Ketua MUI: Banyak Remaja Gresik Hamil Sebelum Nikah

SURABAYAONLINE.CO, GRESIK – Memprihatinkan. Data di Pengadilan Agama (PA) Gresik, menyebutkan ada 124 calon pengantin yang mengajukan dispensasi menikah, 49 persen di antaranya beralasan karena calon pengantin perempuan hamil duluan.

“Data yang kami terima dari PA Gresik antara Januari – Juni 2021. Persoalan ini harus menjadi perhatian bersama khususnya pemerintah,” kata Ketua Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik KH Mansoer Shodiq, saat audiensi dengan Ketua DPRD Gresik, Rabu (23/6).

Mansoer menjelaskan, pernikahan dini harus menjadi perhatian bersama, apalagi jumlahnya meningkat setiap tahun.

MUI sebenarnya sudah melakukan antisipasi dengan mendirikan lembaga konseling di PA Gresik, tujuannya mereka menunda pernikahan.

“Tapi yang terjadi, banyak anak muda yang sudah hamil duluan. Ini memprihatinkan, makanya harus ada solusi kongkrit terkait persoalan tersebut,” jelasnya.

Selain kasus hamil sebelum nikah, MUI Gresik juga membawa dua isue lainnya. Yakni peredaran narkoba, dan menjamurnya kasus renternir yang menjerat warga miskin.

“Persoalan narkoba, sungguh sudah mewabah. Salah satu indikasinya, ada 846 penghuni rutan Kelas II B Gresik, 584 orang di antaranya merupakan kasus narkoba,” terangnya.

Dari angka tersebut, 90 persen merupakan warga Gresik. MUI sebenarnya berikhtiyar mengawal keumatan, khususnya dengan narkoba, mengurangi dampaknya, dengan mendirikan pesantren At-Taubah di dalam rutan.

“Salah satu korban narkoba adalah jebolan santri ,yang hafal kitab manaqib. Ini menandakan jika narkoba bisa menyasar semua kelompok,” ujarnya.

Mengenai renternir, MUI memiliki data sementara korban renternie sebanyak 200 orang.

*Saya yakin ini lebih banyak lagi. Mohon pemerintah melakukan langkah antisipasi keberadaan renternir,” pintanya.

Ketua DPRD Gresik Abdul Qodir mengatakan, persoalan nikah dini sebenarnya sudah ada Perdanya. Namun dianggap sudah usang, perlu ada revisi untuk memasukan beberapa poin pencegahan pernikahan dini, khususnya pencegahan hamil di luar nikah.

“Urusan narkoba sudah ada Perda pencegahan dan peredaran, bulan kemarin sangat masif dilakukan sosialiasi. Poin pentingnya kami menyambut baik, Perda kita sosialisasikan dengan sinergitas dengan MUI,” jelasnya.

Adapun terkait renternir, Qodir sendiri menganggap keberadaanya sangat masif. Dia mengkategorikan ada dua renternir. Yakni formal dan informal. Di Kecamatan Driyorejo pola rentenir mendekati pekerja pabrik.

Dengan jaminan ATM dipegang rentenir. Artinya dia bekerja setiap hari, tapi di akhir dia jual rumah dan tanah.

Untuk itu, DPRD mengantisipasi dengan Perda Kredit Usaha Rakyat Daerah (Kurda), yang mengatur pinjaman dengan bunga di bawah 5 persen.

“Mengurangi kemiskinan adalah mengurangi beban hidup bagi keluarga yang kurang mampu. Kami sudah minta pemerintah, jangan sampai mereka disuruh minta surat miskin dari desa. Biasanya mereka sudah minder duluan, kan datanya sudah ada tinggal diberikan,” pungkasnya. (san)