Studi di India Perokok dan Orang dengan Golongan Darah O Gak Mudah Kena Covid-19

SURABAYAONLINE.CO – Sebuah penelitian di India menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 hampir membuat perokok dan orang-orang bergolongan darah ‘O’ terhindar. Serosurvey yang dilakukan oleh Indian Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) juga menemukan bahwa vegetarian juga memiliki lebih sedikit sero-positivitas dibandingkan populasi lainnya.

Serosurvey pan-India mempelajari keberadaan antibodi terhadap SARS-CoV-2 pada manusia. Salah satu penulis penelitian mengatakan bahwa makalah tersebut baru-baru ini ditinjau oleh rekan sejawat.

Sementara perokok dan vegetarian memiliki sero-positif yang lebih rendah, mereka dengan golongan darah ‘O’ ternyata kurang rentan (tidak gampang tertular) terhadap penyakit tersebut, Press Trust of India (PTI) melaporkan, mengutip penelitian tersebut.

Temuan Serupa di Negara Lain

Menariknya, temuan survei tersebut juga menguatkan pengamatan yang dilakukan di negara-negara termasuk Amerika Serikat terkait persentase perokok yang lebih rendah terinfeksi virus corona.

Survei di India dilakukan oleh tim yang terdiri dari 140 dokter dan ilmuwan dan meninjau lebih dari 10.000 peserta secara sukarela. Temuan paling menarik adalah bahwa meskipun COVID-19 adalah penyakit pernapasan, perokok cenderung tidak terlalu terpengaruh olehnya. Kesimpulan yang dibuat dalam penelitian ini adalah bahwa merokok meningkatkan produksi mukus, sehingga menghasilkan resistensi tertentu terhadap virus.

“Merokok diketahui sangat merusak kesehatan dan dikaitkan dengan berbagai penyakit dan pengamatan ini tidak boleh dianggap sebagai dukungan, terutama mengingat bahwa hubungan tersebut tidak terbukti menjadi penyebab,” kata studi tersebut. Namun, ini memperingatkan orang untuk tidak membuat asumsi tetapi menunggu studi lebih lanjut.

Studi tersebut juga menyebutkan bahwa makanan vegetarian yang kaya serat juga memberikan kekebalan tubuh lebih.

Mengenai golongan darah, survei tersebut mengatakan bahwa sementara orang dengan golongan ‘O’ kurang rentan, mereka dengan ‘B’ dan ‘AB’ berada pada risiko yang lebih tinggi.

Laporan itu juga mengutip temuan sebelumnya di Prancis, Italia, China, dan AS terkait hubungan antara merokok dan infeksi virus corona. Sesuai studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), hanya 1,3 persen dari peserta survei adalah perokok sementara data menunjukkan bahwa 14 persen orang Amerika adalah perokok.

Makalah akademis lain yang mengamati berbagai penelitian di Inggris, China, Prancis, dan AS juga menemukan bahwa rasio perokok di antara pasien yang dirawat di rumah sakit jauh lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum. Misalnya di Inggris Raya, tingkat nasional merokok adalah 14 persen tetapi perokok hanya mencakup lima persen dari pasien yang dirawat di rumah sakit.

Di Prancis, persentase perokok di antara rawat inap terkait Covid adalah 7 persen, sedangkan rata-rata perokok nasional di atas 30 persen.

Studi tersebut dilakukan pada saat India bergulat dengan lonjakan kasus virus korona dan kekurangan tempat tidur rumah sakit dan oksigen.(ibt)