Sekeluarga Berstatus PDP Meninggal, Puluhan Warga Di-Rapid Test

SURABAYAONLINE.CO-Kasus satu keluarga berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 di kawasan Gubeng Kertajaya Surabaya meninggal dunia beruntun dalam 6 hari terakhir.

Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, sekeluarga itu terdiri dari tiga orang dewasa dan janin berusia 8 bulan.

Dari tiga orang dewasa itu, dua di antaranya pasutri berusia 68 tahun dan 61 tahun, serta putrinya yang tengah mengandung 8 bulan.

Kasus ini bermula dari putrinya yang mengandung 8 bulan itu mengeluhkan batuk pilek, dan sesak napas. Karena terus memburuk kemudian dilarikan ke RS PHC Surabaya. Pada 27 Mei 2020 pasien ini ditempatkan di ruang isolasi karena sudah mengalami perburukan.

Prita Pinastiningtyas Humas RS PHC Surabaya dihubungi suarasurabaya.net mengatakan, pasien datang dengan kondisi umum tidak baik.

Bayinya juga telah meninggal di dalam kandungan. Tiga hari kemudian ibu dari janin itu meninggal dunia pada 30 Mei 2020.

“Sesuai prosedur karena sesak napas parah maka dibantu ventilator. Lalu diperiksa swab, hasilnya positif,” ujar Prita, Kamis (4/6/2020).

Indikasi terpapar Covid-19 juga terjadi pada kedua orang tuanya yang sama persis mengalami gejala batuk pilek dan sesak napas. Keduanya pun dilarikan ke RSI Jemursari Surabaya pada 29 Mei 2020 untuk menjalani perawatan.

Dokter Dyah Yuniati Wadir Medis RSI Jemursari Surabaya membenarkan, memang kedua orang suami istri ini dirawat mulai masuk IGD hingga dirawat di Ruang Dahlia, hingga pasien yang laki-laki dinyatakan wafat pada 30 Mei 2020 dan istrinya juga meninggal pada 2 Juni 2020.

“Jadi, suaminya kami rawat mulai tanggal 29 Mei. Hasilnya kami curiga pasien dalam pengawasan (PDP) dengan rapid test reaktif semuanya baik itu Immunoglobulin G (IgG) maupun Immunoglobulin M (IgM). Pasien juga sudah rontgen thorax,” kata Dyah.

Waktu itu, kata Dyah, pihak RSI belum sempat melakukan tes PCR baik pada pasien laki-laki maupun istrinya, karena memang waktu itu ITD tengah lockdown.

“Tes PCR di tempat lain juga tutup sehingga belum bisa kami lakukan. (Pasien) Ibu mau kami lakukan tes PCR tanggal 2 Juni keburu wafat. Semua rapid test hasilnya reaktif,” katanya.

Menurut Dyah, sekarang ini tim Gugus Tugas harus melakukan tracing dari mana sumber penularan dan sudah kontak ke mana saja. Hal itu untuk memutus mata rantai penularan.

“Menurut saya harus ada tracing sumber penularan dan sampai sejauh mana penularannya,” katanya.

Sementara itu, M. Fikser Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya mengatakan, pihaknya telah melakukan tracing terhadap kasus sekeluarga dj Gubeng Kertajaya ini.

“Pemkot Surabaya melakukan rapid test di sepanjang gang di kawasan Gubeng Kertajaya itu. Ada 69 orang di-rapid test. Lima orang dalam satu rumah reaktif, ada yang sudah dibawa ke hotel ada yang karantina mandiri di rumah tersebut,” kata Fikser.

Menurutnya, mereka menjadi skala prioritas untuk tes swab agar hasilnya pasti. Sehingga, Pemkot bisa melakukan langkah medis.

“Seperti pemilahan sebelum-sebelumnya, apakah ada penyakit bawaan atau murni positif. Kami berharap hasilnya negatif. Nanti kalau ada yang OTG digeser ke Asrama Haji. Kami melakukan percepatan tracing di wilayah kampung itu,” katanya.

Dari pihak keluarga DW menyatakan bahwa ia sendiri tidak menampik bahwa keluarganya terpapar COVID-19. Namun ia keberatan, bila ibu dan ayahnya dianggap meninggal positif Corona.

“Karena tolak ukur yang akurat kan swab. Jelas keberatan dengan kabar yang beredar khususnya tersebar di WA bahwa keluarga saya meninggal positif Corona semua. Kalau rapid memang reaktif, saya gak memungkiri ada kemungkinan terpapar, tapi lebih pastinya menggunakan swab. Surat dari RS kan kedua orang tua saya meninggal dalam status PDP,” pungkas DW.(*)