Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
Ketika Sebuah Metafora Menjadi Filsafat Sejarah
SURABAYAONLINE.CO – Ada kalimat yang lahir sebagai ungkapan sederhana, tetapi usianya jauh melampaui yang mengucapkannya. Ia menolak dilupakan; ia berpindah dari satu kesadaran ke kesadaran lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, seolah memiliki kehidupan mandiri. Kalimat semacam itu bukan lagi sekadar rangkaian kata, ia berubah menjadi cara memandang dunia. Salah satunya adalah bisikan yang sering dikaitkan dengan pemikiran intelektual Indonesia, Soedjatmoko: “Ide punya kaki.”
Sekilas, ungkapan itu sederhana, seolah lahir dari percakapan santai. Namun justru dalam kesederhanaannya tersembunyi filsafat sejarah yang amat dalam. Jika benar ide memiliki kaki, maka gagasan tidak pernah benar-benar diam. Ia tidak terkurung di kepala penciptanya, tidak terpenjara di halaman buku, dan tidak mati ketika pengarangnya wafat. Sebaliknya, ia berjalan, berpindah, bermetamorfosis, menemukan rumah-rumah baru, bahkan sering kali melahirkan kenyataan yang tak pernah terbayangkan oleh pencetusnya.
Sejarah manusia sesungguhnya lebih sering digerakkan oleh gagasan daripada oleh pedang. Kekaisaran runtuh, dinasti berganti, mata uang berubah, dan perbatasan negara bergeser. Namun, ide-ide tertentu terus hidup melewati semua itu. Sebuah bangsa mungkin kehilangan wilayahnya, tetapi belum tentu kehilangan cita-citanya. Sebuah peradaban boleh roboh, tetapi nilai-nilai yang dilahirkannya tetap berjalan menembus zaman. Di titik inilah metafora Soedjatmoko memperoleh makna yang lebih besar daripada sekadar pujian terhadap kekuatan tulisan. Ia sedang berbicara tentang sifat ontologis dari gagasan: ide bukanlah benda mati, melainkan energi sosial yang terus-menerus mencari medium untuk mewujudkan dirinya.
Sejarah pun dipenuhi ironi yang membuktikan hal ini. Banyak pemikir besar wafat dalam kesunyian, tetapi gagasannya justru memperoleh kehidupan justru setelah kematiannya. Banyak penguasa berhasil membungkam lawan, tetapi gagal membunuh pikiran mereka. Banyak buku dibakar, tetapi isinya justru semakin dicari. Seolah-olah ada hukum diam-diam yang bekerja: semakin murni sebuah ide lahir dari pencarian kebenaran, semakin sulit ia dimusnahkan.
Ini bukanlah pandangan yang sepenuhnya baru. Plato telah membedakan dunia fisik yang fana dengan dunia ide yang abadi. Hegel melihat sejarah sebagai perjalanan Roh (Geist) menuju kesadaran diri melalui dialektika. Marx, yang mengkritik Hegel, justru secara paradoksal membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan gagasan: kritiknya terhadap kapitalisme menjadi salah satu ide paling berpengaruh dalam dua abad terakhir. Materialitas memang melahirkan ide, namun sejarah menunjukkan bahwa ide juga mampu kembali mengubah materialitas secara revolusioner.
Dengan demikian, “ide punya kaki” adalah pengakuan bahwa sejarah bergerak melalui hubungan timbal balik antara pikiran dan tindakan. Sebuah ide menjadi nyata bukan karena ia benar secara teoritis, melainkan karena ia menemukan “kaki”—medium yang membawanya berjalan ke dalam kehidupan. Kaki itu bisa berupa sekolah, konstitusi, teknologi, bahasa, lagu, film, algoritma media sosial, hingga kecerdasan buatan. Pertanyaan yang paling menentukan bagi sebuah peradaban bukanlah sekadar apakah sebuah ide itu benar, melainkan apakah ide itu memiliki kaki yang cukup kuat, lentur, dan tahan banting untuk melintasi ruang dan waktu.
Di sinilah Soedjatmoko memperlihatkan kedewasaan intelektualnya. Ia tidak percaya pada revolusi yang hanya mengandalkan kekuasaan, juga tidak sepenuhnya percaya bahwa pembangunan cukup melalui pertumbuhan ekonomi. Baginya, pembangunan hakikatnya adalah pembangunan kapasitas manusia untuk menghadapi perubahan. Ini adalah pandangan yang radikal, sebab perubahan tidak pernah dihadapi hanya dengan modal uang atau senjata, melainkan dengan gagasan. Bangsa yang berhenti melahirkan ide akan menjadi konsumen sejarah: menunggu inovasi, teori, dan model pembangunan dari luar, tanpa lagi menjadi subjek yang menggerakkan zaman.
Ontologi Kaki-Kaki Gagasan: Mengapa Sejarah Selalu Berjalan Bersama Ide?
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah: apa yang sesungguhnya membuat sebuah gagasan mampu bertahan selama berabad-abad, sementara gagasan lain lenyap dalam sekejap? Ini membawa kita pada ontologi gagasan—bagaimana sebuah ide hidup. Sejarah sering hanya dipandang sebagai kisah para raja dan penaklukan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, tokoh-tokoh itu hanyalah permukaan ombak. Arus yang menggerakkan ombak adalah gagasan. Kekuasaan adalah kendaraan, tetapi gagasan adalah pengemudinya.
“Kaki” dalam konteks ini adalah prinsip mobilitas dan daya jelajah. Ia bisa bersifat mekanis—seperti kaki sepatu lars militer yang berjalan melalui invasi dan propaganda—atau bersifat metabolis, yang meresap secara organik ke dalam sel-sel sosial melalui pendidikan, bahasa, dan kebudayaan. Kaki mekanis bergerak cepat dan gagah, tetapi rapuh; ia ambruk begitu kekuatan materialnya lenyap. Sebaliknya, kaki metabolis berjalan lambat, sering kali nyaris tak terlihat, tetapi daya tahannya ajaib. Ia berakar, menjadi bagian dari udara yang kita hirup, dan tetap bertahan bahkan setelah kekuasaan yang membawanya runtuh. Pax Americana mungkin goyah, tetapi “Impian Amerika” yang berjalan melalui Hollywood dan universitas-universitas Ivy League tetap bertahan sebagai kekuatan metabolis.
Di sinilah relevansi Antonio Gramsci menemukan bentuknya. Gramsci mengingatkan bahwa kekuasaan paling kokoh bukanlah yang bekerja melalui senjata, melainkan yang berhasil membuat pandangannya diterima sebagai kewajaran—sebuah hegemoni. Hegemoni adalah keadaan ketika sebuah ide telah menemukan kaki yang begitu kuat sehingga ia berjalan tanpa perlu lagi diperintah. Ia hidup dalam kurikulum, pemberitaan, percakapan keluarga, dan bahasa sehari-hari. Pada titik itu, ide tidak lagi tampak sebagai ide, melainkan berubah menjadi kenyataan yang dianggap alamiah.
Inilah sebabnya perebutan kekuasaan di abad ke-21 semakin bergeser dari penguasaan wilayah menuju penguasaan kesadaran. Abad ke-19 adalah perlombaan menguasai tanah, abad ke-20 menguasai industri, dan abad ke-21 adalah perang untuk menguasai perhatian, data, persepsi, dan kepercayaan publik. Medan perangnya bukan hanya parlemen, tetapi juga layar telepon genggam yang setiap hari kita genggam. Kaki-kaki gagasan kini berevolusi; dulu berjalan melalui kapal dagang dan kitab, kini bergerak melalui algoritma, platform digital, dan kecerdasan buatan dengan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Namun, kecepatan tidak identik dengan kedalaman. Ada perbedaan esensial antara gagasan yang viral dan gagasan yang berakar. Gagasan viral meledak hari ini dan dilupakan besok; ia dangkal. Gagasan yang berakar tumbuh perlahan melalui dialog, kritik, dan pematangan, justru itulah yang memiliki daya tahan lintas generasi. Di sinilah kita menghadapi paradoks zaman: banjir informasi justru menciptakan kelangkaan pemikiran. Manusia mengetahui semakin banyak fakta, tetapi semakin sedikit memiliki waktu untuk merenungkannya. Ruang publik digital yang seharusnya membuka partisipasi justru terfragmentasi ke dalam ruang-ruang gema (echo chambers) yang memperkuat prasangka. Maka, peradaban selalu diuji oleh kualitas percakapan yang mampu dipeliharanya. Ketika ruang dialog menyusut, ketika kritik dianggap ancaman, kaki-kaki ide mulai dipasung. Yang tersisa hanyalah gema slogan-slogan yang kehilangan daya hidup. Soedjatmoko, dengan kerendahan hatinya, mengingatkan kita bahwa argumen yang jernih memiliki kesabaran yang tidak dimiliki senjata. Senjata menaklukkan tubuh, tetapi gagasan mengubah kesadaran. Senjata mungkin memenangkan peperangan, tetapi hanya ide yang mampu memenangkan sejarah.
Geopolitik Gagasan: Ketika Peradaban Bertarung dengan Narasi
Jika pada masa lalu kekuatan imperium diukur dari luas wilayah dan jumlah armada perang, abad ke-21 menghadirkan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Pertarungan terbesar zaman kita tidak hanya berlangsung di Laut China Selatan, tetapi juga di dalam pikiran miliaran manusia. Ia bergerak melalui layar ponsel, kurikulum, film, standar teknologi, hingga bahasa ekonomi yang kita gunakan. Di titik ini, ungkapan “ide punya kaki” menemukan manifestasi geopolitiknya yang paling nyata. Sebuah ide hari ini berjalan di atas kabel serat optik, jaringan satelit, pusat data, dan platform digital. Siapa pun yang memahami politik dunia hanya melalui peta militer akan kehilangan separuh realitas, sebab wilayah paling strategis abad ini adalah kesadaran manusia.
Amerika Serikat adalah contoh paling komprehensif dari kekuatan ini. Hegemoninya tidak pernah hanya bertumpu pada Pentagon, tetapi juga pada Hollywood, Harvard, Silicon Valley, dan daya pikat “American Dream”. Ini adalah model kaki metabolis: ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga gambaran tentang kehidupan. Namun, sebagaimana diingatkan Gramsci, tidak ada hegemoni yang abadi. Setelah Perang Dingin, demokrasi liberal yang digadang-gadang Fukuyama sebagai “akhir sejarah” mulai tersandung kakinya sendiri. Ia digerogoti kontradiksi internal: ketimpangan yang melebar, oligarki yang membajak kebijakan, dan kapitalisme digital yang menciptakan perusahaan dengan kekuasaan melampaui negara. Paradoks yang menyakitkan pun muncul: prosedur demokrasi berjalan, tetapi rasa keterwakilan rakyat melemah.
Dari retakan inilah populisme dan nasionalisme identitarian menemukan tunggangan baru. Ketika institusi tampak tuli, masyarakat mencari tokoh yang berbicara secara langsung. Algoritma media sosial, dengan politiknya sendiri, menjadi akselerator yang sempurna. Platform digital mengutamakan keterlibatan (engagement), dan keterlibatan paling efektif sering kali dipicu bukan oleh ketenangan, melainkan oleh kemarahan dan ketakutan. Lahirlah paradoks digital: semakin cepat kaki ide berjalan, semakin besar risiko ia kehilangan arah moralnya. Yang menang bukan lagi yang paling benar, melainkan yang paling provokatif.
Di tengah krisis mobilitas ide liberal ini, sebuah model alternatif berjalan dengan langkah yang luar biasa terukur: otoritarianisme digital yang diusung oleh Tiongkok. Tiongkok tidak sekadar tampil sebagai pesaing ekonomi, tetapi sebagai tantangan filosofis terhadap asumsi bahwa modernisasi pasti bermuara pada liberalisasi politik. Ia memperlihatkan kemungkinan modernisasi tanpa westernisasi, kapitalisme pasar yang dikendalikan negara, dan teknologi tinggi yang berdampingan dengan sistem politik terpusat. Jika Amerika sering datang membawa narasi tentang nilai dan demokrasi (yang kerap dianggap menggurui), Tiongkok datang membawa narasi “pembangunan tanpa khotbah”.
Belt and Road Initiative adalah manifestasi material dari ide ini. Beton, rel kereta api, dan pelabuhan bukan sekadar infrastruktur; mereka adalah pembawa imajinasi tentang tatanan dunia yang multipolar. Di sinilah materialisme dan idealisme bertemu: infrastruktur menjadi kaki bagi narasi. Pertarungan antara AS dan Tiongkok, dengan demikian, bukan hanya kompetisi dua negara adidaya, melainkan benturan dua ekosistem gagasan tentang bagaimana negara modern seharusnya bekerja. Apakah legitimasi bersumber dari prosedur demokratis atau dari kemampuan menghasilkan stabilitas dan pertumbuhan? Pertanyaan ini kini berjalan ke dalam kebijakan, pinjaman luar negeri, desain kota, hingga sistem pendidikan di seluruh dunia.
Dalam konteks inilah negara-negara Global South, termasuk Indonesia, menghadapi pilihan yang tidak sederhana. Mereka tidak ingin menjadi satelit kekuatan baru, tetapi juga takut kehilangan kedaulatan di tengah kebutuhan akan investasi dan teknologi. Geopolitik abad ke-21, dengan demikian, adalah geopolitik kaki-kaki ide yang berkelindan dengan kepentingan material. Tidak ada lagi ide murni yang berjalan tanpa ekonomi, dan tidak ada ekonomi yang berjalan tanpa narasi. Kecerdasan buatan, perang semikonduktor, dan transisi energi adalah medan-medan tempur paling kontemporer dari pertarungan gagasan ini. Siapa yang menguasai chip, data, dan algoritma, pada hakikatnya menguasai salah satu kaki utama peradaban digital.
Negeri yang Takut pada Gagasannya Sendiri: Paradoks Indonesia
Tragedi terbesar sebuah bangsa bukanlah kekurangan orang pintar, melainkan memiliki begitu banyak orang terdidik tetapi terlalu sedikit keberanian untuk berpikir melampaui batas-batas yang dianggap aman. Di sinilah Indonesia menghadapi salah satu paradoks paling sunyi. Republik ini lahir dari keberanian imajinatif yang gilang-gemilang: menyatukan ribuan pulau dan ratusan suku dalam satu kesadaran politik bernama Indonesia. Sebelum menjadi negara, Indonesia adalah sebuah ide. Sumpah Pemuda, kemerdekaan, kedaulatan rakyat, dan keadilan sosial—semuanya adalah gagasan yang awalnya berjalan melalui surat kabar, pidato, penjara, dan pengasingan, sebelum akhirnya menjelma menjadi negara. Maka, tidak ada ironi yang lebih besar daripada sebuah bangsa yang lahir dari kebebasan berpikir, tetapi kemudian merasa tidak nyaman terhadap pikiran yang terlalu bebas. Pancasila, sebagai warisan ideologis terbesar, adalah sintesis filosofis yang mungkin terlalu visioner untuk zamannya sendiri. Ia bukan ideologi homogenitas, melainkan seni menjaga ketegangan: Ketuhanan tanpa teokrasi, kemanusiaan tanpa individualisme ekstrem, persatuan tanpa penyeragaman, demokrasi tanpa kultus mayoritas, dan keadilan sosial tanpa meniadakan kreativitas. Namun, dalam praktiknya, Pancasila sering kali direduksi menjadi hafalan, slogan, dan ornamen upacara. Ia dipuja, tetapi jarang dipakai sebagai metodologi untuk bertanya.
Kematian sebuah gagasan tidak selalu terjadi karena ia dilarang. Kadang ia mati justru karena terlalu disakralkan, diletakkan begitu tinggi sehingga tidak boleh disentuh kritik, dan perlahan kehilangan hubungan dengan kenyataan. Pancasila seharusnya berjalan ke medan-medan kontemporer: monopoli data, ekonomi gig, krisis iklim, etika kecerdasan buatan, dan konsentrasi tanah. Apa arti keadilan sosial ketika data jutaan warga menjadi komoditas? Apa arti kedaulatan di tengah ketergantungan infrastruktur digital pada segelintir korporasi global? Jika Pancasila tidak berjalan ke medan-medan itu, ia akan kalah cepat oleh ide-ide lain yang lebih lincah.
Krisis ini diperparah oleh ketakutan terhadap intelektualitas itu sendiri. Para pendiri bangsa adalah pembaca rakus yang berdebat mengenai Marxisme, Islam, sosialisme, dan nasionalisme. Mereka tidak sekadar menghafal, tetapi mencerna, menolak, memodifikasi, lalu melahirkan sintesis sendiri. Kini, kita memiliki lebih banyak universitas dan gelar akademik, tetapi belum tentu lebih banyak perdebatan besar dan keberanian intelektual. Kita menghasilkan jutaan dokumen, tetapi berapa banyak yang benar-benar memiliki kaki untuk berjalan menjadi kebijakan? Berapa banyak gagasan Indonesia yang dipelajari oleh bangsa lain?
Di sinilah kita harus berbicara tentang kedaulatan epistemik: kemampuan untuk mengetahui dunia dari sudut pandang sendiri dan menghasilkan ilmu yang tumbuh dari realitas masyarakat sendiri. Tanpa itu, kita mungkin merdeka secara formal, tetapi tetap bergantung secara intelektual. Ini adalah bentuk penjajahan paling halus: bukan ketika tanah diduduki, melainkan ketika imajinasi tidak lagi mampu membayangkan masa depan selain yang dirancang pihak lain. Padahal, bagi Soedjatmoko, pembangunan sejati adalah pembangunan kapasitas untuk menghadapi perubahan melalui dialog, refleksi, dan keberanian mengakui keterbatasan pengetahuan.
Namun, membangun kapasitas itu membutuhkan ekosistem: universitas yang melindungi kebebasan akademik, media yang menghargai kedalaman, birokrasi yang mampu mendengarkan, dan budaya yang menganggap kritik sebagai bentuk kepedulian. Tanpa ekosistem itu, ide-ide akan lahir cacat, atau lebih buruk lagi: tidak pernah lahir. Gagasan yang kuat jarang muncul dari kebisingan dan kepastian palsu; ia lahir dari proses panjang saat seseorang berani tinggal bersama pertanyaan yang belum berjawab. Inilah asketisme intelektual yang kian langka di era yang memuja kecepatan.
Kaki-Kaki yang Tak Pernah Lelah: Tanggung Jawab dan Sejarah yang Belum Selesai
Pada akhirnya, setiap zaman selalu berhadapan dengan satu pertanyaan: siapa yang akan menentukan arah langkah berikutnya? Apakah sejarah bergerak semata oleh modal, senjata, dan teknologi? Jawabannya hanya sebagian. Kekuatan material dapat memaksa manusia bergerak, tetapi ia tidak selalu mampu menentukan ke mana manusia akhirnya ingin menuju. Hanya gagasan yang mampu memberikan makna. Tanpa ide, kekuasaan hanyalah kemampuan, teknologi hanyalah alat, dan pembangunan hanyalah akumulasi.
Sejarah menunjukkan bahwa ide-ide yang paling tahan lama sering kali berjalan paling pelan, melalui pengendapan yang tidak kasat mata. Ia tidak viral atau populer, tetapi ia mengendap dalam kesadaran dan suatu hari menjadi fondasi. Karena itu, tanggung jawab intelektual abad ke-21 bukan sekadar memproduksi pendapat, melainkan menjaga kejujuran dan kejernihan. Sebab, setiap gagasan yang dilepaskan ke masyarakat membawa kemungkinan: ia dapat membebaskan atau menipu, mendewasakan atau memanipulasi. Menjaga kompleksitas agar tidak dihancurkan oleh slogan adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap kekuasaan zaman yang bekerja melalui notifikasi, algoritma, dan tren sesaat.
Bagi Indonesia, ini adalah panggilan untuk kembali melahirkan ide besar. Pancasila dan Trisakti harus menemukan kaki-kaki barunya, berjalan ke pusat data, laboratorium, pabrik, sawah, dan ruang keluarga. Kedaulatan politik hari ini berarti mampu mengambil keputusan strategis tanpa tunduk pada tekanan eksternal; kemandirian ekonomi berarti memiliki kapasitas untuk menjaga ruang pilihan nasional; dan kepribadian budaya berarti mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan kemampuan menilai. Semua ini membutuhkan keberanian untuk tidak menyerahkan masa depan sepenuhnya kepada ide-ide yang lahir di tempat lain. Kita harus belajar dari dunia, tetapi belajar tidak berarti menyalin.
Kita semua bekerja di dalam waktu yang lebih panjang daripada umur kita sendiri. Sejarah manusia selalu bergantung pada orang-orang yang bersedia menanam sesuatu yang mungkin tidak sempat mereka nikmati. Kapal induk akan berkarat, pusat data akan usang, dan aliansi akan pecah. Tetapi sebuah ide yang telah menemukan rumah di dalam kesadaran manusia dapat terus berjalan melampaui semuanya. Barangkali, di suatu tempat yang tak tersorot, ide-ide jujur dan jernih itu sedang dilatih kakinya oleh para pemikir yang tak dikenal. Mereka berjalan pelan, sangat pelan, kadang nyaris tak terlihat.
Namun, mereka melangkah. Dan seperti yang diyakini Soedjatmoko, suatu hari nanti, mungkin setelah kita semua tiada, salah satunya akan menemukan jalannya menjadi kebijakan, menjadi arah sejarah, dan menjadi peradaban. Sebab sejarah belum berakhir. Ia baru akan sungguh-sungguh dimulai, oleh ide-ide yang kakinya tak pernah lelah melangkah.


