Kerangka Situs Kumitir yang Ditemukan Berusia 20-30 Tahun Tinggi Badan 141-153 | Jenis Kelamin Perempuan | Posisi Tengkurap

SURABAYAONLINE.CO | Mojokerto – Kerangka Situs Kumitir yang merupakan sisa peninggalakan kerajaan Majapahit di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto berdia meter 141-153 cm, berjenis kelamin perempuan dan berusia 20-30 tahun.

Temuan kerangka sisa-sisa peninggalan Kerajaan Majapahit kembali ditemukan di Situs Kumitir itu ditemukan pada Rabu (3/3/2020) lalu.

Dalam siaran persnya unair.ac.id, pakar Antropologi Forensik Unair Dr Toetik Koesbardiati yang turut tergabung dalam penelitian bersama Tim Ekskavasi BPCB Jatim menyebut bahwa salah satu dari tiga temuan kerangka tersebut relatif utuh secara struktur.

Jika dilihat berdasarkan pelvis dan tengkorak, kerangka tersebut diidentifikasi berjenis kelaminnya adalah perempuan dengan estimasi umur 20-30 tahun. Toetik yang tergabung dalam upaya eskavasi sejak Selasa (9/3/2021) lalu itupun telah mengambil sampel bagian tulang telinga dan tulang tangan untuk diidentifikasi.

Kali ini temuan tersebut berupa tiga kerangka manusia yang ditemukan selama ekskavasi dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Ekskavasi tahap ketiga yang di area sebelah Barat merupakan tempat pemakaman umum Dusun Bendo, Desa Kumitir. Rangka manusia itupun ditemukan saat mengangkat tanah di kedalaman 60 cm pada sektor C Situs Kumitir.

“Kondisinya memang sudah remuk di beberapa tempat. Namun struktur rangka dari tengkorak hingga kaki masih lengkap. Begitu pula bagian rusuk, tulang belakang, dan lengan,” ungkap dosen Antropologi Forensik Ragawi FISIP UNAIR tersebut.

Posisi kerangka perempuan itu pun cukup unik karena berposisi tengkurap. Oleh karena itu, analisis arkeotanatologi untuk mengetahui alasan posisi rangka tengkurap pun akan segera dilakukan, jika semua rangka telah terekspos dan data penggalian telah dilengkapi.

Begitu pula dengan penentuan usia kerangka untuk mengetahui apakah kerangka tersebut berhubungan dengan era Majapahit ataukah kerangka manusia modern yang dikubur disana.

Hal tersebut perlu dilakukan lantaran tepat di sebelah timur lokasi penemuan kerangka adalah tempat pemakaman umum Dusun Bendo.

“Makanya kami perlu melakukan dating atau penanggalan untuk mengetahui secara pasti umur atau pada masa apa sisa rangka manusia ini pernah hidup,” imbuhnya.

Apabila kerangka tersebut berasal dari era Majapahit, Toetik sendiri meyakini bahwa temuan ini akan sangat berharga bagi informasi manusia era klasik Majapahit yang masih jarang ditemui.

Terlebih apabila analisis DNA telah didapat, peneliti dapat mengetahui afiliasi populasi dari kerangka tersebut.

“Kalaupun bukan dari era Majapahit, artinya masih manusia dari era modern, tetap saja temuan sisa rangka manusia ini bermakna untuk diteliti sepanjang tidak melanggar kode etik dan budaya lokal,” papar Toetik.

Selain berpotensi menjadi temuan penting manusia era klasik Indonesia, kerangka ini pun juga dapat dijadikan media pendidikan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan.

Toetik sendiri bergabung dalam penelitian ini usai dihubungi pimpinan tim ekskavasi BPCB Jatim yang memberikan foto bagian tulang yang menyembul di galian situs.

Situs Kumitir sendiri adalah cagar budaya yang diduga sebagai istana Bhre Wengker di Kompleks Kotaraja Majapahit. (*)