Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Kekuasaan sering kali bekerja seperti ‘sirup amerta’ dalam cerita pewayangan; dimana setetes memberikan kekuatan, namun satu cawan membuat mabuk kepayang.
Ketika seorang penguasa mulai meminumnya terlalu banyak, terciptalah sebuah ruang kedap suara yang memisahkan singgasana dari tanah yang dipijaknya.
Di titik inilah, kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk mensejahterakan, melainkan bius yang melahirkan (inflasi) mimpi-mimpi megah didalam tempurung kepala, sementara di luar sana, rakyat sedang menekur bumi, memunguti sisa-sisa harapan yang kian menipis.
Sejarah dan dongeng telah lama memperingatkan kita tentang bahaya “lupa daratan” ini. Kita bisa berkaca pada cerita Raja Namrud. Ia adalah perlambang penguasa yang bukan hanya mabuk oleh sanjungan, tetapi juga terpenjara oleh mimpinya sendiri tentang keabadian dan kekuasaan absolut.
Namrud terlalu sibuk membangun menara yang ingin menggapai langit—sebuah proyek mercusuar untuk membuktikan kehebatannya—hingga ia lupa bahwa kekuasaan sejati seharusnya berakar di bumi, pada perut rakyat yang lapar dan keadilan yang tegak.
Tragedi Namrud bukanlah mati dalam pertempuran agung, melainkan mati secara hina oleh seekor nyamuk kecil yang menyusup ke otaknya.
Ini adalah peringatan keras bagi penguasa yang pikirannya dipenuhi mimpi kosong dan kesombongan, kehancuran sering kali datang dari hal-hal kecil yang mereka remehkan—jeritan rakyat yang dianggap angin lalu, atau keresahan akar rumput yang dianggap debu.
Ada pula pola klasik dalam dongeng tentang Raja dan Dua Peramal. Sang penguasa lebih memilih mendekap peramal yang membisikkan dongeng pengantar tidur tentang kejayaan semu, daripada mendengarkan peramal jujur yang menunjukkan retakan pada pondasi istananya.
Ketika penguasa lebih mencintai infografis yang memoles citra daripada statistik kemiskinan yang nyata, ia sedang menenun kain kafannya sendiri. Ia hidup dalam “halusinasi kolektif” bersama para pembisiknya, merasa telah membawa kemakmuran, padahal ia hanya sedang membangun istana pasir di tengah pasang yang mulai naik.
Mimpi yang bertumpuk di otak penguasa, jika tidak dijembatani oleh empati pada rakyat yang tertindas, akan berubah menjadi “Tragedi Ruang Hampa”.
Proyek-proyek raksasa digarap, namun rakyat kecil kehilangan tanah; angka-angka pertumbuhan dipamerkan, namun daya beli rakyat sekarat di pasar-pasar becek.
Penguasa seperti ini ibarat seorang nakhoda yang asyik menatap bintang di langit sambil memimpikan pelabuhan emas, tanpa sadar bahwa lambung kapalnya telah bocor dan para penumpang di kelas bawah sudah mulai tenggelam.
Kekuasaan yang lupa daratan akan menemui takdirnya sendiri. Tanpa perlu disebut namanya, rezim mana pun yang membiarkan jiwanya terbius mimpi-mimpi megah di atas penderitaan rakyat yang nyata, sedang berjalan menuju senja yang kelam.
Sebab, sejarah tidak pernah ramah pada mereka yang menganggap suara rakyat hanya sebagai gangguan bagi tidur nyenyak mereka.
Pemimpin yang hebat adalah ia yang berani bangun dari mimpinya untuk melihat kenyataan, bukan ia yang memaksakan mimpinya menjadi mimpi buruk bagi bangsanya.
Pada akhirnya, ketika kita menelusuri jejak ingatan dari rezim ke rezim, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 terasa kian berkabut. Alih-alih mendekat pada kemakmuran yang merata, karakter kekuasaan hari ini justru makin menunjukkan gejala yang memprihatinkan: sebuah syahwat politik yang bukan lagi sekedar soal mimpi besar, melainkan ambisi untuk berkuasa dan memperkaya diri hingga ke anak cucu secara permanen.
Filosofi penguasa kita seolah telah bergeser menjadi parodi guyonan wagu: “Muda bertahta, tua kaya raya, mati masuk surga (lewat jalur belakang).” Inilah potret nyata dari apa yang digambarkan dalam khazanah Jawa sebagai Zaman Edan.
Jika penguasa tidak segera turun dari awan imajinasinya dan kembali memijak bumi yang berlumur keringat rakyat, maka “Indonesia Emas” dikhawatirkan hanya akan menjadi “Indonesia Cemas”—sebuah tragedi dimana bangsa ini hanya menjadi penonton bagi pesta pora para elitnya sendiri.


