Memotret Ala Diniek G Sukarya “Belajar Melihat dari Mata Hati” | ini Pengalaman Maestro Fotografi Indonesia

Surabayaonline.co | Bali – Nama Deniek G Sukarya di dunia fotografi tentu tak asing lagi. Tak diragunkan Deniek memiliki segudang pengalaman di dunia ini. Untuk mendapatkan sebuah gambar yang menarik terkadang tidak harus bersusah payah, namun tak jarang harus dengan penuh perjuangan.

Deniek membeberkan pengalamannya saat medapatkan foto manusia dan aktivitasnya, yang diyakini layak untuk koleksi stockphotonya. Berikut pengalaman Deniek di balik sebuah karya fotonya itu:

“Bila kita bertemu sebuah pemandangan yang menarik hati, berhentilah sejenak dan bertanya kenapa dan apa yang membuatnya tampak menarik,” ungkap Deniek sebelum mengeksekusi sebuah pemandangan yang diyakini menarik.

Deniek kemudian menjelaskan, mungkin simbolisme yang direpresentasikan oleh subyek foto, dan kondisi khas yang mengetuk hati kita atau fenomena alam yang tampak di luar yang biasa kita lihat seperti yang diilustrasikan oleh dua seri foto berikut ini:

MATA HATI – Foto karya Deniek Sukarya tentang penjual keranjang keliling di Magelang, Jawa Tengah, dan foto petani bawang di Brebes, Jawa Tengah sebagai ungkapan mata hatinya.

PERJUANGAN MEMOTRET

Kemudian Deniek menjelaskan dua foto ini menurutnya menorehkan kesan yang sangat dalam di hatinya, tentang perjuangan hidup yang berat dalam mencari nafkah tapi tetap tegar dan menjalankannya dengan sepenuh hati.

Berpijak pada emosi yang dirasakan itu, dengan cepat Diniek berinisiatif membuat visualisasi untuk menciptakan sebuah foto yang mampu mengekpresikan apa yang dia lihat dan rasakan.

Kemudian Deniek menjelaskan, untuk foto pedagang keranjang, ingin menangkap sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan penuh mara bahaya di tengah ramainya lalu lintas di jalan raya Magelang – Yogyakarta.

“Saya memakai kamera Medium Format manual Zensa Bronica SQi dan lensa Zensanon tele 500 mm. Saya dengan cepat menyalip dia, berhenti sekitar 200 m di depannya,” ungkap Deniek Sukarya.

Kemudian Deniek mulai menyetel eksposur dengan film slide Fujichrome Provia 100D, kecepatan rana 1/500, diafragma f.8, dan menentukan titik fokus untuk memakai teknik trap focus.

Kemudian menjepret ketika subyek masuk ke bidang fokus, tanpa tripod. “Saya membidik sambil jongkok, ketika dia masuk fokus, saya langsung jepret, dan hanya dapat 1 frame saja,” jelasnya.

Kemudian langkah itu diulang kembali, berhenti dua kali untuk mengambil 2 frame foto saja. “Dia selalu tersenyum ketika melewati saya, demikian juga saya. Salam hormat pak, semoga semua terjual dan selamat sampai di rumah,” sapa Deniek kepada pedagang itu.

Sedang untuk foto petani bawang dengan baju merah di tengah hamparan ladang bawang hijau segar juga menarik perhatian Deniek Sukarya.

“Foto ini adalah ketika saya dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Saya berhenti dan menyebrang jalan untuk memotret dia dan beberapa temannya bekerja,” ungkap Didiek tentang pengalaman memotret itu.

Dijelaskan oleh Deniek, untuk membuat kreasi visual dengan memanfaatkan alur garis ladang bawang dan menunggu petani dan teman-temannya untuk masuk di komposisi yang ingin dia ciptakan.

Masih kata Deniek, salah satu yang paling dia suka dalam foto ini ketika dia (petani) sendirian bekerja dengan serius.

Semuanya berjalan sesuai irama kerja mereka, “saya hanya menunggu saat yang tepat, pada posisi yang tepat untuk menjepretnya dengan kamera manual medium format Hasselblad 503 CXi dengan Tele Sonnar CF 250mm/5.6 dengan Fujichrome Provia 100D, 1/125, f.5.6,” ungkap Deniek menunjukkan hasil fotonya. (dd)