Carut Marut Penangganan Covid 19 Pemkot Malang

SURABAYAONLINE.CO+Malang (Jatim) – Beredarnya video penangganan covid 19 dengan logo pemerintah kota Malang yang beredar melalui IG menuai berbagai pendapat.

Salah satunya diungkapkan oleh relawan HGTT Romadony yang menyampaikan pada awak media bahwa peredaran video tersebut membuat keresahan dan ketakutan pada masyarakat terkait masalah virus covid 19 padahal pada saat ini bansos dari Pemkot Malang belum sepenuhnya didapat warga kota Malang yang terdampak secara ekonomi karena kasus pandemi ini maka mereka masih harus melakukan aktifitas pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Dari laporan yang masuk pada awak media maka tadi malam (04/05/2020) kami mencoba menelusuri peredaran video tersebut kepada beberapa pihak melalui telepon dan pesan WA diantaranya adalah kepada Kepala Bagian Humas Pemkot Malang Nur Widianto yang menyatakan ” video itu dari rekan PSC 119 kaitan itu mungkin sedikit bisa saya fahami video dari rekan PSC 119 itu karena beban moral dan resisstensi serta begitu rentannya mereka sehingga muncul pesan tersebut.

Saat lebih jauh kami bertanya tentang apakah Pemkot memiliki bukti medis dari istansi terkait terhadap semua korban warga kota Malang yang dinyatakan meninggal akibat covid 19 ?
“Mohon diluruskan Mbak, Pemkot tidak pada posisi menentukan, itu otoritas RS dan diatur dalam Permenkes dan bahasanya tdk diduga karena covid, bahasa yang dipergunakan adalah PDP yang meninggal.
Setiap PDP meninggal mengikuti prosedur covid 19,ini berat tapi realitanya diatur demikian karenanya edukasi terus menerus jadi penting.

Soal warga yang merasa takut dan masih harus bekerja karena kondisi ekonomi mereka serta belum menerima bansos sebenarnya bansos ada mbak tapi masih dilekatkan pada pendataan warga yang berprofesi sebagai pedagang informal dan Pak Wali juga perintahkan daftar penerima bantuan bisa ditayang di sekretariat satgas sehingga sewaktu-waktu bisa dilihat dan dicermati.
Pun demikian untuk data keluarga pra sejahtera, sejak awal petugas kessos pasti melalui RT /RW, tidak mungkin cover sendiri” jelasnya

Sementara saat kami menghubungi pihak PSC 119 koordinator lapangan PSC 119 dinas kesehatan kota Malang Dhana Setiawan memberikan klarifikasi ” logo pada video itu adalah logo dinas kesehatan kota Malang karena kami memang adalah lembaga penanggulangan covid 19 yang resmi dibentuk oleh pemerintah kota Malang dan berada di bawah dinas kesehatan kota Malang langsung dan maksud penayangan tersebut bukan untuk menakuti masyarakat tapi untuk memberikan edukasi pada masyarakat karena kami sebagai lembaga yang harusnya menjadi relawan yang quick respon dengan tenggat waktu 15 menit begitu kami menerima laporan dari masyarakat melalui telepon tapi dari banyak kasus yang kami alami mereka yang melapor ini tidak memberitahukan dengan jelas kondisi kesehatan korban sehingga kami harus menggunakan APD pada saat sudah ada TKP padahal itu sangat berisiko untuk para petugas dari itulah maka kami membuat video tersebut dan menyebarluaskannya pada masyarakat.

Selain itu kami sebagai relawan banyak menemui berbagai kesulitan seperti biaya pemulasaran ODP yang meninggal dunia di RS untuk biaya pemulasaran itu dari RS sebesar kurang lebih Rp.2.400 ribu per jenasah dan biaya itu tidak ditanggung oleh pemerintah begitu pula dengan biaya pemakaman itu kurang lebih antara 1 juta setengah sampai 2 juta itu juga tidak ada yang menanggung seperti contoh 3 kematian pasien yang diduga karena covid kemarin saya pribadi akhirnya yang membuat surat perjanjian dengan pihak RS untuk jenasah bisa dilakukan pemulasaran dan pemakaman serta biayanya akan kami coba komunikasikan dengan pihak Pemda.

Kami sudah melaporkan kepada ketua dewan,wakil walikota dan kepala dinas kesehatan namun sampai saat ini belum ada solusi masalah tersebut ini sangat memberatkan untuk kami.

Kami ini bekerja dengan resiko tinggi tapi data zona wilayah yang terdampak corona di kota Malang saja kami tidak diberitahu datanya oleh dinas kesehatan apalagi kalau sampeyan tanya soal jumlah korban yang positif kami tidak memiliki data faktual tentang itu.
Kami berharap untuk pekerjaan kami ini didukung lah oleh semua pihak baik itu dinas terkait,masyarakat dan pemerintah kota Malang karena petugas kami juga punya resiko yang besar dalam menanggani kasus penyebaran covid 19 dikota Malang bisa dilihat informasi dari berbagai media berapa banyak petugas yang harus meninggal akibat tertular virus ini maka kami berharap ini tidak terjadi pada petugas PSC 119 yang ada dikota Malang” keluhnya(Hermin/Red)