Galian C Ilegal di Sumenep, Jadi Kado Pahit di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

SURABAYAONLINE.CO, Sumenep– Tepat hari ini 49 tahun lalu tepatnya pada tanggal 05 Juni 1972 melalui perjanjian Stockhlom atas inisiasi dan dorongan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Spirit yang mendasari adalah demi menggugah kesadaran banyak orang untuk menjaga lingkungan dan menciptakan ekosistem hijau yang lestari

Dalam perjalanannya, masyarakat dunia, termasuk negara-negara dibelahan bumi pun merayakan dengan berbagai kegiatan berbau kepedulian terhadap ekologi. Tidak hanya itu, banyak pemerintahan diberbagai negara mencoba menyerukan kebijakan pembangunan yang ramah terhadap lingkungan atau substinebele. Bahkan lebih jauh, mengeluarkan rumusan kebijakan untuk melindungi lingkungan hidup dari kerusakan

Di Indonesia misalnya, mengeluarkan Udang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Untuk melestarikan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan ruang, daya, benda dan makhluk hidup agar tetap mampu dinikmati oleh generasi penerus

Namun, bertepana pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun 2021ini khusus di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menurut aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Novil Suryadi, mengatakan, kabupaten diujung timur Pulau Madura itu, memberikan kado kerusakan lingkungan maraknya tambang galian C ilegal. Bukannya kelestarian lingkungan dan eksosistem hijau, akan tetapi bencana didepan mata

“Maraknya galian C ilegal di Kabupaten Sumenep, menjadi kado pahit di momentum Hari Lingkungab Hidup Sedunia tahun 2021,” katanya kepada SurabayaOnline.co. Sabtu 05/06/2021

Padahal menurut Novil, jika merujuk kepada pasal 97 UU PLH tahun 2009, pengrusakan lingkungan hidup merupakan sebuah pelanggaran hukum dan tindak pidana, mencakup baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

“Dalam lingkungan hidup pertanggung jawaban pengrusakan lingkungan dibebankan, terhadap Perusak/pelaku kerusakan atas lingkungan hidup tersebut , apa dan siapapun subjek hukumnya, baik legal maupun tidak, skala kecil maupun besar,” urainya

Maka dari itu, harusnya tambang ilegal galian C ini dimintai pertanggung jawaban oleh pemerintah dan penegak hukum. Supaya tidak menghianati semangat pembangunan berkelanjutan dan amanat deklarasi Stockhlom tentang kelestarian lingkungan

“Jangan sampai ada pembiaran terhadap galian C ilegal, karena masyarakat sebagai bagian dari lingkungan hidup menjadi korban,” tegasnya

Akibatnya, masyarakat akan terdampak, bencana alam akibat pengerukan dan gagalnya pengaturan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA), yang dimonopoli secara ilegal oleh oknum tertentu. Selain itu, melalui momentum bersejarah ini Novil mengajak semua pihak mulai dari masyarakat, pemerintah, dan penegak hukum untuk berkaloborasi menjaga lingkungan dengan tidak memberi ruang, mengawasi dan menindak terhadap pengrusakan lingkungan

“Mari bersama-sama mengikuti tuntunan sejarah untuk menjaga lingkungan, agar dapat dinikmati dari generasi ke genesi,” ajaknya. Thofu