Ketua Apindo: Pemberian THR Bak Buah Simalakama

SURABAYAONLINE.CO-Ramadhan memasuki hari ke 24 ,Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja/buruh merupakan tradisi dan sebagai salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan pekerja/buruh dan keluarganya dalam merayakan Hari Raya Keagamaan. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan aspek kesejahteraan dan perlindungan bagi para pekerja.

Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan yang harus diberikan oleh pengusaha kepada pekerja minimal 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1442 H tahun ini dirasa memberatkan bagi pengusaha, namun peraturan tersebut tetap harus dipatuhi oleh seluruh pengusaha yang ada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sidoarjo.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sidoarjo H .Sukiyanto mengatakan bahwa keberatan para pengusaha khususnya yang berada di industri Sidoarjo bukan tanpa alasan. Menurutnya keberatan Apindo berdasar pada masih banyaknya perusahaan yang belum stabil akibat pandemi covid19 yang sudah memasuki tahun ke dua

“Agak berat kami sebagai pengusaha dengan adanya pandemic covid19 di tahun ke dua ini. Pada prinsipnya pengusaha tidak mau melanggar, kami berusaha semaksimal mungkin mematuhi aturan yang dibuat pemerintah terkait pemberian THR,” kata H .Sukiyanto,di kantornya Kamis (6/5) .

Sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, THR Keagamaan merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha.

H.Sukiyanto memaparkan bahwa para pengusaha yang tergabung dalam naungan Apindo tidak punya pilihan lain kecuali tetap melaksanakan kewajibannya memberi THR kepada para pekerja minimal 7 hari sebelum Hari Raya tahun ini.

H .Sukiyanto menambahkan bahwa sebelumnya ada wacana dari para kumpulan pengusaha terkait usulan untuk pemberian THR dengan cara dicicil, namun hal tersebut dinilai sulit untuk direalisasikan di kalangan buruh atau pekerja.

“Maksud hati memeluk gunung apa daya, kalo memang ada teman-teman dari pengusaha membayar THR dicicil atau bertahap. Itu semata-mata meraka tidak mau membayar atau melanggar undang-undang karena memang kondisi riilnya yang harus melakukan itu. Tapi langkah alternatifnya itu kayaknya sulit diterima kalangan pekerja,” papar H.Sukiyanto.

Masih dikatakan pria yang memiliki hoby kendaraan gede ini, menjelaskan para pengusaha punya gengsi. Karena pengusaha yang dijual kepercayaan, jika banyak orang mengetahui perusahaan tidak bisa membayar THR. Bagaimana menghadapi kepercayaan dari pihak luar.

“Mangkanya simalakama, kalo kita ngomong terus terang kita tidak mampu bayar. Tentunya pihak-pihak dari rekanan kami akan memandang sebelah mata. Dan pasti bilang ati-ati berhubungan dengan perusahaan yang tidak mampu membayar THR. Semoga Covid segera bisa reda serta aktifitas kembali Normal ,Tutup H Sukiyanto .(Rino Tutuko)