Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pasangan suami istri terperosok di proyek gorong gorong Jalan Margorejo Indah, depan Plaza Marina, Jumat (12/6) malam. Terperosoknya mereka membuat salah satunya meningal dunia di tempat. Sedangkan korban satunya tidak sadarkan diri.
Pasutri tersebut diketahui Edhy Parlyn (69) dan Laila Endriati (65), istrinya, warga Jalan KawatanVII, Surabaya. Untuk sang istri meninggal di tempat kejadian dengan luka di kepala terbentur besi dan semen cor pembangunan proyek. Sedangkan suami tidak sadarkan diri.
Tim Gabungan BPBD Surabaya dan Unit Laka Lantas Polrestabes Surabaya membawa korban ke RS Bhayangkara. Hal itu diungkapkan Kapolsek Wonocolo Kompol Haryoko Widi. “Peristiwa itu ditanggani Lantas Polrestabes Surabaya. Sepengatahuan saya untuk yang meninggal di kamar jenazah RS Bhayangkara dan yang masih bernyawa dirawat medis,” ujarnya.
Kronologis kejadian bermula Edhy Parlyn membonceng istrinya menggunakan motor Supra X 125 nopol L 5478 AAE. Perjalanan sekitar. pukul 19.45 WIB, mereka dari arah Jalan Panjangjiwo masuk ke Margorejo Indah akan menuju ke Jalan Ahmad Yani.
Setibanya di depan Plaza Marina, karena kondisi penerangan kurang dan sekitaran proyek gorong-gorong yang ditangani PT Bangun Kontruksi Persada kurang adanya tanda peringatan. Sehingga sang pengendara Edhy Parlyn tidak melihat adanya lubang proyek gorong-gorong.
Kedua pasutri dan motornya akhirnya terjebur di dalamnya. Kepala sang istri terbentur dan mengalami pendarahan. Sedangkan Edhy Parlyn tidak sadar. Petugas BPBD Surabaya tiba di lokasi pukul 20.00 WIB dan melakukan evakuasi kepada kedua korban meninggal dan terluka.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi datang langsung menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada Edhy Parlyn di Jalan Kawatan 7, Bubutan pada Sabtu (13/6) malam. Edhy merupakan suami dari almarhumah Laila Endriati yang meninggal dunia akibat insiden kecelakaan terperosok ke dalam lubang proyek saluran air.
Dalam kunjungannya, Wali Kota Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar hilangnya nyawa seorang warga, melainkan duka keluarga. Almarhumah Endri diketahui ternyata masih memiliki hubungan kerabat dengan Eri.
Eri menceritakan, dirinya baru mengetahui kabar duka itu pada Sabtu pagi pasca kepulangannya dari ibadah haji. Mengingat statusnya yang masih dalam masa cuti, ia sempat terkejut saat perwakilan keluarga mengabarkan berita duka tersebut.
“Kampung Kawatan ini adalah kampung yang kekeluargaannya luar biasa. Saya lahir di sini, yang ikut membesarkan saya, ya Mbak Endri dan Cak Sera. Makanya tadi pagi saya minta izin ke keluarga untuk datang malam hari setelah Salat Isya, agar bisa ikut tahlilan sekaligus silaturahmi lebih lama, bukan sekadar bersalaman lalu pulang,” ujar Eri, usai takziah.
Akibat insiden ini, Eri menegaskan, akan memberikan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang terbukti melakukan keteledoran. Ia akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait penerapan SOP pengamanan proyek, untuk memastikan apakah sudah dijalankan dengan baik atau tidak.
Eri bahkan tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, apabila hasil investigasi menemukan adanya unsur kelalaian fatal dari jajaran internal Pemkot Surabaya. Ia meluruskan bahwa ketegasan ini diambil bukan semata-mata karena korban masih saudara, melainkan demi keselamatan seluruh warga Kota Pahlawan. “Pembangunan untuk menyelesaikan banjir boleh dijalankan, tapi tidak boleh mengorbankan nyawa warga Kota Surabaya,” ungkapnya.(dan)


