SURABAYAONLINE.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mendorong Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) tidak hanya menjadi ruang berkumpul para pelaku budaya, tetapi berkembang sebagai mitra strategis pemerintah dalam riset dan perencanaan pembangunan daerah.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif saat menghadiri Pelantikan Dewan Kebudayaan Gresik periode 2026–2029 di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Kamis (20/8/2026).
Pelantikan tersebut sekaligus menandai kembali dipercayakannya Irfan Akbar Prawiro sebagai Ketua DKG untuk periode 2026–2029.
Wabup Alif mengatakan, Gresik memiliki kekayaan budaya yang kuat di tengah perkembangan daerah sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Timur. Kekayaan itu tercermin dari tradisi keagamaan, kesenian, bahasa, dialek, hingga berbagai pengetahuan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Gresik tidak hanya dikenal sebagai kota industri. Ketika orang masuk lebih jauh ke desa-desa, mereka akan menemukan wajah Gresik yang berbeda. Tradisi, budaya, dan nilai-nilai masyarakatnya masih sangat kuat,” ujarnya.
Menurut Alif, kekayaan budaya tersebut menjadi modal penting bagi Gresik untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri. Pembangunan daerah, kata dia, tidak cukup hanya diukur dari pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga karakter serta identitas masyarakat.
Karena itu, Pemkab Gresik berharap DKG dapat memberikan perspektif kebudayaan dalam proses pembangunan daerah.
“Kita ingin Gresik maju secara ekonomi, tetapi tidak kehilangan jati dirinya. Kita ingin Gresik berkembang sebagai kawasan industri, tetapi tetap memiliki karakter sebagai daerah yang kaya sejarah, tradisi, seni, dan nilai-nilai budaya,” katanya.
Alif juga menyambut gagasan DKG untuk menjadikan kebudayaan sebagai metode dalam membaca Gresik. Menurutnya, pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat dapat menjadi bahan penting untuk memahami karakter setiap wilayah.
“Pembangunan di wilayah utara tentu tidak selalu bisa disamakan dengan wilayah selatan. Begitu juga kawasan perkotaan, pesisir, pedesaan, maupun kawasan industri. Masing-masing memiliki karakter, sejarah, dan budaya yang berbeda,” ujarnya.
Ketua DKG periode 2026–2029, Irfan Akbar Prawiro, mengatakan pada periode sebelumnya DKG berupaya menggali kembali berbagai kekayaan yang membentuk identitas Gresik. Salah satunya melalui pemetaan keragaman bahasa dan dialek di berbagai wilayah.
Irfan menyebut Gresik memiliki dua bahasa utama, yakni bahasa Jawa dan Bawean, dengan beragam dialek lokal. Selain itu, daerah tersebut juga memiliki kekayaan sejarah dan arkeologi yang masih terus diteliti.
Namun, menurutnya, kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan peninggalan sejarah. Kebudayaan juga mencakup pengetahuan yang hidup dan diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.
“Bagaimana masyarakat membaca banjir, bagaimana nelayan membaca rasi bintang, atau bagaimana masyarakat mengenali sumber air. Itu semua adalah pengetahuan yang sebenarnya ada di sekitar kita,” katanya.
Irfan menilai pengetahuan lokal tersebut perlu didokumentasikan dan diteliti agar tidak hilang. Hasil riset tersebut juga diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam merancang masa depan Gresik.
Karena itu, pada periode keduanya, DKG ingin memperkuat posisi sebagai mitra riset Pemkab Gresik, khususnya dalam bidang kebudayaan.
DKG berharap hasil riset kebudayaan nantinya dapat memberikan perspektif dalam perencanaan pembangunan, termasuk dalam melihat hubungan antara kebudayaan, tata ruang, dan wajah Gresik di masa depan.
“Dewan Kebudayaan Gresik berharap bisa meriset dan menulis dari bawah, melihat bagaimana Gresik diimajinasikan dan dibayangkan. Gresik sebenarnya akan menjadi sebuah kota atau kabupaten seperti apa,” tutur Irfan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gresik Saifudin Ghozali menyampaikan Pemkab Gresik akan terus mendorong eksistensi dan kolaborasi bersama DKG.
Sejumlah program kebudayaan juga telah disusun bersama untuk 2027. Selain itu, DKG akan memperkuat kolaborasi dengan Dewan Kesenian Jawa Timur dan Pemkab Gresik yang direncanakan berlangsung pada November mendatang.


