Empat Saham Ini Top Losers Minggu Ini, Siapa Aja?

SURABAYAONLINE.CO – Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup memerah, terdapat 4 saham top losers yang ambles hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% pada perdagangan hari ini, Kamis (21/10). Dua di antara keempat saham tersebut adalah emiten BUMN Karya.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,35% ke posisi 6.632,972, dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,20 triliun dan volume perdagangan mencapai 28,80 miliar saham.

Investor asing pasar saham masuk ke bursa RI dengan catatan beli bersih asing mencapai Rp 582,93 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 55,54 miliar.

Berikut 4 saham yang ambles hingga menembus batas ARB hari ini (21/10)
  1. Surya Esa Perkasa (ESSA), saham -6,74%, ke Rp 360, transaksi Rp 77,5 M
  2. PP (PTPP), -6,72%, ke Rp 1.250, transaksi Rp 90,6 M
  3. Wijaya Karya (WIKA), -6,67%, ke Rp 1.330, transaksi Rp 99,0 M
  4. Smartfren Telecom (FREN), -6,59%, ke Rp 85, transaksi Rp 135,9 M

Saham emiten kilang bahan bakar gas cair (LNG) dan produsen amonia yang sebagian sahamnya dimiliki konglomerat TP Rachmat ESSA ambles hingga ARB 6,74% ke Rp 360/saham.

Investor tampaknya mulai melakukan aksi ambil untung setelah saham ESSA melesat selama 4 hari terakhir. Dalam sepekan saham ini melejit 18,42%, sedangkan dalam sebulan terkerek 16,88%.

Dalam surat kepada pihak bursa, pada Selasa (19/10), soal penjelasan atas volatilitas transaksi saham, manajemen ESSA menyatakan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan.

“Perseroan tidak mengetahui Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik,” jelas pihak ESSA, dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (21/10).

Manajemen ESSA juga menyatakan, perseroan tidak memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat, paling tidak dalam 3 bulan mendatang.

Kabar terbaru, pada Kamis (21/10), dalam keterbukaan informasi BEI, pihak ESSA menjelaskan bahwa pada tanggal 11 Oktober 2021, manajemen entitas anak ESSA, yaitu PT Panca Amara Utama (PAU) berinisiatif untuk melakukan perawatan (maintenance) turnaround pertama sejak commissioning pabrik.

Menurut penjelasan ESSA, turnaround maintenance tersebut merupakan kegiatan yang sangat penting bagi keberlangsungan pabrik.

“[Turnaround maintenance tersebut] dilakukan saat pabrik berada dalam keadaan shutdown, termasuk penggantian dan pemeliharaan korektif peralatan dan katalis, yang akan berlangsung selama 1 (satu) bulan. Manajemen PAU berfokus pada lakukan turnaround maintenance secara aman, efisien dan tepat waktu,” jelas pihak ESSA.

Penutupan pabrik sementara tersebut, imbuh manajemen ESSA, memiliki dampak terhadap kegiatan operasional, tetapi tidak memiliki dampak hukum, kondisi keuangan, ataupun kelangsungan usaha perusahaan.

Sementara, duo saham konstruksi pelat merah PTPP dan WIKA juga sama-sama ambles hingga ARB, yakni masing-masing merosot 6,72% dan 6,67%.

Koreksi kedua saham tersebut menyusul tren penguatan saham-saham konstruksi pada pekan lalu. Bahkan, pada Selasa (12/10), saham PTPP dan WIKA bercokol di deretan 5 besar saham top gainers.

Sentimen terbaru soal emiten konstruksi datang dari Indonesia Investment Authority (INA), dana abadi milik RI, yang mengatakan, saat ini terdapat sejumlah investor yang berminat untuk berinvestasi di proyek infrastruktur Tanah Air.

Juru Bicara INA Masyita Crystallin menjelaskan, saat ini INA memiliki dua metode pendanaan bagi investor yang tertarik masuk ke Indonesia, yakni melalui master fund dan thematic fund.

Saat ini, INA mempunyai thematic fund untuk proyek infrastruktur jalan tol senilai US$ 3,75 miliar atau setara Rp 53,63 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per US$).

Adapun saham emiten telekomunikasi Grup Sinar Mas FREN ambles 6,59% ke Rp 85.saham, melanjutkan koreksi dalam 2 hari terakhir. Saham FREN memang sedang dalam fase penurunan (downtrend) setelah sempat mencicipi level Rp 160-an/saham pada awal Agustus lalu.

Sebelumnya, manajemen FREN memberikan respons terkait kabar masuknya investor global, Alibaba milik crazy rich China Jack Ma, yang disebutkan membeli saham perseroan.

Direktur FREN, Antony Susilo, dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, sebagai perusahaan publik, perseroan terbuka bagi investor lokal maupun global.

Namun demikian, kata dia, sampai dengan saat ini, belum ada kesepakatan mengenal ini yang bisa diumumkan lebih lanjut kepada publik.