DPRD Gresik Minta Direksi PDAM yang Tidak Memiliki Kecakapan Diganti

SURABAYAONLINE.CO, GRESIK – PDAM Giri Tirta Gresik mengakui, tingkat kebocoran air tahun 2020 mencapai 14 juta meter kubik. Padahal tahun 2019, kebocorannya hanya 9 juta meter kubik.

Hal ini berimbas pada turunnya pendapatan PDAM Giri Tirta, dari Rp 10 miliar pada 2019 menjadi Rp 2 miliar di tahun 2020.

Hal itu terungkap dalam rapat kerja membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah (LPJ) tahun 2020 di DPRD, Kamis (25/3) .

Menanggapi itu, DPRD Kabupaten Gresik meminta eksekutif serius dalam membenahi pelayanan PDAM Giri Tirta Gresik, terutama menekan kebocoran air.

Wakil Ketua Komisi II Syahrul Munir menyebut, tingginya kebocoran tersebut akibat ketidaksiapan infrastruktur dalam menerima supply air dari SPAM Umbulan sebanyak 300 liter perdetik.

“Realitas tersebut sangat kontraproduktif dengan semangat PDAM untuk meningkatkan pelayanan, sebab ternyata kebocoran lebih besar dibanding suplai air dari SPAM Umbulan,” kata Syahrul.

Dalam rapat tersebut, sambung Syahrul Munir, manajemen PDAM Giri Tirta minta dukungan dari DPRD maupun Bupati Gresik untuk penyesuaian tarif.

Alasannya, terlalu banyak subsidi tarif untuk pelanggan yang lebih banyak rumah tangga.

“Kalkulasi managemen PDAM, subsidi tarif untuk pelanggan pertahun mencapai Rp 48 miliar,”papar dia.

Ketua Fraksi Partai Gerindra, Nur Saidah memandang perlu dilakukan perombakan ditataran Direksi PDAM Giri Tirta.

Bahkan kalau perlu, ada pengganti dari ekternal PDAM untuk memperbaiki kinerja BUMD tersebut.

“Direksi PDAM ada 3 orang, direksi tak memiliki kecakapan harus diganti. Makanya, bila perlu ada orang luar yang sangat berkompeten masuk ke jajaran direksi untuk perbaikan. Jangan semua dibebankan pada Dirut,” tegas dia. (san)