Kita tentu akrab dengan muasal kisah ini. Raja bijaksana dari Medang Kamulan, Aji Saka, memiliki dua abdi yang amat setia: Dora dan Sembada. Suatu hari, sebuah pusaka sakti dititipkan kepada Sembada dengan perintah mutlak:…

