Terlalu Sering Meeting Online Dapat Memicu Dismorfia Zoom

SURABAYAONLINE.CO – Sejak pandemi covid-19, segala aktivitas sekolah dan pekerjaan terpaksa harus dilakukan secara daring. Proses pembelajaran hingga rapat dilakukan melalui percapakan virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet dan lainnya.

Kebanyakan orang terpaksa menghabiskan banyak waktu untuk melakukan pertemuan virtual. Baik dalam interaksi yang bersifat personal hingga untuk kebutuhan kerja dan belajar. Bagi sebagian orang, aktivitas percakapan virtual bisa dilakukan hingga berjam-jam dalam sehari.

Akibatnya, sebagian orang yang melakukan aktivitas tersebut terancam mengidap gangguan Dismorfia Zoom. Dismorfia Zoom merupakan kondisi seseorang yang merasa insecure atau tidak percaya diri hingga mengubah persepsi dalam melihat diri sendiri.

Berdasarkan studi dari International Journal of Women Dermatology, Dismorfia Zoom merupakan gangguan kesehatan mental yang mengakibatkan seseorang mudah khawatir dan cemas akan penampilan fisik aslinya di dunia nyata berbeda dengan penampilan dalam dunia virtual.

Rasa khawatir ini timbul dari seringnya seseorang menggunakan platform video call dengan memanfaatkan filter sebagai alat dalam memoles dan mempercantik diri agar lebih percaya diri saat dipandang oleh orang lain.

Studi tersebut juga menjelaskan bahwa gangguan Dismorfia Zoom rawan terjadi pada periode umur 18 – 24 Tahun, khususnya terhadap perempuan.

Dikutip melalui The Guardian, Dr. Shadi Kourosh seorang dokter kulit dan profesor Harvard Medical School mengatakan,” Saya khawatir apabila waktu yang dihabiskan untuk kamera akan berdampak negatif pada persepsi seseorang tentang penampilan mereka.”

Menurutnya, kebanyakan orang tidak menyadari kalau sebenarnya tampilan melalui kamera mendistori jati diri mereka. Sehingga apa yang ditampilkan oleh kamera tidak bisa mewakilkan jati diri yang sebenarnya.

Selain itu, menurutnya dengan peningkatan waktu didepan kamera dan adanya penggunaan filter, memicu respon bawah sadar yang unik pada diri seseorang.

“Di samping itu, menghabiskan banyak waktu di sosial media dengan melihat gambar orang lain yang sudah diedit, menimbulkan perbandingan yang tidak sehat dengan gambaran diri sendiri di depan kamera. Bagi kami sebenarnya hasil kamera sudah terdistorsi dan bukan refleksi dari kenyataan yang sebenarnya,” ujar Kourosh.

Oleh karena itu, sebaiknya hindari rasa khawatir dan cemas akan penampilan. Percaya diri menjadi sesuatu yang seharusnya dilakukan. Hati-hati dengan Dismorfia Zoom, lakukan percakapan virtual dengan secukupnya. (Vega)