Panti Achmad Dahlan Olah Jelantah Jadi Sabun

SURABAYAONLINE.CO – Guna meningkatkan kemandirian wirausaha wali santri, Panti Asuhan Muhammadiyah (PAM) Achmad Dahlan menggandeng Komunitas Muda-Mudi Surabaya (KMS) menggelar pelatihan pengolahan minyak goreng bekas menjadi sabun cuci tangan, Sabtu (16/10).

Sekretaris KMS, Arief Prayogo, mengungkapkan pelatihan pengolahan atau pembuatan sabun dari minyak goreng bekas karena dapat memanfaatkan limbah rumah tangga yang sering terabaikan. Tujuannya untuk mengedukasi ibu-ibu wali santri yang biasanya menghasilkan limbah minyak goreng yang tidak terpakai dan mencemari lingkungan jika dibuang. “Minyak goreng bekas atau yang biasa disebut minyak jelantah, ketika telah diolah hasilnya menjadi sabun yang ramah lingkungan,” terang Arief.

Ditempat yang sama, Kepala Panti Asuhan Achmad Dahlan, Slamet Supriyadi menambahkan bahwasanya pihak panti menggandeng Komunitas Muda-Mudi Surabaya supaya dapat memberikan informasi secara meluas pada masyarakat tentang adanya manfaat lain dari minyak goreng bekas. “Daripada membuang minyak jelantah, lebih baik kita memanfaatkannya dengan membuat sabun”, ungkap Slamet.

Masih dengan Slamet, pihaknya juga membuat Dahlan Store yang berorientasi pada penjualan online yang menjadi wadah produk-produk wali santri yang kesulitan untuk penjualannya secara langsung. “Sudah sebulan santri Panti Achmad Dahlan telah belajar pembuatan toko online untuk mempermudah penjualan, jadi saat ini dan kedepannya kami akan lanjutkan program kemandirian wirausaha dengan pelatihan ketrampilan untuk membuat produk kepada Wali santri sehingga hasilnya akan kami bantu pasarkan melalui Dahlan Store”, tambah Slamet.

Sementara itu, salah satu Wali santri, Lissanifah sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan kemandirian wirausaha yang digelar pihak panti untuk meningkatkan perekonomian ibu-ibu wali santri. “Saya baru mengetahui kalau ternyata minyak bekas bisa diolah menjadi sabun, karena selama ini minyak bekas selalu saya buang. Setelah ini akan saya coba praktekkan di rumah sehingga bisa menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis”, papar Lissa.