Fenomena Petani Cabai Mojokerto Jadi Jutawan Borong Mobil dan Motor

SURABAYAONLINE.CO – Mojokerto – Fenomena petani kaya tidak hanya terjadi di Tuban saja. Kalau dituban mereka mendapat ganti untung, karena minyak.

Berberda dengan di Mojokerto, mendapat banyak uang akibat melejitnya harga cabai, yang membuat mereka mampu membeli mobil, motor, rehap rumah hingga menutup hutang.

Seorang petani bernama Ngatiyo (50) misalnya panen cabai tahun ini bisa bermanfaat banyak.

“Mulai dari beli mobi seharga 125 juta, renovasi 50 juta, menutup hutang dan untuk biaya tanam tahun depan,” ujar Ngatiyo.

Berbeda dengan Listiono hasil panen cabai ia gunakan untuk membeli mobil seharga 145 juta, untuk biaya tanam tahun depan dan kebutuhan lain.

Fenomena petani cabai mendadak kaya borong motor, mobil salah satunya terjadi di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jatim.

Di desa ini 90 persen dari penduduknya yang berjumlah 1.100 KK adalah para petani utun, yang menggantungkan rezekinya dari hasil pertanian.

Beruntung, warga di daerah ini memang menjadikan tanaman cabai menjadi komoditas unggulan warga di desa ini.

Dan tahun ini benar-benar beruntung, karena tanaman mereka sangat bagus dengan dukungan kondisi cuacanya.

Dan yang lebih menguntungkan lagi adalah harga cabai, saat ini harganya melejit selangit. Di Pasar Wonokromo Surabaya, harga cabai rawit pernah menembus angka Rp120 ribu per kg.

Tentu saja, panen raya tahun ini benar-benar terasa manis bagi para petani cabai di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini.

PANEN RAYA – Petani di Mojokerto memanen cabai rawit mereka, yang menjadi berkah bagi mereka

Luasan lahan yang mereka garap untuk bertanam cabai rawit pun bervariasi.

Mulai dari 500 meter persegi hingga lebih dari 1 hektare. Tersebar di Dusun Wotgaru, Pucuk, Brejel Lor, Brejel Kidul dan Kwarigan, wilayah Kabupaten Mojokerto.

“Cabai komoditas unggulan. Setiap tahun saat masuk musim hujan ya tanam cabai,” kata Kades Pucuk Nanang Sudarmawan kepada detikcom di rumahnya, Rabu (31/3/2021).

Panen raya sejak akhir Januari 2021 lalu, lanjut Nanang, benar-benar fenomenal. Betapa tidak, hasil panen yang melimpah disambut dengan harga cabai rawit yang mencapai Rp 95.000/kg.

Tak ayal banyak petani cabai di desanya mendadak jadi jutawan. Bahkan, keuntungan panen cabai yang berjibun membuat para petani di Desa Pucuk memborong sekitar 50 sepeda motor dan 3 mobil.

Mayoritas sepeda motor yang dibeli para petani cabai di Desa Pucuk dalam kondisi baru merk Honda Scoopy dan PCX. Ada pula yang mampu merenovasi rumah senilai Rp 50 juta.

“Banyak yang beli motor memang benar, kurang lebih satu desa 50 orang. Ada tiga orang yang beli mobil jenis Avanza dan Ertiga dari hasil panen cabai,” ungkapnya.

Salah seorang petani di Dusun/Desa Pucuk Listiono (56) mampu membeli mobil Toyota Avanza menggunakan uang hasil panen cabai rawit.

Mobil warna putih itu dia beli dalam kondisi bekas sekitar 2 pekan yang lalu seharga Rp 145 juta.

“Karena mobil menjadi kebutuhan keluarga. Anak saya tinggalnya jauh di Lumajang, saudara juga jauh-jauh. Biasanya numpang mobil saudara kalau ke sana. Sekarang alhamdulillah jelek-jelek sudah punya sendiri,” terangnya. (*/detikcom)