Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – ADA sebuah paradoks yang menghuni inti terdalam dari perjalanan spiritual. Paradoks itu sunyi, tetapi juga tidak sunyi. Ia lurus, tetapi menuntut ribuan kelokan ke dalam diri. Ia adalah jalan yang digelar oleh Allah bagi para pencinta-Nya, jalan yang bukan hanya membentang di hamparan ruang dan waktu, melainkan juga menukik ke dalam samudra hati yang paling gelap. Seorang arif pernah melantunkan syair yang bukan sekadar puisi. Ia adalah gema dari Hadirat al-Quds, dialog Ilahi yang menyingkapkan rahasia mengapa syariat dibangun dengan perintah dan larangan tertentu. Syair itu berbunyi:
”Sesungguhnya jalan menuju Aku adalah jalan yang sunyi, tetapi juga tidak sunyi. Sesungguhnya jalan itu lurus, meluruskan kehendakmu dan kehendak-Ku. Mengapa harus lurus? Karena sifatmu selalu berubah. Mengapa harus memuja dan memuji-Ku? Karena sifatmu selalu ingin dipuja dan dipuji. Mengapa engkau harus mengakui kebesaran-Ku? Karena sifatmu selalu merasa besar, padahal tidak besar. Mengapa engkau harus mengakui Kekuasaan-Ku? Karena sifatmu yang selalu ingin berkuasa. Mengapa engkau harus meng-ESA-kan Aku? Karena sifatmu selalu ingin mencari sekutu lain selain Aku. Mengapa engkau harus menyembah-Ku? Karena dirimu ingin disembah. Mengapa engkau tidak boleh sombong? Karena yang berhak untuk sombong adalah Aku.”
Syair ini adalah peta dan sekaligus pisau bedah. Ia memetakan jalan spiritual dari titik tolaknya yang paling elementer hingga puncaknya yang paling misterius. Dan pada saat yang sama, ia membedah anatomi jiwa manusia, menyingkap lapis demi lapis sifat-sifat busuk yang bersarang di dalamnya. Setiap bait adalah jawaban atas pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa kita harus beribadah dengan cara ini? Mengapa shalat, puasa, zikir, dan doa didesain sedemikian rupa? Jawabannya tidak bersifat legalistik-formal, melainkan bersifat psikologis-spiritual: karena sifat-sifat manusia yang cacat harus diluruskan, dibersihkan, dan akhirnya dilebur dalam samudra Sifat Ilahi.
Mari kita masuki syair ini dengan hati yang terbuka, bukan untuk menganalisisnya dengan akal yang kering, tetapi untuk menyelaminya dengan kalbu yang rindu. Sebab, di dalam untaian kata-katanya yang sederhana, tersembunyi samudra makna yang akan mengubah cara kita memandang diri sendiri, Tuhan, dan hubungan di antara keduanya.
Jalan yang Sunyi tapi Tidak Sunyi
”Sesungguhnya jalan menuju Aku adalah jalan yang sunyi, tetapi juga tidak sunyi.”
Bait pembuka ini adalah paradoks yang mendalam. Ia segera membangunkan kita dari pemahaman yang dangkal tentang spiritualitas. Jalan menuju Allah adalah sunyi. Sunyi dari keramaian dunia, sunyi dari kebisingan ego, sunyi dari hiruk-pikuk nafsu yang tak pernah berhenti berteriak. Dalam tradisi tasawuf, kesunyian ini disebut khalwat—menyendiri, menarik diri dari hingar-bingar kehidupan, masuk ke dalam ruang yang hanya berisi dirinya dan Tuhannya.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa khalwat adalah “mengosongkan hati dari selain Allah.” Secara lahiriah, khalwat bisa berarti menyendiri di sebuah ruangan, di masjid yang sepi, atau di tengah alam yang sunyi. Tetapi secara batiniah, khalwat yang sejati adalah kesunyian hati. Hati yang tidak lagi dihuni oleh pikiran-pikiran duniawi, oleh kecemasan tentang masa depan, oleh penyesalan tentang masa lalu, oleh obsesi terhadap harta, jabatan, dan pengakuan. Hati yang sunyi adalah hati yang telah mengosongkan dirinya dari segala sesuatu selain Allah.
Namun, jalan ini tidak sunyi. Ia tidak kosong. Ia tidak hampa. Sebab, ketika hati telah dikosongkan dari selain Allah, ia akan segera dipenuhi oleh Allah. Di situlah letak rahasianya: kesunyian dari makhluk adalah kepenuhan dengan al-Khaliq. Para sufi menyebut pengalaman ini dengan uns—keintiman Ilahi. Sebuah keintiman yang begitu mendalam sehingga sang hamba merasa lebih akrab dengan Allah daripada dengan dirinya sendiri. Ibn ‘Arabi, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menulis bahwa khalwat yang sejati bukanlah kesendirian yang hampa, melainkan “bersama Allah dalam kesendirian.” Dalam khalwat-nya, seorang arif tidak merasa kesepian. Ia justru menemukan keramaian yang paling hakiki: keramaian bersama Sang Kekasih Abadi.
Secara psikologis, ini adalah konsep solitude yang sehat. Bukan isolasi yang melahirkan depresi dan kehampaan makna, melainkan kesendirian yang melahirkan keintiman dengan Diri Sejati dan dengan Yang Transenden. Manusia modern sering kali takut sendirian. Ketika sendirian, ia segera meraih ponsel, menyalakan televisi, atau mencari hiburan apa pun untuk mengusir keheningan. Ia takut menghadapi dirinya sendiri. Tetapi justru dalam ketakutan itulah letak penyakitnya: ia telah begitu terbiasa dengan kebisingan sehingga ia lupa bahwa di dalam kesunyian, ada Suara yang paling lembut, Suara yang menanti untuk didengar.
Jalan yang Lurus: Meluruskan Kehendak yang Bengkok
”Sesungguhnya jalan itu lurus, meluruskan kehendakmu dan kehendak-Ku. Mengapa harus lurus? Karena sifatmu selalu berubah.”
Jalan yang lurus—al-shirath al-mustaqim—adalah doa yang kita panjatkan setiap hari dalam shalat: Ihdina al-shirath al-mustaqim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Tetapi apakah sebenarnya “lurus” itu? Syair ini memberikan jawaban yang sangat dalam: lurus berarti meluruskan kehendak manusia dengan Kehendak Ilahi.
Kehendak manusia, pada dasarnya, adalah bengkok. Ia berubah-ubah, tidak stabil, mudah terombang-ambing oleh suasana hati, oleh godaan setan, oleh bisikan nafsu. Hari ini ia ingin taat, besok ia bisa berubah ingin bermaksiat. Hari ini ia bertekad untuk bangun malam, tetapi ketika alarm berbunyi, ia mematikannya dan kembali terlelap. Hari ini ia berniat untuk berkata jujur, tetapi ketika ada kepentingan, ia tergoda untuk berdusta. Al-Qur’an menegaskan: “Dan manusia itu adalah makhluk yang paling banyak membantah” (QS. Al-Kahfi: 54). Manusia membantah bukan hanya terhadap orang lain, tetapi juga terhadap dirinya sendiri dan terhadap Tuhannya.
Karena itu, jalan spiritual harus lurus. Ia harus menjadi rel yang menjaga agar kehendak yang liar tidak keluar jalur. Caranya adalah dengan mengikatkan kehendak pribadi kepada Kehendak Allah melalui syariat. Shalat, dengan waktunya yang tetap dan gerakannya yang teratur, adalah latihan untuk menyelaraskan kehendak. Puasa, dengan larangan makan dan minum di siang hari, adalah latihan untuk menundukkan kehendak perut. Zakat, dengan kewajiban mengeluarkan sebagian harta, adalah latihan untuk mematahkan kehendak untuk menimbun. Semua ibadah adalah riyadhah—latihan spiritual—yang bertujuan untuk meluruskan kehendak yang bengkok.
Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah, menulis bahwa istiqamah—kelurusan—adalah “menjalankan perintah Allah secara terus-menerus tanpa menyimpang.” Istiqamah adalah maqam yang sangat tinggi. Tidak banyak yang mampu mencapainya. Nabi Saw. sendiri bersabda: “Surat Hud telah membuatku beruban,” dan ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, “Karena firman Allah: ‘Maka istiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan’” (QS. Hud: 112). Istiqamah adalah perjuangan seumur hidup untuk menjaga kehendak tetap lurus, untuk tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.
Ketika kehendak manusia telah lurus—ketika ia hanya menginginkan apa yang diinginkan Allah, ketika ia hanya mencintai apa yang dicintai Allah, ketika ia hanya membenci apa yang dibenci Allah—maka tercapailah maqam fana’ fi al-iradah, peleburan kehendak dalam Kehendak Ilahi. Pada titik ini, sang hamba tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendaknya adalah Kehendak Allah. Ia bergerak bukan karena dorongan nafsunya, melainkan karena dorongan Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh hadis qudsi: “Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan” (HR. Bukhari).
Memuja dan Memuji: Obat bagi Sakit Haus Pujian
”Mengapa harus memuja dan memuji-Ku? Karena sifatmu selalu ingin dipuja dan dipuji.”
Bait ini adalah diagnosis yang sangat tajam. Ia menelanjangi salah satu penyakit hati yang paling kronis: hubb al-madh—cinta pujian. Manusia, hampir tanpa kecuali, ingin diakui, dihormati, dipandang besar oleh orang lain. Ia ingin namanya disebut-sebut dengan kagum. Ia ingin fotonya disukai banyak orang. Ia ingin prestasinya diakui dan diingat. Keinginan ini begitu alami sehingga seringkali kita tidak menyadarinya sebagai penyakit. Tetapi para sufi melihat lebih dalam. Mereka tahu bahwa di balik keinginan untuk dipuji, tersembunyi ego yang masih berkuasa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis bahwa cinta pujian adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Mengapa? Karena ia adalah pintu masuk bagi riya’—pamer amal—dan ‘ujb—bangga diri. Seseorang yang beramal karena ingin dipuji, pada hakikatnya sedang menyekutukan Allah. Ia menjadikan pujian manusia sebagai sekutu bagi Allah. Ia shalat dengan khusyuk ketika dilihat orang, tetapi buru-buru dan malas ketika sendirian. Ia bersedekah dengan jumlah besar ketika akan dicatat oleh panitia, tetapi pelit ketika memberi secara diam-diam. Inilah syirik khafi, syirik yang tersembunyi, yang lebih halus dari sutra dan lebih gelap dari malam.
Lalu, bagaimana terapinya? Syair ini memberikan jawaban yang sangat indah: dengan memuja dan memuji Allah. Setiap kali kita mengucapkan Alhamdulillah, setiap kali kita bertasbih Subhanallah, setiap kali kita bertakbir Allahu Akbar, kita sedang mengalihkan pujian dari diri kita sendiri kepada yang berhak menerimanya. Kita sedang melatih hati untuk mengakui bahwa hanya Allah yang layak dipuji, dan bahwa segala kebaikan yang ada pada diri kita hanyalah karunia dari-Nya. “Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya” (QS. An-Nahl: 53).
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam banyak kisah para wali yang sangat berhati-hati terhadap pujian. Salah satunya adalah kisah seorang sufi yang ketika dipuji oleh seseorang, ia langsung berkata: “Ya Allah, ampunilah dia karena ia telah berdusta kepadaku, dan ampunilah aku karena aku senang mendengar dustanya.” Para wali tahu bahwa pujian adalah racun yang manis. Ia terasa nikmat di lisan, tetapi membunuh secara perlahan di dalam hati.
Dengan terus-menerus memuji Allah, sifat haus pujian dalam diri manusia perlahan-lahan terkikis. Ia mulai merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Ia mulai merasa risih ketika dipuji, karena ia tahu bahwa di balik pujian itu ada jebakan. Ia mulai merindukan anonimitas, karena ia ingin hanya Allah yang tahu amalnya. Inilah ikhlas—ketulusan yang menjadi ruh dari segala ibadah.
Mengakui Kebesaran dan Kekuasaan Allah: Obat bagi Sakit Merasa Besar dan Ingin Berkuasa
”Mengapa engkau harus mengakui kebesaran-Ku? Karena sifatmu selalu merasa besar, padahal tidak besar. Mengapa engkau harus mengakui Kekuasaan-Ku? Karena sifatmu yang selalu ingin berkuasa.”
Dua bait ini adalah cermin bagi dua penyakit hati yang paling akut: kibr (sombong) dan hubb al-riyasah (cinta kekuasaan). Manusia, dengan tubuhnya yang terbuat dari tanah dan setetes air hina, seringkali merasa besar. Ia merasa besar dengan ilmunya yang hanya seujung kuku dibandingkan dengan ilmu Allah. Ia merasa besar dengan hartanya yang hanya titipan sementara. Ia merasa besar dengan jabatannya yang akan segera berakhir begitu ajal menjemput. Padahal, semua itu adalah fatamorgana. “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (QS. Al-Isra’: 37).
Al-Ghazali menulis bahwa kibr adalah penyakit iblis. Ia adalah dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk Allah. Ketika Allah memerintahkan iblis untuk bersujud kepada Adam, iblis menolak. Ia merasa lebih besar, lebih mulia, lebih tinggi. “Aku tercipta dari api, sedangkan dia dari tanah,” katanya. Dan sejak saat itu, iblis menjadi terkutuk selamanya. Kibr adalah pintu dari segala kehancuran. Seorang pemimpin yang sombong akan zalim kepada rakyatnya. Seorang suami yang sombong akan sewenang-wenang kepada istrinya. Seorang ulama yang sombong akan menyesatkan umatnya. Bahkan seorang hamba yang sombong kepada Tuhannya akan menolak kebenaran meskipun ia tahu itu benar.
Terapinya adalah dengan takbir—mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Setiap kali seorang hamba mengucapkan Allahu Akbar, ia sedang mendeklarasikan perang terhadap egonya sendiri. Ia sedang mengakui bahwa hanya Allah yang besar, dan dirinya hanyalah kecil. Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menulis bahwa takbir dalam shalat adalah “deklarasi perang terhadap ego.” Setiap perpindahan gerakan dalam shalat diiringi oleh takbir, seakan-akan Allah ingin mengingatkan kita berkali-kali: jangan sombong, jangan sombong, jangan sombong. Engkau bukan apa-apa. Hanya Aku yang Maha Besar.
Demikian pula dengan kekuasaan. Manusia selalu ingin berkuasa. Ia ingin mengendalikan orang lain, mengendalikan keadaan, mengendalikan nasibnya sendiri. Tetapi seberapa pun tinggi kekuasaannya, ia tetaplah makhluk yang lemah. Fir’aun adalah contoh paling ekstrem dari ambisi kekuasaan. Ia mengaku sebagai tuhan, dan ia membunuh ribuan bayi laki-laki hanya untuk mempertahankan tahtanya. Tetapi pada akhirnya, ia tenggelam di Laut Merah, dan mayatnya diabadikan oleh Allah sebagai pelajaran bagi umat manusia. “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” (QS. Yunus: 92).
Dengan terus-menerus mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, seorang hamba belajar untuk melepaskan klaimnya atas kedua sifat itu. Ia mulai merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Bahwa ilmu, harta, dan jabatannya hanyalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Bahwa segala kekuasaan adalah milik Allah, dan manusia hanyalah khalifah yang menjalankan titah-Nya.
Mengesakan Allah: Obat bagi Sakit Mencari Sekutu
”Mengapa engkau harus meng-ESA-kan Aku? Karena sifatmu selalu ingin mencari sekutu lain selain Aku.”
Ini adalah diagnosis tentang akar dari segala dosa: syirik. Secara fitrah, manusia bertauhid. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa hanya ada satu Tuhan. Tetapi hawa nafsunya selalu mendorongnya untuk mencari sekutu—baik itu berupa berhala yang terbuat dari batu, harta yang dikumpulkan dengan susah payah, jabatan yang diperjuangkan mati-matian, atau bahkan egonya sendiri. Al-Qur’an menegaskan: “Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan mereka mempersekutukan-Nya” (QS. Yusuf: 106).
Para mufasir sufi menjelaskan bahwa “mempersekutukan” di sini tidak hanya berarti menyembah berhala secara terang-terangan. Syirik khafi—syirik yang tersembunyi—jauh lebih berbahaya dan lebih banyak menjangkiti umat manusia. Syirik khafi adalah ketika seseorang menyandarkan hatinya kepada selain Allah. Ketika ia merasa aman karena memiliki tabungan yang banyak, itu adalah syirik khafi. Ketika ia merasa tenang karena memiliki jabatan yang tinggi, itu adalah syirik khafi. Ketika ia merasa bangga karena dipuji orang, itu adalah syirik khafi. Semua itu adalah bentuk penyekutuan, karena ia telah menjadikan sesuatu selain Allah sebagai sandaran hatinya.
Terapinya adalah dengan tahlil—mengucapkan La ilaha illa Allah, tiada Tuhan selain Allah. Kalimat tauhid ini adalah pembersih dari segala bentuk syirik, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Setiap kali seorang hamba mengucapkannya dengan kesadaran, ia sedang memutuskan rantai-rantai ketergantungan kepada selain Allah. Ia sedang mengikrarkan bahwa hanya Allah yang menjadi sandarannya, hanya Allah yang menjadi tujuannya, hanya Allah yang menjadi harapannya.
Nabi Saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illa Allah dengan ikhlas, maka ia akan masuk surga” (HR. Ahmad). Ikhlas di sini berarti tidak ada lagi sekutu di dalam hatinya. Tidak ada lagi berhala yang ia sembah secara sembunyi-sembunyi. Hatinya telah murni, hanya menghadap kepada Allah.
Menyembah Allah: Obat bagi Sakit Ingin Disembah
”Mengapa engkau harus menyembah-Ku? Karena dirimu ingin disembah.”
Bait ini adalah yang paling dalam dan paling menggetarkan. Ia menyingkapkan rahasia yang paling gelap dalam jiwa manusia: keinginan untuk disembah. Secara tersembunyi, setiap manusia ingin dihormati, diagungkan, dituruti perintahnya. Ia ingin menjadi pusat perhatian, pusat kekuasaan, pusat dari segala sesuatu. Dalam skala yang paling ekstrem, keinginan ini melahirkan Fir’aun-Fir’aun kecil di setiap zaman. Tetapi bahkan dalam skala yang paling halus sekalipun, keinginan ini tetap ada. Setiap kali seorang suami marah karena istrinya tidak menuruti perintahnya, di situ ada bibit keinginan untuk disembah. Setiap kali seorang atasan tersinggung karena bawahannya mengkritiknya, di situ ada bibit keinginan untuk disembah. Setiap kali seorang ulama merasa lebih suci dari yang lain, di situ ada bibit keinginan untuk disembah.
Para sufi menyebut penyakit ini dengan rububiyyah khafiyyah—sifat ketuhanan yang tersembunyi. Ia adalah warisan dari iblis, yang menolak bersujud kepada Adam karena merasa lebih tinggi. Dan penyakit ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ‘ubudiyyah—penghambaan yang total. Dengan bersujud, rukuk, dan merendahkan diri di hadapan Allah, seorang hamba melatih dirinya untuk tunduk. Setiap sujud adalah pukulan telak terhadap ego yang ingin disembah. Setiap kali dahi menyentuh tanah—tanah yang sama yang suatu saat akan menutupi jasadnya—ia diingatkan bahwa dirinya bukanlah apa-apa.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam kisah seorang wali yang setiap kali sujud, ia berdoa: “Ya Allah, aku letakkan dahiku di atas tanah ini sebagai pengakuan bahwa aku adalah hamba-Mu yang hina. Janganlah Engkau biarkan aku termasuk orang-orang yang menyembah dirinya sendiri.” Doa ini adalah cermin dari kesadaran yang mendalam bahwa manusia, pada hakikatnya, adalah makhluk yang lemah, hina, dan tidak berdaya. Hanya Allah yang layak disembah. Hanya Allah yang layak diagungkan.
Larangan Sombong: Karena Hanya Allah yang Berhak
”Mengapa engkau tidak boleh sombong? Karena yang berhak untuk sombong adalah Aku.”
Penutup syair ini adalah puncak dari seluruh perjalanan. Kesombongan adalah sifat khusus Allah, al-Mutakabbir. Ketika manusia sombong, ia sedang mencuri “pakaian” Allah. Nabi Saw. bersabda dalam hadis qudsi: “Kesombongan adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa merebut salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke neraka” (HR. Muslim). Maka, seluruh perjalanan spiritual adalah proses takhalli—mengosongkan diri dari sifat-sifat yang seharusnya hanya dimiliki Allah. Manusia harus melepaskan kesombongannya, kebesarannya, kekuasaannya, keinginannya untuk dipuji dan disembah—karena semua itu hanyalah milik Allah. Ketika semua sifat “tuhan palsu” itu telah dilepaskan, yang tersisa hanyalah al-Haqq yang sejati.
Puncak Perjalanan: Fana’ ul-Fana’
Di puncak perjalanan ini, setelah seluruh sifat negatif dilepaskan dan seluruh sifat positif diakui sebagai milik Allah, masih ada satu langkah terakhir: fana’ ul-fana’. Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, bahkan kesadaran “aku telah melepaskan,” “aku telah menyucikan diri,” “aku telah fana’” dihapuskan. Tidak ada lagi “aku” yang melepaskan, tidak ada lagi “aku” yang menyembah, tidak ada lagi “aku” yang mengesakan. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah al-Haqq. Jalan yang sunyi itu kini sepenuhnya sunyi dari “aku”—dan sepenuhnya penuh dengan Dia.
Ibnu ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu.” Dalam konteks syair ini, fana’ ul-fana’ adalah ketika seluruh perintah dan larangan tidak lagi dirasakan sebagai beban, karena tidak ada lagi “aku” yang merasa terbebani.


