Sebuah Refleksi Sufistik atas Puncak Perjalanan Ruhani dalam Khazanah Kitab-Kitab Klasik
Oleh: Tri Prakoso
SURABAYAONLINE.CO – DI suatu senja yang hening, ketika langit mulai memerah dan angin berbisik di sela-sela dedaunan, seorang murid datang kepada gurunya dengan hati yang bergetar. Sudah bertahun-tahun ia berjalan di jalan para pencari, sudah beribu malam ia habiskan dalam sujud dan tangis, sudah berjuta dzikir ia lantunkan dengan lidah dan hatinya. Namun satu pertanyaan terus menggelayut di relung jiwanya yang paling dalam. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, “Wahai Syaikh, kapankah aku akan sampai kepada Allah?”
Sang guru—seorang lelaki tua yang matanya menyimpan samudera kebijaksanaan dan wajahnya memancarkan cahaya yang bukan berasal dari matahari—memandang wajah muridnya dalam-dalam. Keheningan menyelimuti mereka berdua, seolah-olah alam semesta ikut menahan napas menanti jawaban yang akan keluar dari mulut sang wali. Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, sehalus tiupan angin di padang pasir, sang guru menjawab: “Ketika engkau telah benar-benar tiada, dan ketiadaanmu pun tiada. Ketika itu, barulah engkau ‘ada’ bersama-Nya.”
Jawaban itu merangkum seluruh perjalanan spiritual paling misterius dalam khazanah tasawuf Islam. Ia adalah undangan untuk memasuki lorong-lorong gelap ego, menelusuri lembah-lembah kefanaan, dan akhirnya mencapai puncak yang oleh para arif dinamakan Maqam KUN—sebuah maqam yang menyimpan rahasia penciptaan itu sendiri, rahasia yang telah ada sejak sebelum alam semesta tercipta, sejak sebelum waktu dan ruang mengada.
Namun apa sejatinya fana’ itu? Apakah ia berarti kematian? Apakah ia berarti pelenyapan total eksistensi manusia sehingga larut dalam Wujud Ilahi tanpa sisa? Apakah para sufi sedang membicarakan pengalaman mistis yang tak terkatakan, yang hanya bisa dirasakan oleh segelintir manusia pilihan, ataukah ada peta perjalanan yang bisa ditelusuri oleh setiap pejalan ruhani yang bersungguh-sungguh? Dan yang lebih penting: mengapa kita—manusia modern yang hidup di zaman dengan segala kompleksitasnya—perlu memahami konsep-konsep yang tampak begitu jauh dan abstrak ini?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selama berabad-abad menggugah para pencari kebenaran untuk memasuki lorong-lorong terdalam dari ilmu tasawuf. Dan jawaban-jawabannya tersimpan dengan indah dalam lembaran-lembaran kitab klasik yang ditulis oleh para wali dan arif billah—manusia-manusia yang tidak hanya berbicara tentang maqam-maqam spiritual, tetapi telah menempuhnya dengan seluruh jiwa dan raga mereka. Mereka menulis bukan dari teori, melainkan dari penyaksian langsung (musyahadah); bukan dari bacaan, melainkan dari penyingkapan (kasyaf).
Kitab-Kitab yang Menjadi Saksi Perjalanan
Di antara sekian banyak kitab tasawuf yang mengupas perjalanan ruhani ini, dua karya besar menjadi rujukan utama kita dalam tulisan ini. Keduanya adalah saksi bisu yang merekam perjalanan para kekasih Allah menuju Hadirat-Nya.
Pertama, Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ wa Anwa’ihim wa Awshafihim karya Syaikh Ahmad Diya’uddin al-Kamasykhanawi (w. 1311 H/1893 M)—seorang wali besar dari tarekat Naqsyabandiyah yang bermukim di Istanbul, kota yang menjadi persimpangan antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas. Kitab ini adalah ensiklopedia tentang kewalian yang menyusun secara sistematis seribu maqam spiritual, lengkap dengan metode riyadhah (latihan ruhani), adab para murid, dan prinsip-prinsip setiap tarekat. Al-Kamasykhanawi menulis dengan ketelitian seorang dokter ruhani yang memetakan setiap penyakit hati dan menunjukkan obatnya, sekaligus dengan kelembutan seorang ibu yang membimbing anaknya melangkah. Beliau memahami bahwa jalan spiritual adalah jalan yang penuh liku dan jebakan, dan karena itu beliau menyediakan peta yang sangat rinci bagi para pejalan.
Kedua, Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani (w. 430 H/1038 M)—sebuah mahakarya yang menghimpun biografi lebih dari dua ratus wali dan sufi dari tiga generasi pertama Islam hingga masa penulisnya. Kitab ini bukan sekadar kumpulan biografi; ia adalah jendela ke dalam kehidupan dan ajaran para kekasih Allah yang telah menapaki jalan fana’ dan baqa’. Di dalamnya, kita mendengar suara-suara para sufi yang berbicara dari pengalaman langsung, bukan dari teori belaka. Abu Nu’aim tidak hanya mencatat apa yang dilakukan oleh para wali, tetapi juga apa yang mereka katakan, apa yang mereka rasakan, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan Allah dan sesama makhluk.
Bersama kitab-kitab klasik lainnya seperti al-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam al-Qusyairi yang dengan indah menguraikan maqamat dan ahwal, Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali yang menjadi jembatan antara syariat dan hakikat, al-Futuhat al-Makkiyah karya Syaikh al-Akbar Ibnu Arabi yang menyelami samudera makrifat, dan Kasyf al-Mahjub karya al-Hujwiri yang menjadi kitab tasawuf pertama dalam bahasa Persia, kedua kitab utama kita ini membentuk mozaik kebijaksanaan yang akan memandu perjalanan kita kali ini.
Fana’: Ketika Aku Tak Lagi Menjadi Aku
Kata fana’ dalam bahasa Arab berasal dari akar kata fa-na-ya yang berarti lenyap, musnah, atau hilang. Dalam al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menggambarkan segala sesuatu yang tidak kekal: “Kullu man ‘alaiha fan”—”Segala sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa” (QS. Al-Rahman: 26). Tetapi fana’ dalam kamus para sufi bukanlah kemusnahan fisik, bukan pula kematian jasad. Fana’ adalah peristiwa batin yang begitu mendalam sehingga seluruh kesadaran seseorang akan dirinya sendiri—akan egonya, akan nafsunya, akan “aku”-nya—luruh bagai tetesan embun yang jatuh ke samudera luas.
Bayangkanlah setetes embun yang selama ini mengira dirinya terpisah dari lautan. Ia melihat bentuknya sendiri yang bulat, ia merasakan dinginnya sendiri, ia mengira dirinya adalah entitas yang mandiri. Namun ketika tetes embun itu jatuh ke lautan, ia kehilangan bentuknya, ia kehilangan batas-batasnya, ia kehilangan identitasnya sebagai “tetes embun”. Namun esensinya sebagai air tidaklah hilang—ia justru menemukan dirinya yang sejati sebagai bagian dari lautan yang maha luas.
Demikianlah kira-kira gambaran tentang fana’. Sang hamba kehilangan kesadaran akan dirinya sebagai entitas yang terpisah dari Allah, namun eksistensinya sebagai makhluk tidaklah sirna. Yang sirna adalah “aku”-nya yang palsu, “aku”-nya yang terbatas, “aku”-nya yang selama ini menghalanginya dari melihat Realitas Sejati.
Syaikh al-Kamasykhanawi dalam Jami’ al-Ushul mendefinisikan fana’ dengan sangat jernih dan mendalam: “Hakikat fana’ adalah hilangnya sifat-sifat yang hina, dan baqa’ adalah wujudnya sifat-sifat yang terpuji.” Definisi ini menohok sekaligus melegakan. Menohok karena ia mengungkapkan bahwa fana’ bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan pertarungan sengit melawan sifat-sifat tercela yang bercokol dalam diri—sombong, iri, dengki, cinta dunia, takut mati, dan segala penyakit hati lainnya. Melegakan karena ia menegaskan bahwa setelah kefanaan, ada kehidupan baru yang menanti: kehidupan dengan sifat-sifat terpuji yang merupakan pantulan dari sifat-sifat Ilahi—sabar, syukur, tawakkal, ridha, cinta, dan segala keindahan akhlak lainnya.
Lebih jauh, al-Kamasykhanawi membagi fana’ ke dalam dua jenis yang menunjukkan betapa dalamnya pemahaman beliau tentang dinamika spiritual. Pertama, fana’ yang dicapai melalui riyadhah (latihan spiritual yang intensif)—inilah jalur perjuangan, jalur usaha, jalur di mana sang salik berpeluh keringat dan berlinang air mata dalam mujahadah melawan hawa nafsu. Kedua, fana’ yang terjadi melalui istighraq (penenggelaman) dalam keagungan Dzat Allah disertai musyahadah (penyaksian langsung)—inilah jalur anugerah, jalur tarikan Ilahi, jalur di mana Allah sendiri yang menarik hamba-Nya ke Hadirat-Nya tanpa usaha dari sang hamba.
Dan dalam perjalanan seorang salik, keduanya sering kali bertemu dalam harmoni yang indah: perjuangan yang sungguh-sungguh menyiapkan bejana hati, dan anugerah Ilahi kemudian memenuhinya dengan Cahaya. Sebagaimana seorang petani yang membajak tanah dan menabur benih, namun hujan dan sinar matahari tetaplah anugerah dari langit yang tidak bisa ia kendalikan.
Para sufi klasik, dengan ketelitian yang luar biasa, menyusun tangga fana’ ke dalam tiga tingkatan yang masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri.
Tingkat pertama adalah fana’ fi al-af’al—kefanaan dalam perbuatan. Pada tingkat ini, seorang salik menyaksikan bahwa tidak ada perbuatan yang terjadi di alam semesta kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah. Pandangannya terhadap kausalitas berubah secara revolusioner: ia melihat matahari terbit bukan karena hukum alam, tetapi karena perbuatan Allah; ia melihat dirinya bergerak bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena Allah yang menggerakkannya. Segala sebab-musabab yang selama ini diyakininya sebagai sumber terjadinya sesuatu, kini ia lihat hanyalah tirai yang menutupi Satu-satunya Pelaku Sejati, yaitu Allah SWT. Dalam fana’ fi al-af’al, sang hamba menyadari bahwa “La fa’ila illa Allah”—tidak ada pelaku sejati selain Allah.
Tingkat kedua adalah fana’ fi al-asma’—kefanaan dalam nama-nama Ilahi. Di sini, sang salik menyaksikan bahwa seluruh nama dan sifat yang ada pada makhluk hanyalah pinjaman dari nama dan sifat Allah. Tidak ada yang benar-benar “pengasih” kecuali Allah Yang Maha Pengasih; tidak ada yang benar-benar “mengetahui” kecuali Allah Yang Maha Mengetahui; tidak ada yang benar-benar “kuat” kecuali Allah Yang Maha Kuat. Kefanaan ini meluruhkan segala klaim dan kebanggaan diri. Ketika seseorang dipanggil “si pintar”, ia tahu bahwa kepintarannya hanyalah setitik dari lautan Ilmu Allah; ketika seseorang dipanggil “si kaya”, ia sadar bahwa kekayaannya hanyalah sebutir pasir dari gunung Kekayaan Allah. Fana’ fi al-asma’ mengajarkan kerendahan hati yang paling dalam.
Tingkat ketiga adalah fana’ fi al-sifat—kefanaan dalam sifat-sifat Ilahi. Inilah puncak dari fana’ sebagaimana dipahami oleh mayoritas sufi: ketika sifat-sifat manusia sepenuhnya tenggelam dalam penyaksian terhadap sifat-sifat Allah. Sifat marah lenyap dalam penyaksian akan sifat Qahhar Allah; sifat cinta lenyap dalam penyaksian akan sifat Wadud Allah; bahkan sifat “ada” pun lenyap dalam penyaksian akan Wujud Allah Yang Maha Ada. Pada tingkat ini, sang hamba menyadari bahwa “La mawjuda illa Allah”—tidak ada yang benar-benar wujud selain Allah, karena wujud makhluk hanyalah wujud yang bergantung, wujud yang dipinjamkan, wujud yang setiap saat bisa ditarik kembali oleh Pemilik Sejati.
Fondasi Qur’ani dan Kenabian: Panggilan untuk Binasa
Para sufi tidak pernah melepaskan ajaran mereka dari fondasi al-Qur’an dan Sunnah. Mereka adalah para penjaga syariat yang paling ketat, justru karena mereka memahami bahwa hakikat hanya bisa dicapai melalui syariat. Doktrin fana’ berpijak kokoh pada firman Allah dalam Surah al-Rahman ayat 26-27: “Kullu man ‘alaiha fan. Wa yabqa wajhu Rabbika dzul jalali wal ikram”—”Segala sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
Ayat ini, bagi para arif, bukan sekadar pernyataan tentang kematian fisik di akhir zaman. Ia adalah penyingkapan realitas ontologis yang paling fundamental: bahwa segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya adalah fana’—tidak memiliki wujud yang mandiri, tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri. Kefanaan adalah hukum alam semesta; hanya Allah yang Baqa’—Yang Maha Kekal dengan Kekekalan yang mutlak. Setiap makhluk, dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari Arasy hingga semut, dari malaikat hingga debu, semuanya tunduk pada hukum fana’ ini. Hanya Wajah Allah—Dzat-Nya, Sifat-Nya, Wujud-Nya—yang tetap kekal abadi. Maka fana’ yang dialami oleh para sufi adalah realisasi eksistensial dari ayat ini. Mereka tidak menunggu kematian untuk “binasa”; mereka memilih untuk “mati sebelum mati” (mutu qabla an tamutu), sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw. Hadis ini, yang sangat masyhur di kalangan sufi, adalah undangan untuk mematikan ego dan hawa nafsu sebelum kematian jasmani menjemput. Dengan “kematian” ini, ketika ajal tiba, mereka menyambutnya sebagai perjumpaan yang telah lama dirindukan, bukan sebagai perpisahan yang menakutkan. Bagi mereka, kematian adalah hari raya—’id—karena itulah saat di mana mereka akhirnya bertemu dengan Kekasih yang selama ini mereka rindukan.
Fana’ dan Baqa’: Dua Sisi dari Satu Realitas yang Tak Terpisahkan
Kesalahpahaman terbesar tentang fana’ adalah anggapan bahwa ia adalah tujuan akhir dari perjalanan spiritual. Sebagian orang membayangkan para sufi sebagai manusia yang tenggelam dalam lautan ekstase spiritual, kehilangan kesadaran, tak lagi peduli pada dunia dan urusannya, hidup dalam menara gading yang terputus dari realitas. Gambaran ini bukan sepenuhnya salah, tetapi ia hanya menangkap setengah dari kebenaran—dan setengah kebenaran seringkali lebih berbahaya daripada kebohongan total.
Sebab fana’ yang sejati selalu melahirkan baqa’. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama, dua sayap dari burung yang sama, dua fase dari satu perjalanan yang sama. Baqa’ adalah kelanjutan organik dari fana’: setelah “aku” yang palsu lenyap, “aku” yang sejati—yang merupakan tajalli dari sifat-sifat Ilahi—justru tampil dengan lebih jernih, lebih cemerlang, lebih autentik. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Kamasykhanawi, fana’ dan baqa’ adalah proses pengosongan dan pengisian: mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji. Seperti gelas kotor yang dikosongkan dari air keruh untuk kemudian diisi dengan air jernih—gelasnya tetap ada, tetapi isinya telah berubah total.
Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyah menulis dengan keindahan bahasa yang memukau: “Fana’ adalah lenyapnya seorang hamba dari dirinya sendiri melalui penenggelaman dalam penyaksian terhadap Allah; dan baqa’ adalah kelanggengannya melalui penyaksian terhadap Allah.” Perhatikan kata-kata “dari dirinya sendiri”—bukan dari eksistensinya sebagai makhluk, melainkan dari kesadaran egonya yang sempit dan terbatas. Sang hamba tidak berubah menjadi Tuhan—ta’ala Allah ‘an dzalika ‘uluwwan kabira—melainkan ia menjadi hamba yang sejati, hamba yang sepenuhnya menyadari kehambaannya, hamba yang seluruh eksistensinya merupakan persembahan kepada Sang Pencipta.
Dengan baqa’, seorang sufi kembali ke dunia dengan kesadaran yang justru lebih tajam, lebih jernih, lebih penuh. Ia tidak lagi melihat dunia sebagai saingan bagi Allah—sebagaimana anggapan orang-orang yang belum memahami—tetapi sebagai ayat-ayat yang menyingkapkan keindahan-Nya. Setiap dedaunan yang jatuh, setiap tetes hujan yang turun, setiap senyum anak kecil, setiap detak jantung—semuanya menjadi cermin yang memantulkan keindahan Sang Pencipta. Ia tidak lagi berinteraksi dengan manusia dari balik topeng ego, melainkan dengan kelembutan dan kebijaksanaan yang bersumber dari sifat-sifat Ilahi yang telah tertanam dalam dirinya.
Inilah rahasia mengapa para wali justru menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi masyarakat: bukan meskipun mereka fana’, tetapi justru karena mereka telah fana’ dan kemudian baqa’. Fana’ telah melenyapkan egoisme mereka, dan baqa’ telah mengisi mereka dengan sifat-sifat Ilahi yang menjadi sumber segala kebaikan. Dari tangan mereka mengalir keberkahan, dari lisan mereka menetes hikmah, dari kehadiran mereka terpancar ketenangan yang menyejukkan jiwa-jiwa yang gelisah.
Fana’ fil Fana’: Anatomi Peleburan Mutlak yang Menembus Hijab Terakhir
Jika fana’ sudah begitu tinggi, masih adakah maqam di atasnya? Pertanyaan ini membawa kita ke pembahasan tentang salah satu maqam paling misterius, paling radikal, dan paling jarang diuraikan dalam literatur tasawuf: fana’ al-fana’ atau fana’ fil fana’. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “lebur dalam peleburan” atau dalam bahasa Inggris disebut annihilation of annihilation. Ia merupakan salah satu maqam spiritual tertinggi dalam tradisi tasawuf, sebuah maqam yang hanya bisa dimasuki setelah seluruh kesadaran diri luruh tanpa sisa, setelah seluruh hijab—bahkan hijab yang paling halus—telah disingkapkan.
Untuk memahami fana’ fil fana’ secara mendalam, kita harus menelisik dengan cermat anatomi spiritual seorang penempuh jalan ruhani (salik) yang sedang mengalami jadzbah atau ekstase ketuhanan. Di sinilah kita akan menyaksikan betapa bertingkat dan berlapisnya pengalaman peleburan yang dilalui oleh jiwa yang sedang ditarik menuju Hadirat Ilahi.
Tahap Pertama: Fana’ sebagai Peleburan Awal
Pada tahap ini, yang merupakan fana’ dalam pengertian dasarnya, terjadi keruntuhan total pada bangunan ego kesadaran manusia (basyariyyah). Ini adalah peristiwa spiritual yang dahsyat, yang dalam bahasa para sufi sering digambarkan sebagai “kiamat kecil”—al-qiyamah al-shughra. Seluruh konstruksi mental yang selama ini membentuk identitas “aku”—ingatan, harapan, ketakutan, kebanggaan, penyesalan—runtuh seketika bagaikan istana pasir yang diterjang gelombang.
Sang hamba tidak lagi melihat, mendengar, atau merasakan eksistensi alam semesta. Segala sesuatu yang fana’—yakni yang tidak kekal, yang terikat ruang dan waktu, yang tunduk pada hukum perubahan—lenyap dari pandangan batinnya. Seluruh orientasi kesadarannya bergeser secara revolusioner: dari memandang makhluk yang beraneka ragam (katsrah) menjadi hanya menyaksikan Sang Khalik Yang Maha Esa (wahdah). Ia bagaikan seseorang yang selama ini hidup dalam gua gelap dan tiba-tiba dibawa ke padang luas di bawah terik matahari—matanya silau, seluruh referensi lamanya runtuh, dan yang tersisa hanyalah cahaya yang meliputi segalanya.
Dalam keadaan ini, sang salik tenggelam dalam kesaksian mutlak atas Yang Maha Kekal, Al-Baqi. Ia bagaikan seseorang yang berdiri di tepi samudera tak bertepi, lalu melompat ke dalamnya, dan pada saat yang sama kehilangan kesadaran bahwa ia pernah berdiri di tepi, bahwa ia memiliki tubuh, bahwa ia adalah “seseorang” yang berbeda dari samudera. Yang tersisa hanyalah samudera—dan samudera itu adalah kehadiran Ilahi yang meliputi segala sesuatu.
Para sufi menggambarkan tahap ini dengan metafora yang telah kita singgung sebelumnya: fana’ adalah ketika setetes air jatuh ke lautan. Tetes itu tidak lagi memiliki bentuk, batas, atau nama yang membedakannya dari lautan. Ia telah menjadi lautan itu sendiri, meskipun esensinya sebagai air tetaplah air. Demikian pula, sang hamba yang fana’ telah kehilangan segala atribut kemanusiaannya yang terbatas, tetapi eksistensinya sebagai makhluk tidaklah musnah—ia hanya kehilangan kesadaran akan keterpisahannya dari Sang Pencipta. Inilah yang dalam tradisi sufi disebut sebagai al-jam’u—penyatuan dalam kesaksian—yang merupakan lawan dari al-farqu—kesadaran akan keterpisahan.
Tahap Kedua: Fana’ fil Fana’ sebagai Peleburan Mutlak yang Menembus Hijab Terakhir
Namun di sinilah letak jebakan spiritual yang paling halus dan paling berbahaya. Jebakan yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang telah sampai, dan hanya bisa diuraikan oleh para guru yang telah melewatinya. Pada tahap fana’ awal, seorang sufi sering kali masih memiliki sisa kesadaran mikro yang nyaris tak terdeteksi—sehalus rambut yang dibelah tujuh, seringan sayap kupu-kupu, sekilas bagai kilatan petir di cakrawala. Kesadaran mikro itu adalah: “Aku sedang mengalami fana’.”
Ada semacam “diri yang menyaksikan” (al-musyahid atau al-syahid) yang masih eksis sebagai subjek dari pengalaman fana’ itu sendiri. Kata “aku” dalam pernyataan “aku telah fana'”—meskipun hanya sebersit, meskipun hanya sekejap—dinilai oleh para arif sebagai tabir (hijab) terakhir yang menghalangi penyaksian murni. Ini adalah hijab yang paling halus, hijab yang bersembunyi di balik hijab-hijab yang telah disingkapkan.


