Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah zaman yang gelisah, ketika manusia berlomba-lomba meramal masa depan dengan data, algoritma, dan proyeksi, ada sebuah paradoks yang semakin tajam menganga: semakin banyak kita merencanakan, semakin dalam pula kecemasan kita. Kita hidup di era perencanaan yang paling canggih dalam sejarah peradaban—anggaran disusun bertahun-tahun ke depan, karier dirancang sejak bangku kuliah, bahkan jodoh dihitung dengan aplikasi dan kecocokan psikologis. Namun, lihatlah di sekeliling. Pernahkah manusia segelisah ini? Pernahkah kita begitu takut pada hari esok, begitu cemas pada hal-hal yang belum terjadi, begitu panik ketika rencana melenceng sedikit saja?
Seorang arif pernah melantunkan syair yang seakan menjawab kegelisahan zaman ini. Syair itu bukanlah ramalan, bukan pula strategi manajemen risiko. Ia adalah peta ruhani yang menuntun kita dari rimba ketidakpastian menuju pelabuhan ketenangan:
”Bagi umat manusia yang belum menemukan kepastian akan NASIBNYA, sungguh mereka akan selalu berubah-ubah, dan itu adalah NASIBNYA. Apakah Nasib mereka berubah-ubah karena mengikuti ketetapan Tuhannya? (taqdirnya), ataukah Nasib mereka berubah-ubah karena diikuti ketetapan Tuhannya? (taqdirnya). Jika dirimu mengikuti Taqdirmu atau mengikuti ketetapan Tuhanmu, niscaya dirimu akan bertemu dengan kepastian NASIBMU. Bukankah hidup dengan membawa kepastian yang hakiki adalah keselamatan? Tapi jika Taqdirmu / ketetapan Tuhanmu mengikuti dirimu, niscaya NASIBMU tidak akan pernah bertemu dengan kepastian-Nya.”
Syair ini membuka sebuah pertanyaan yang jarang diajukan oleh manusia modern: siapakah yang mengikuti siapa? Apakah kita yang mengikuti taqdir, atau justru kita memaksa taqdir mengikuti kita? Dan dari jawaban atas pertanyaan itulah, nasib kita ditentukan—bukan nasib dalam arti kekayaan atau kemiskinan, tetapi nasib dalam arti yang paling fundamental: apakah kita akan hidup dalam ketenangan atau dalam kesengsaraan batin.
Paradoks Nasib yang Selalu Berubah
Kalimat pertama syair itu sudah cukup untuk mengguncang: ”Bagi umat manusia yang belum menemukan kepastian akan NASIBNYA, sungguh mereka akan selalu berubah-ubah, dan itu adalah NASIBNYA.” Ada paradoks yang menohok di sini. Orang yang tidak memiliki kepastian, nasibnya justru adalah ketidakpastian itu sendiri. Perubahan yang terus-menerus—itulah nasibnya. Ia seperti kapal tanpa jangkar, terombang-ambing oleh setiap gelombang, tidak pernah berlabuh, tidak pernah sampai.
Dalam perspektif tasawuf, jiwa yang selalu berubah-ubah adalah cerminan dari nafs yang belum mencapai ketenangan. Al-Qur’an menyebut nafs muthma’innah—jiwa yang tenang—sebagai tujuan akhir perjalanan ruhani. Jiwa ini dipanggil dengan mesra oleh Allah: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai” (QS. Al-Fajr: 27-28). Tetapi sebelum mencapai itu, jiwa manusia harus melewati dua tingkatan yang lebih rendah: nafs ammarah (jiwa yang memerintahkan keburukan) dan nafs lawwamah (jiwa yang mencela). Jiwa yang gelisah, yang nasibnya selalu berubah-ubah, adalah jiwa yang masih terombang-ambing di antara keduanya. Ia belum menemukan ithmi’nan—ketenangan yang menjadi dambaan setiap musafir ruhani.
Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa hati yang tidak tenang adalah hati yang belum sepenuhnya bertawakal. Ia masih terikat oleh sebab-sebab lahiriah. Ia masih percaya bahwa rezeki ditentukan oleh pekerjaan, bahwa kesehatan ditentukan oleh obat, bahwa masa depan ditentukan oleh rencana. Padahal, semua itu hanyalah perantara. Pekerjaan hanyalah sebab, tetapi yang memberi rezeki adalah al-Razzaq. Obat hanyalah wasilah, tetapi yang menyembuhkan adalah al-Syafi. Rencana hanyalah ikhtiar, tetapi yang menentukan hasil adalah al-Qadir. Selama hati masih terpaku pada sebab-sebab, ia akan selalu gelisah, karena sebab-sebab itu fana’—ia bisa hilang, berubah, atau meleset.
Siapa Mengikuti Siapa?
Inti dari syair ini adalah pertanyaan yang sangat filosofis dan sangat spiritual: ”Apakah Nasib mereka berubah-ubah karena mengikuti ketetapan Tuhannya? (taqdirnya), ataukah Nasib mereka berubah-ubah karena diikuti ketetapan Tuhannya? (taqdirnya).” Ini bukan sekadar permainan kata. Ini adalah pertanyaan tentang arah hubungan antara manusia dan Tuhannya. Siapa yang menjadi pusat? Kehendak siapa yang menjadi poros?
Dalam teologi Islam, taqdir adalah ketetapan Allah yang azali, yang tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan alam semesta. “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya” (QS. Al-Hadid: 22). Taqdir adalah cetak biru Ilahi. Ia adalah peta yang tak tergambar oleh tangan manusia. Manusia tidak bisa mengubahnya, tetapi manusia bisa memilih bagaimana ia menyikapinya.
Di sinilah letak perbedaan antara dua jalan yang ditawarkan oleh syair ini. Jalan pertama: dirimu mengikuti taqdir. Ini adalah jalan taslim, penyerahan diri. Seorang hamba yang mengikuti taqdir adalah ia yang menyesuaikan langkahnya dengan Kehendak Ilahi. Ia tetap berusaha, tetap bekerja, tetap merencanakan—tetapi hatinya tidak terikat pada hasil. Ia berenang mengikuti arus, bukan melawan arus. Ia seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, mengikuti gravitasi yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Jalan kedua: taqdir mengikuti dirimu. Ini adalah jalan tamarrud, pemberontakan yang halus. Seorang hamba yang memaksa taqdir mengikutinya adalah ia yang ingin agar Allah menyesuaikan ketetapan-Nya dengan keinginannya sendiri. Ia berdoa bukan untuk meminta bimbingan, tetapi untuk memaksakan kehendaknya. Ia berusaha bukan sebagai ikhtiar, tetapi sebagai upaya untuk “mengubah nasib” dengan tangannya sendiri. Ia adalah perencana yang ingin menjadi Tuhan atas takdirnya sendiri.
Syair ini dengan tegas menyatakan bahwa jalan pertama akan membawa kepada kepastian, sedangkan jalan kedua akan membawa kepada keraguan dan kesengsaraan. “Jika dirimu mengikuti Taqdirmu, niscaya dirimu akan bertemu dengan kepastian NASIBMU. Tapi jika Taqdirmu mengikuti dirimu, niscaya NASIBMU tidak akan pernah bertemu dengan kepastian-Nya.”
Mengapa demikian? Karena taqdir Allah adalah pasti, sementara keinginan manusia selalu berubah. Jika kita mengikuti taqdir, kita berlabuh pada sesuatu yang kokoh. Jika taqdir yang kita paksa mengikuti kita, kita berlabuh pada sesuatu yang rapuh—yaitu diri kita sendiri. Dan diri kita sendiri, sebagaimana disadari oleh para sufi, adalah ‘adam—ketiadaan. Ia tidak memiliki kekuatan apa pun. Maka, menyandarkan nasib kepada keinginan diri sendiri adalah seperti membangun rumah di atas fatamorgana.
Keraguan sebagai Sumber Penderitaan
Syair itu melanjutkan dengan rentetan pertanyaan retoris yang menusuk: ”Bukankah hidup yang tidak memiliki kepastian akan membawa diri kita hidup dalam keraguan? Bukankah hidup dengan keraguan adalah kepahitan atau kesengsaraan?”
Keraguan—syakk dalam bahasa Arab—adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dalam tradisi tasawuf. Ia adalah lawan dari yaqin (keyakinan). Orang yang ragu-ragu terhadap taqdir akan selalu diliputi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa: “Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa dia yang sukses, bukan aku? Mengapa usahaku gagal? Mengapa doaku belum dikabulkan?” Pertanyaan-pertanyaan ini, jika terus dipelihara, akan berubah menjadi racun yang menggerogoti ketenangan batin.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa yaqin adalah fondasi dari seluruh maqam spiritual. Tanpa yaqin, seorang hamba tidak akan bisa mencapai ma’rifah, karena hatinya selalu dipenuhi oleh keraguan dan kegelisahan. Yaqin adalah cahaya yang menerangi jalan. Ketika cahaya itu padam, yang tersisa hanyalah kegelapan—dan dalam kegelapan itulah manusia meraba-raba, tersesat, dan akhirnya jatuh ke dalam jurang kesengsaraan.
Psikologi modern mungkin akan menyebutnya sebagai existential anxiety—kecemasan eksistensial. Manusia yang tidak memiliki keyakinan yang kokoh tentang makna hidup dan arah takdirnya akan selalu dihantui oleh perasaan hampa. Ia mungkin sibuk, mungkin produktif, mungkin sukses secara lahiriah—tetapi di dalam batinnya, ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh harta, jabatan, atau pujian. Kekosongan itu adalah kerinduan akan kepastian, kerinduan yang hanya bisa dipenuhi oleh yaqin kepada Allah.
Kesombongan: Akar dari Pemberontakan terhadap Taqdir
Syair ini kemudian menyingkap akar dari semua kegelisahan ini: ”Bukankah kesengsaraan adalah buah dari kecelakaan hidup? Kecelakaan bagi orang-orang yang lupa akan dirinya yang lemah tiada berdaya, mereka lupa karena kesombongannya. Mereka seakan-akan mampu (kuasa) merubah akan nasibnya. Sungguh mereka hanya mampu merubah untuk dirubah, begitulah NASIB mereka yang selalu berubah-ubah.”
Di sinilah letak diagnosis spiritual yang paling tajam. Akar dari pemberontakan terhadap taqdir adalah kesombongan. Orang sombong lupa bahwa dirinya lemah. Ia lupa bahwa ia adalah ‘abd—hamba—yang diciptakan dari tanah, yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan Allah. Ia merasa bahwa ia adalah rabb—tuan—atas nasibnya sendiri. Ia mengira bahwa dengan kecerdasannya, dengan kerja kerasnya, dengan strateginya, ia bisa mengendalikan segalanya.
Al-Ghazali menulis bahwa kibr adalah penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia adalah penyakit yang membuat seseorang tidak sadar bahwa ia sakit. Orang sombong tidak merasa perlu bertobat, karena ia merasa dirinya sudah benar. Ia tidak merasa perlu berserah diri, karena ia merasa dirinya sudah mampu. Fir’aun—yang kisahnya menjadi arketipe kesombongan dalam Al-Qur’an—adalah contoh paling ekstrem dari hal ini. Ia mengaku sebagai Tuhan. Ia merasa tidak membutuhkan siapa pun. Dan lihatlah bagaimana akhirnya: ia tenggelam di Laut Merah, bersama seluruh kesombongannya.
Syair ini menegaskan ironi yang getir: ”Mereka hanya mampu merubah untuk dirubah, begitulah NASIB mereka yang selalu berubah-ubah.” Orang yang berusaha mengubah taqdir pada akhirnya hanya berputar-putar. Mereka berubah dari satu keadaan ke keadaan lain, dari satu rencana ke rencana lain, dari satu strategi ke strategi lain—tetapi tidak pernah menemukan ketenangan. Mereka seperti tupai yang berlari di dalam roda: terus bergerak, tetapi tidak pernah sampai ke mana-mana. Nasib mereka adalah perubahan itu sendiri. Itulah hukum spiritual yang tak terelakkan: barang siapa tidak mau tunduk kepada Yang Maha Tetap, ia akan diombang-ambingkan oleh yang berubah-ubah.
Air yang Mengalir ke Muara: Metafora Ibadah yang Sejati
Setelah melukiskan kegelapan, syair ini memberikan jalan keluar yang sangat puitis dan mendalam: ”Sebaik-baiknya amaliyah ibadah adalah amaliyah ibadah yang mengikuti ketetapan-Nya, seperti air mengalir sampai muara. Mereka akan berlabuh pada pelabuhan yang sesungguhnya, itulah pelabuhan ketenangan, yang di dalamnya terdapat kepastian akan keselamatan.”
Metafora air yang mengalir ke muara adalah salah satu gambaran paling indah dalam khazanah tasawuf. Air tidak melawan gravitasi. Ia tidak memprotes jalannya. Ia tidak bertanya, “Mengapa aku harus melewati bebatuan ini? Mengapa aku harus jatuh dari air terjun? Mengapa aku harus berbelok-belok?” Ia hanya mengalir, mengikuti hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Ia menerima setiap belokan, setiap bebatuan, setiap lembah, sebagai bagian dari jalannya menuju muara. Dan pada akhirnya, ia sampai—bukan dengan memaksa, tetapi dengan mengikuti.
Demikian pula dengan ibadah yang sejati. Ibadah bukanlah alat untuk memaksa Allah mengubah taqdir. Bukanlah transaksi: “Aku shalat, maka Engkau harus memberiku rezeki.” Bukanlah negosiasi: “Aku berdoa, maka Engkau harus menyelamatkanku dari musibah.” Ibadah yang sejati adalah taslim—penyerahan diri. Setiap rukuk adalah pengakuan: “Aku tunduk kepada-Mu.” Setiap sujud adalah deklarasi: “Aku meletakkan kepala yang paling mulia di tubuhku ke tanah yang paling rendah, karena aku tahu bahwa diriku hanyalah debu.”
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa ‘ubudiyyah yang sejati adalah ketika seorang hamba “menyerahkan seluruh kehendaknya kepada Allah, sehingga tidak ada lagi kehendak dalam dirinya kecuali apa yang dikehendaki Allah.” Inilah muara yang dimaksud: pelabuhan ketenangan. Di pelabuhan itu, tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada lagi “mengapa.” Tidak ada lagi “kapan.” Yang ada hanyalah ridha—keridhaan yang sempurna terhadap apa pun yang Allah tetapkan.
Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ merekam banyak kisah para wali yang telah mencapai pelabuhan ini. Salah satunya adalah kisah seorang sufi yang ditanya, “Apakah engkau tidak ingin mengubah nasibmu?” Ia menjawab, “Aku sudah menyerahkan nasibku kepada yang lebih tahu. Bagaimana mungkin aku mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Bijaksana?” Ini bukanlah fatalisme. Ini adalah yaqin yang sempurna—keyakinan bahwa apapun yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik, meskipun akal manusia tidak mampu memahaminya.
Fana’ ul-Fana’: Melebur dalam Samudra Taqdir
Dalam tradisi tasawuf, puncak dari perjalanan ini adalah maqam fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap. Fana’ adalah proses peleburan ego, termasuk peleburan kehendak pribadi. Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menguraikan tiga tingkatan fana’: fana’ fi al-af’al (lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain Allah), fana’ fi al-sifat (lenyapnya penyaksian terhadap sifat selain Allah), dan fana’ fi al-dzat (lenyapnya penyaksian terhadap wujud selain Allah).
Ketika seorang hamba mencapai fana’, ia tidak lagi memiliki keinginan untuk “mengubah nasibnya sendiri.” Ia menyaksikan bahwa segala sesuatu—termasuk nasibnya—adalah af’al Allah. Ia tidak lagi protes, tidak lagi mengeluh. Ia seperti air yang mengalir, mengikuti gravitasi Ilahi tanpa perlawanan. Tetapi fana’ saja belum cukup. Setelah mencapai fana’, seorang hamba mungkin masih memiliki kesadaran: “Aku telah ridha. Aku telah menyerahkan nasibku kepada Allah.” Kesadaran ini adalah residu ego yang paling halus—’ujb khafi, kesombongan tersembunyi.
Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: penghancuran terhadap kesadaran kefanaan itu sendiri. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi merasa bahwa “aku mengikuti taqdir-Mu,” karena “aku” yang mengikuti telah lenyap. Ia tidak lagi berkata, “aku ridha,” karena “aku” yang ridha telah tiada. Yang ada hanyalah Allah: al-Qadir yang menetapkan taqdir, al-Hadi yang membimbing hamba-Nya, al-Hakim yang menetapkan hikmah di balik setiap ketetapan.
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu.” Air yang telah sampai ke muara tidak lagi merasa sebagai air. Ia telah menjadi laut. Geraknya adalah gerakan laut. Diamnya adalah diamnya laut. Inilah “pelabuhan ketenangan” yang sesungguhnya: bukan sekadar tempat berlabuh, tetapi tempat di mana sang musafir kehilangan dirinya dan menemukan Dia.
Tenangkanlah Dirimu
Syair ini diakhiri dengan kalimat yang sangat lembut, yang terasa seperti belaian di tengah badai: ”Sungguh Allah tidak merubahnya akan nasibmu, maka tenangkanlah dirimu.” Kalimat ini bukanlah undangan untuk berhenti berusaha. Ia adalah undangan untuk berhenti gelisah. Berhenti mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Berhenti menyesali hal-hal yang telah berlalu. Berhenti memaksa diri untuk menjadi Tuhan atas nasib sendiri.
Di zaman yang begitu bising dengan nasihat “kamu pasti bisa,” “ubah nasibmu sendiri,” dan “jadilah arsitek hidupmu,” kalimat ini adalah suara dari keheningan yang sangat kontra-kultural. Ia mengingatkan kita bahwa ada batas-batas yang tidak bisa kita lampaui. Bahwa kita bukanlah Tuhan, dan tidak perlu menjadi Tuhan. Cukuplah menjadi hamba. Menjadi hamba yang berusaha dengan jujur, lalu menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Menjadi hamba yang berenang mengikuti arus taqdir, bukan melawannya. Menjadi air yang mengalir menuju muara.
Di muara itu, semua pertanyaan akan terjawab—bukan dengan jawaban verbal, tetapi dengan ketenangan yang melampaui kata-kata. Semua keraguan akan sirna—bukan karena semua teka-teki terselesaikan, tetapi karena Sang Pencari telah melebur ke dalam Samudra Yang Dicari. Dan di samudra itu, tidak ada lagi nasib. Tidak ada lagi taqdir. Tidak ada lagi “aku” dan “Dia.” Yang ada hanyalah al-Haqq. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Maka, tenangkanlah dirimu. Ikutilah taqdir Tuhanmu. Dan berlabuhlah di pelabuhan yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


