Krisis Chip Semi-Konduktor, Siap-Siap Harga Mobil Meroket

SURABAYAONLINE.CO – Harga chip semikonduktor di seluruh dunia diperkirakan akan melonjak di seluruh spektrum, mengingat adanya kekurangan pasokan chip secara global. Kondisi ini diproyeksikan bisa berlangsung hingga akhir 2022.

Moody’s Analytics mengatakan tren bekerja jarak jauh (work from home) meningkat karena pembatasan pergerakan Covid-19 menjadi salah satu penyebab tingginya permintaan chip semikonduktor. Pada masa ini masing-masing individu diharuskan memiliki perangkat kerja sendiri untuk menunjang aktivitas di rumah.

“Mengingat proses produksi mereka yang padat modal, pasokan belum mampu mengimbangi peningkatan permintaan,” tulis Moody’s Analytics, dikutip dari Malay Mail, Selasa (21/9).

Disebutkan bahwa pembuat chip terbesar di dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co, telah menaikkan harga di seluruh spektrum hingga 20%. Sementara tiga pembuat chip asal China telah didenda oleh pemerintah negara tersebut karena kenaikan harga yang sangat tinggi.

“Harga chip sudah naik, dan kemungkinan akan naik lebih jauh,” ungkapnya.

“Apa saja efek hilir dari dinamika harga dan kuantitas ini? Harga mobil telah meningkat secara signifikan, dengan penjualan unit rata-rata US$ 8.200 lebih tinggi dari dua tahun lalu, dan kami dapat memperkirakan bisa lebih dari itu”.

Moody’s Analytics mencatat bahwa indeks harga produsen manufaktur (PPI) China melonjak, dan efek serupa dapat dilihat di PPI manufaktur lainnya di seluruh dunia.

“Dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sebagian besar negara yang memiliki kemampuan produksi chip yang signifikan turun dari waktu ke waktu, kami dapat memperkirakan kekurangan tersebut akan bertahan untuk sementara waktu dan harus bersiap untuk perjalanan yang bergelombang ke depan,” tulis Moody’s Analytics.