Perang sengit Armenia – Azerbaijan: Hampir 100 Orang Trwas

SURABAYAONLINE.CO-Hampir 100 orang, termasuk warga sipil, meninggal karena pertempuran sengit yang masih terus berlanjut antara pasukan Armenia dan Azerbaijan terkait wilayah yang dipersengketakan Nagorno-Karabakh.

Kawasan pegunungan ini dikenal sebagai bagian dari Azerbaijan namun dikendalikan oleh etnik Armenia sejak perang yang berakhir pada 1994.

Armenia melaporkan kematian 84 tentara sejak hari MInggu (27/08) dan juga jatuhnya korban dari pihak sipil.

Azerbaijan belum melaporkan korban jiwa dari pihak militer namun memastikan tujuh korban sipil.

Kementerian pertahanan Armenia melaporkan Selasa (29/09), satu bus penumpang terhantam drone Azerbaijan di kota Vardenis. Tidak ada laporan terkait korban.

Azerbaijan sebelumnya mengatakan dua warga sipil twewas dalam pengeboman Armenia di Azerbaijan Senin (28/09), setelah kematian lima orang dari keluarga yang sama sehari sebelumnya.

Kawasan Nagorno Karabakh dipersengketakan pada akhir 1980a-an dan awal 1990-an. Walaupun kedua negara menetapkan gencatan senjata, mereka belum pernah menyepakati traktat perdamaian.

Nagorno-Karabakh adalah bagian dari Azerbaijan namun penduduk mayoritas dari Armenia.

Saat Uni Soviet ambruk pada 1980-an, Nagorno-Karabakh memilih untuk menjadi bagian dari Armenia, dan memicu perang dan menghentikan gencatan senjata yang ditetapkan 1994.

Sejak itu, Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian dari Azerbaijan, namun dikuasai separatis etnik Armenia dan didukung oleh pemerintah Armenia.

Perundingan selama puluhan tahun, dan dimediasi oleh pihak internasional, belum pernah traktat perdamaian.

Armenia adalah mayoritas Kristen sementara kawasan kaya minyak Azerbaijan adalah mayoritas Muslim. Turki memiliki hubungan dekat dengan Azerbaijan, sementara Rusia bersekutu dengan Armenia, walaupun memiliki hubungan baik dengan Azerbaijan.

Pemerintah di Nagorno-Karabakh, yang didukung oleh Armenia mengatakan 31 tentara mereka tewas dan sebagian tempat yang dikuasai, kembali diambil alih kembali.

Azerbaijan mengatakan pasukan mereka menimbulkan “kerusakan besar” dan Armenia melakukan pengeboman dan melukai 26 warga sipil.

Kedua belah pihak mengatakan memobilisir lebih banyak tentara dan menetapkan kondisi darurat di sejumlah tempat.

Pertempuran itu adalah yang paling parah sejak 2016 dengan korban jiwa lebih dari 200 orang saat itu.

Turki telah menetapkan dukungan kepada Azerbaijan, sementara Rusia – yang memiliki basis militer di Armenia namun berhubungan baik dengan Azerbaijan – menyerukan gencatan senjata.

Armenia menuduh Turki memberikan bantuan militer untuk Azerbaijan, klaim yang disanggah Azerbaijan.

Hari Senin (28/09), Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan Armenia harus segera mengakhiri “pendudukan” di kawasan itu dan dikatakan Erdogan akan mengakhri krisis panjang.

Dalam wawacara dengan BBC, Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan menuduh Azerbaijan mensabotase penyelesaian damai dan menekankan Armenia harus membela kawasan itu.(bbc)