Soal Limbah di Gresik Perusahaan Harus Laksanakan EPR

SURABAYAONLINE.CO-Fakta temuan Ecoton, dibeberapa kec. Di gresik (Bungah, Sidayu, Manyar, Pangkah- benjeng, Balongpanggang, Wringinanom, Driyorejo dan Menganti)
1. Pembakaran sampah terbuka ( open burning), dilarang dalam UU 18/2008 karena pembakaran sampah akan menghasilkan senyawa dioksin dan furan yang bersifat karsinogen
2. Pelayanan sampah di Gresik kurang dari 30% penduduk, sehingga banyak ditemukan sampah menumpuk.di sungai (Bengawan Solo, Brantas, Lamong dan Manyar).
3. Beberapa pemerintah desa yang padat penduduk berinisiatif membuat tungku bakar utk membakar sampah, padahal aktivitas bakar sampah jelas dilarang UU 18/2008
4. Komposisi sampah 60-70% adalah sampah organik yang bisa dikomposkan, 20% sampah yang bisa didaur ulang seperti kertas karton, kaleng, plastik botol, 1o% sampah yang bisa dipakai kembali seperti kayu, besi, kawat, kaleng dll, sisanya sekitar 8-10% adalah sampah residu berupa SACHET, Popok

Usulan Ecoton adalah memilah sampah sejak dari rumah karena 60-70% sampah bisa dijadikan kompos, sedangkan yang jadi masalah adalah sampah residu berupa sachet yang tidak bisa didaur ulang, PRODUSEN Consumer good seperti Unilever, Wings Group, Indofood dan industri makanan packaging seperti Mayora, Orangtua, Nabati, Garudafood dll harus ikut bertanggungjawab atas sampah sachet yang mereka hasilkan, dalam UU 18/2008 tanggungjawab ini disebut EPR extendeed producen responsibility

Waktunya masyarakat mengurangi pemakaian plastik sekali pakai (sachet, tas kresek, sedotan, styrofoam dan botol plastik) karena pemkab belum mampu mengelola sampah dengan baik. Di gresik timbunan sampah mudah ditemukan di pantai, sungai dan rawa.(*)