Bayar Rp50 Juta Untuk Jabatan Camat di Nganjuk, Terkuak Setelah Bupati Novi Ditahan

Surabaya Online, Novi akan ditahan selama 20 hari terhitung sejak Selasa, 11 Mei 2021, setelah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi jual beli jabatan di lingkungan pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Novi Rahman Hidayat oleh Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri telah resmi ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba Bareskrim Polri.

Penahanan di Rutan Bareskrim tersebut agar memudahkan tim penyidik melakukan pemeriksaan lanjutan, demikian menurut Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Argo Yuwono, Selasa 11 Mei 2021.

Penangkapan Novi, diawali dari laporan yang masuk ke Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang dugaan jual beli jabatan di Pemkab Nganjuk.

Lantas Polri dan KPK berkoordinasi ada empat kali, untuk menindaklanjuti adanya laporan tersebut, yakni Polisi bersama KPK saling bertukar informasi terkait dugaan kasus tersebut.

“Kita koordinasi untuk menganalisa yang berkaitan dengan sasaran daripada kegiatan Bupati Nganjuk ini,” jelas Argo.

Berdasarkan informasi yang ada tim penyidik akhirnya berangkat ke wilayah Nganjuk, untuk melakukan penangkapan.

Sebelum menangkap Novi, penyidik lebih dulu menangkap lima orang, yakni Edie Srijato (ES) selaku Camat Tanjunganom dan sebagai Plt Camat Sukomoro, Dupriono (DR) selaku Camat Pace.

Kemudian, Bambang Subagio (BS) selaku Camat Loceret, Tri Basuki Widodo (TBW) selaku Mantan Camat Sukomoro, Haryanto (HY) selaku Camat Berbek, Timnpenyidik juga menangkap M Izza Muhtadin (MIM) selaku ajudan Bupati Nganjuk.

Argo menjelaskan, seperti dilansir dari Humas Polri, lima orang bekas camat itu, diduga merupakan pihak yang memberikan hadiah atau janji kepada Novi. Sementara, MIM berperan sebagai perantara.

“Jadi, kita menangkap dari bawah dulu. Karena informasinya juga dari bawah. Kemudian meningkat ke atas, ke Bupati Nganjuk,” lanjut Argo.

Selain penangkapan, penyidik juga menyita uang tunai senilai Rp647 juta
yang disita dari brankas di kediaman Novi dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan jual beli jabatan.

Untuk mendalami kasus jual beli tersebut, Argo mengatakan penyidik juga telah memeriksa 18 orang.

Dari pemeriksaan para saksi diketahui Novi mematok untuk Kepala Desa paling sedikit Rp2 juta. Kemudian untuk jabatan Camat, meminta uang sedikitnya Rp15 juta hingga Rp50 juta.**