Author: Andy Setiawan

Oleh: Hadipras  SURABAYAONLINE.CO – Ada yang menggelitik sekaligus memprihatinkan ketika kita menyaksikan bagaimana energi kolektif sebuah bangsa yang besar ini habis diperas oleh perkara selembar kertas bernama ijazah. Kita tidak sedang membicarakan perdebatan akademis di ruang kuliah, melainkan sebuah drama birokrasi yang hari-hari ini sedang menggelinding dari ruang sidang Komisi Informasi Publik (KIP) hingga ke depo-depo arsip daerah. Ketika institusi negara mulai saling lempar tanggung jawab dan komisioner harus turun langsung ke lapangan hanya untuk melacak keabsahan dokumen masa lalu, kita tahu ada yang tidak beres dalam logika bernegara kita. Jika kita bedah menggunakan kacamata logika digital modern—logika ‘If-Then’—sebuah sistem…

Read More

Oleh: Hadipras  Lanskap Teater Politik yang Vulgar SURABAYAONLINE.CO – Hari-hari ini, kita dipaksa menyaksikan sebuah teater politik yang vulgar. Ruang publik kita disesaki oleh benturan logika yang waras melawan kebebalan struktural yang kian hari kian pongah. Skandal mega korupsi tidak lagi disembunyikan di bawah karpet birokrasi, melainkan dipertontonkan sebagai bagian dari posisi tawar antarelite. Kita berada dalam jerat sistem yang di dalam literatur politik global disebut sebagai ‘State Capture’—pembajakan negara secara paripurna. Hukum bukan lagi panglima untuk mengadili kejahatan, melainkan perkakas mekanis yang dikooptasi demi melegalkan syahwat kekuasaan, melanggengkan dinasti, dan melindungi lingkaran kroni. Logika publik sebenarnya telah lama mengambil…

Read More

Oleh: Hadipras SURABAYAONLINE.CO – Sensus Ekonomi (SE) diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap sepuluh tahun sekali. Momentum survey SE 2026 yang berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Juli 2026 menjadi titik krusial bagi arah kebijakan nasional. Sebagai sensus ke-5, SE2026 mengemban tugas berat memotret realitas struktur usaha non-pertanian di Indonesia melalui tiga metode hibrida: CAWI (daring), CATI (telepon), dan CAPI (door-to-door). Namun, di balik kecanggihan metodologi tersebut, terdapat risiko struktural berupa bias data yang merugikan pelaku usaha kecil. Ambiguitas ini dipicu oleh perubahan definisi klasifikasi yang diadopsi dari UU Cipta Kerja melalui PP No. 7 Tahun 2021. Kekhawatiran bahwa…

Read More

Oleh: Nurul Hidayati (Alumni GMNI UNESA 2011) Bagian I: Momentum Menata Kualitas Demokrasi Lokal SURABAYAONLINE.CO – Wacana penambahan daerah pemilihan (dapil) Kota Surabaya dari lima menjadi delapan sebagaimana berkembang dalam ruang publik belakangan ini patut diapresiasi sebagai momentum untuk mengevaluasi kualitas representasi politik di tingkat lokal. Di tengah pertumbuhan jumlah penduduk, perluasan kawasan perkotaan, serta meningkatnya kompleksitas persoalan masyarakat, sistem representasi politik juga harus mampu beradaptasi dengan dinamika tersebut. Namun demikian, pembahasan mengenai penambahan dapil hendaknya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa jumlah dapil yang ideal”. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana daerah pemilihan itu disusun. Penambahan jumlah dapil tanpa…

Read More

Oleh: Rizal Haqiqi, Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya Angka-Angka yang Berbicara SURABAYAONLINE.CO – DI dalam kesunyian malam, ketika sebagian besar manusia terlelap dalam mimpinya masing-masing, para ahl al-bāṭin—para pembaca batin—tidak pernah memandang angka sebagai sekadar angka. Mereka tahu bahwa di balik setiap bilangan, ada sirr (rahasia) yang tersembunyi. Ada kode-kode langit yang hanya bisa dipecahkan oleh mereka yang telah menempuh perjalanan panjang dalam khalwat, yang telah membersihkan cermin hatinya hingga mampu memantulkan cahaya al-Haqq. Malam ini, saya ingin berbicara tentang dua angka. Angka pertama: 38. Angka kedua: 40. Dua angka ini, jika dibaca oleh mata awam, hanyalah bilangan biasa—penanda usia,…

Read More

Oleh: Rizal Haqiqi, Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya Ketika Pesantren Dipilih, Bukan Memilih SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah senja yang basah di bulan Agustus nanti, ribuan kiai, santri, dan tamu-tamu agung dari seantero Nusantara akan bergerak menuju satu titik. Bukan ke hotel berbintang, bukan ke gedung megah, bukan ke stadion yang bergema oleh sorak-sorai politik. Mereka akan menuju ke sebuah pesantren tua di jantung Jombang, di tepian sungai yang telah menjadi saksi bisu lahirnya para kiai besar, para pejuang, dan para wali yang tak sempat tercatat dalam buku sejarah resmi. Pesantren itu bernama Tambakberas. Dan di sanalah, PBNU telah memutuskan: Muktamar…

Read More

Oleh: Hadipras  SURABAYAONLINE.CO – Sejak dekade tujuh puluhan, kita telah dididik untuk menghafal sembilan bahan pokok (sembako) yang wajib ada di dapur demi menyambung hidup. Beras, gula, minyak goreng, hingga daging harus dipastikan aman pasokannya agar isi perut tidak bergejolak. Namun, di tengah peradaban modern sebuah negeri yang katanya menganut kedaulatan rakyat, formula itu rupanya sudah kedaluwarsa. Ada satu komoditas non-fisik yang diam-diam menyusup, menduduki peringkat teratas, dan bertransformasi menjadi “Bahan Pokok Ke-10″—yaitu hipokritisme (kemunafikan). Jika sembilan bahan pokok bertugas memberi nutrisi pada raga, maka bahan pokok ke-10 ini bertugas menjaga kelangsungan posisi, status sosial, dan gengsi. Tanpanya, roda kehidupan…

Read More

Oleh: Hadipras  SURABAYAONLINE.CO – Ada masanya ketika hukum dibayangkan sebagai payung teduh yang melindungi jelata dari terik kesewenang-wenangan. Namun, dalam lanskap kekuasaan yang disokong pundi-pundi tanpa batas, bayangan itu menguap menjadi fatamorgana. Hukum tidak lagi tegak sebagai panglima; ia telah meliuk elastis, bermetamorfosis menjadi instrumen kekuasaan yang paling canggih sekaligus paling dingin. Di titik inilah, keadilan menjelma menjadi entitas yang paling ambigu: ia fasih merapalkan pasal, tetapi gagap mengeja kebenaran. Mari jujur berkaca pada ‘layar perak’, yang tak lain adalah ekstensi dari kegelisahan batin masyarakat. Sinema di era 1980-an, melalui “Hakim Sendiri” (1988) dan “Hakim dan Jaksa” (1985), merekam sebuah…

Read More

Oleh: S. Alamsyah SURABAYAONLINE.CO – Kata “revolusi” sedang laris manis. Kata ini ramai sekali di media sosial. Sering terdengar nyaring di tongkrongan anak muda. Kesannya sangat keren. Terasa sangat gagah. Banyak orang mengira ini jalan pintas menuju keadilan. Tetapi mari kita jujur sejenak. Berapa banyak dari kita yang tahu kejadian setelah revolusi selesai? Siapa yang akan membangun sistem baru setelah sistem lama hancur total? Ini bukan pertanyaan untuk membakar semangat. Ini pertanyaan yang sangat dingin dan teknis. Kita justru harus berani membahasnya sekarang. Jangan sampai kata revolusi hanya menjadi slogan kosong. Slogan yang terlihat gagah, tetapi sebenarnya menyimpan blunder yang…

Read More

Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember) SURABAYAONLINE.CO – DI penghujung malam yang sunyi, ketika bintang-bintang mulai meredup dan fajar belum juga menyingsing, seorang hamba duduk sendiri di atas sajadahnya. Ia baru saja menyelesaikan shalat malam, dan kini ia tenggelam dalam lautan kontemplasi. Di hadapannya, kesunyian malam seakan berubah menjadi cermin yang memantulkan seluruh perjalanan hidupnya: masa kecil yang penuh tawa, masa muda yang penuh gejolak, masa dewasa yang penuh pergulatan. Semua berkelebat seperti kilat. Dan di tengah keheningan itu, dari kedalaman hatinya, sebuah suara melantunkan syair yang bukan berasal dari lisan, melainkan dari sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di…

Read More