Apple Akan Jadi Raksasa IT Terakhir AS di China

SURABAYAONLINE.CO – Amerika Serikat (AS) memiliki raksasa-raksasa teknologi di China. Namun pada pekan lalu Microsoft yang saat ini masih operasi di China mengumumkan akan menutup jaringan sosialnya, LinkedIn, di sana.

Pihak perusahaan beralasan aturan di negara China yang harus dipatuhi semakin menantang. Melansir dari BBC, Sabtu, (23/10) Apple sendiri memiliki masalah sensor di negara ini.

Pekan lalu dua aplikasi keagamaan populer telah dihapus dari App Store Apple. Belakangan diketahui bahwa Audible milik Amazon dan aplikasi Yahoo Finance juga telah dihapus.

Tindakan keras pada raksasa teknologi di China memunculkan beberapa pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi di balik China.

Akan tetapi yang nampak jelas adalah bahwa Apple dan Microsoft terlibat dalam pertempuran domestik antara pihak berwenang dan industri teknologi China.

Sementara China juga memiliki teknologi sendiri seperti Tencent, Alibaba, dan Huawei. Semuanya merupakan perusahaan global yang sangat besar.

Tetapi pemerintah China semakin khawatir tentang kekuatan yang mereka miliki. Sehingga perusahaan-perusahaan Amerika pun tidak luput dari penumpasan.

“Tindakan keras menunjukkan bahwa Apple dan Microsoft sangat sadar bahwa posisi mereka lebih lemah daripada beberapa tahun terakhir. Mereka tahu bahwa mereka harus berjalan dengan hati-hati,” kata James Griffiths, penulis The Great Firewall of China.

Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi (Personal Information Protection Law/PIPL) yang akan diterbitkan 1 November mendatang oleh pemerintah China membuat Microsoft harus mematuhi lebih banyak peraturan.

Berbeda dengan Microsoft, Apple memiliki serangkaian prioritas yang berbeda di China. Pada kuartal terakhir, Apple menghasilkan pendapatan hampir US$ 15 miliar di China dan Taiwan.

Rantai pasokan globalnya juga bergantung pada manufaktur China. Untuk bisa terus bermain di China, Apple menyadari harus bermain dengan aturan negara tersebut.