Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI bawah langit Ukadz yang membakar pada abad keenam Masehi, kata-kata bukan sekadar susunan abjad atau perhiasan bibir. Kata-kata adalah takdir. Di pasar berdebu itu, tempat ribuan suku Arab Jahiliyyah bertukar unta, kehormatan, dan gengsi kabilah, bahasa ditinggikan melebihi ikatan darah. Puisi-puisi yang dianggap mencapai puncak keindahan tidak hanya dipuji secara lisan, melainkan ditulis dengan tinta emas cair di atas kain sutera murni, lalu digantungkan di dinding Ka’bah. Masyarakat pra-Islam menyembah pesona estetika kata sebelum mereka mengenal Tauhid yang melampaui segala rupa.
Di tengah riuh rendah panggung kurasi sastra itu, duduk seorang lelaki dengan tatapan mata yang amat dalam. Namanya Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah, yang dalam panggung sejarah lebih dikenal dengan julukan Al-Nabighah al-Dzubyani—Sang Jenius dari Suku Dzubyan. Dialah hakim agung di Ukadz. Dialah yang menentukan puisi mana yang berhak mengabadi di dinding suci Ka’bah dan puisi mana yang harus tenggelam dalam lupa sejarah.
Namun, takdir spiritual teks tidak berhenti di panggung Ukadz. Berabad-abad kemudian, di sebuah negeri kepulauan yang jauh, bait-bait apologi (i’tidzâriyyât) Al-Nabighah merembes ke dalam struktur batin seorang wali neosufi Indonesia: K.H. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur. Ada selarik benang merah mistikal yang tak terlihat, membentang melintasi selat waktu dan samudra zaman, menghubungkan ketakutan seorang penyair Jahiliyyah di hadapan pedang raja dengan keberanian tanpa batas seorang pengembara ruhani di tengah gelanggang politik modern.
Bagaimana mungkin bait-bait ratapan politik pra-Islam bertransformasi menjadi makrifat spiritual yang membebaskan? Mengapa jeritan dari panggung istana Hira dapat mengkristal menjadi pencerahan eksistensial yang melahirkan filosofi “Gitu aja kok repot”? Untuk membedahnya, kita harus menembus kulit luar linguistik dan melangkah ke dalam samudera tasawuf—menggunakan pisau bedah esoteris dari kitab Jâmi’ul Ushûl fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, Hilyatul Auliya’ wa Thabaqâtul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, Sirr al-Asrâr karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, serta puncaknya: doktrin Fana’ul Fana’.
Tragedi yang Melahirkan Kemurnian
Tragedi eksistensial Al-Nabighah bermula dari lingkungan kekuasaan Dinasti Manadzirah di Hira. Al-Nabighah menikmati puncak kejayaan material di sisi Raja Al-Nu’man bin al-Mundzir. Ia minum dari bejana emas dan perak, tidur di atas permadani halus, dan menjadi kesayangan istana. Namun, dalam lingkaran kekuasaan, dengki adalah bayangan yang tak pernah absen. Para rival politik membisikkan fitnah bahwa Al-Nabighah menggambarkan kecantikan sang ratu secara terlalu intim dalam puisinya. Angin kasih sayang raja seketika berubah menjadi badai murka. Perintah hukuman mati dijatuhkan.
Al-Nabighah melarikan diri ke istana Ghassanid. Namun jiwanya yang terancam melahirkan kemurnian rasa. Di dalam pelarian yang sunyi, di tengah malam-malam gurun yang dingin, ego Al-Nabighah runtuh. Keangkuhannya sebagai juru taksir sastra terbesar hancur berkeping-keping. Dari reruntuhan ego inilah lahir bait-bait apologi (Lawm wa’tidzâr) yang abadi:
”Kamu seperti matahari, sedangkan raja yang lain adalah bintang. Apabila matahari terbit maka bintang-bintang yang lain tidak mampu menunjukkan diri. Kamu tidak mungkin menemukan saudara yang tidak kamu cela karena kesalahan kecil. Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela? Jika aku dikhianati maka aku adalah hanya seorang hamba yang kau khianati. Jika Kamu orang yang menyalahkan perbuatanku, maka sosok sepertimu sungguh rela.”
Lahir dari rasa takut akan kebinasaan fisik, teks ini diangkat oleh takdir menjadi wahana kesadaran spiritual yang sangat rahasia. Al-Nabighah mungkin hanya ingin menyelamatkan lehernya dari pedang Nu’man, tetapi ruhaninya yang terluka tanpa sengaja telah mengetuk pintu ontologi paling dalam dari eksistensi manusia.
Nigredo: Ketika Ego Hancur Berkeping
Secara psikoanalisis depth-psychology, khususnya kerangka Carl Gustav Jung mengenai pencarian Self dan konfrontasi dengan Shadow (bayangan diri), bait-bait Al-Nabighah menggambarkan fase Nigredo—sebuah tahap kehancuran ego, pembusukan identitas lama, dan kerapuhan total sebelum proses penyatuan (unio mystica).
Ketika Al-Nabighah terlempar dari kemewahan istana ke dalam ketakutan akan eksekusi mati, Persona (topeng sosial) sebagai penyair terhormat dan pangeran sastra hancur seketika. Ancaman kematian memicu ketakutan eksistensial (existential dread). Di bawah tekanan kecemasan mati (thanatos), jiwa mengalami regresi sekaligus artikulasi sublimatif. Al-Nabighah tidak lagi bersilat lidah secara narsisistik; ia dipaksa menghadapi kerentanan dirinya yang paling telanjang.
Psikoanalisis Lacanian memandang bahwa ratapan Al-Nabighah adalah momen di mana Subject menyadari celah (lack/béance) di dalam tatanan Simbolik. Ketika ia berhadapan dengan The Big Other (dalam hal ini, wujud raja yang memegang hak atas hidup dan matinya), ia menyadari bahwa seluruh ornamen kehebatannya hanyalah artikulasi penanda yang rapuh. Pengakuan bahwa manusia tak pernah bebas dari cela (“Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela?”) adalah integrasi psikoanalitis atas Shadow—pengakuan bahwa cela dan keretakan adalah bagian tak terpisahkan dari struktur psikis manusia.
Namun, psikoanalisis hanya sampai pada batas alam bawah sadar (unconscious). Tasawuf melangkah lebih jauh menuju alam rahasia ruhani (As-Sirr).
Matahari dan Bintang: Tauhid dalam Metafora Cahaya
Untuk memahami kedalaman bait pertama—”Kamu seperti matahari, sedangkan raja yang lain adalah bintang…”—kita harus membukanya dengan kitab Sirr al-Asrâr karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa manusia memiliki empat tingkatan ruh: Ruh Jismani (alam mulk), Ruh Ruhi (alam malakut), Ruh Sirri (alam jabarut), dan Ruh Al-Quds (alam lahut). Ketika Al-Nabighah menyebut metafora “Matahari” dan “Bintang”, pencerahan esoteris menyingkapkan bahwa “Matahari” adalah Nûr al-Haqq (Cahaya Kebenaran Absolut) yang memancar dari Alam Lahut, sementara “Bintang-Bintang” adalah entitas makhluk yang berada di Alam Mulk dan Malakut.
Bintang-bintang tidak pernah benar-benar lenyap secara fisik saat siang tiba; keberadaan mereka tergulung dan tenggelam di bawah dominasi cahaya matahari. Dalam Sirr al-Asrâr, ini melambangkan keadaan di mana Ruh Al-Quds telah menyinari kesadaran hamba, sehingga seluruh cahaya akal, atribut diri, dan kekuasaan makhluk (al-kawâkib) sirna seketika. Bintang yang tidak mampu menunjukkan diri saat matahari terbit adalah lambang dari sifat-sifat kemakhlukan yang hancur (fana’) saat berhadapan dengan Tajalli Sifat dan Dzat Ilahi.
Kedalaman ini dipertegas dalam kitab Jâmi’ul Ushûl fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi. Dalam bab yang membahas maqamat dan ahwal para wali, Al-Kamasykhanawi mengutip bahwa Tauhid sejati tidak akan tercapai sebelum seorang salik mengalami Ghalabat al-Haqq ‘alâ al-Khalq (kemenangan Realitas Absolut atas persepsi makhluk). Bintang-bintang adalah perumpamaan bagi orang-orang yang masih terhijab oleh Asbâb (sebab-sebab duniawi). Mereka melihat para raja, penguasa, dan kekuatan material sebagai sumber daya. Namun bagi jiwa yang telah tersingkap Kasyf-nya, para raja itu tidak lebih dari bintang redup yang kehilangan pendar begitu Matahari Kekuasaan Ilahi menampakkan diri.
Pengakuan atas Cela: Ma’rifah al-Nafs dan Penerimaan
Pada bait kedua—”Kamu tidak mungkin menemukan saudara yang tidak kamu cela karena kesalahan kecil. Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela?”—Al-Nabighah menyentuh simpul antropologi sufistik.
Dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqâtul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, terrekam ribuan riwayat mengenai kedalaman spiritual para sahabat dan generasi salaf. Salah satu pesan mendasar dalam Hilyatul Auliya’ adalah keharusan menatap dosa sesama dengan kacamata Rahmah (kasih sayang) dan menatap dosa diri sendiri dengan kacamata Muhasabah (introspeksi ketat). Abu Nu’aim mengutip perkataan Fudhayl bin ‘Iyadh: “Orang beriman selalu mencari alasan untuk memaafkan saudaranya, sedangkan orang munafik selalu mencari-cari kesalahan saudaranya.”
Pertanyaan retoris Al-Nabighah, “Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela?”, adalah pembongkaran atas kesombongan diri (kibr). Dalam Jâmi’ul Ushûl fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menegaskan bahwa tuntutan akan kesempurnaan pada makhluk adalah bentuk kebodohan spiritual (jahl). Manusia diciptakan dalam struktur Al-Naqs (kekurangan). Kesalahan kecil (al-zallât) adalah cermin yang disediakan Allah agar manusia tidak jatuh ke dalam perangkap merasa suci (tazkiyat an-nafs).
Secara psikoanalitis, menuntut saudara tanpa cela adalah proyeksi psikologis dari ketidakmampuan seseorang menerima Shadow-nya sendiri. Orang yang paling keras mengecam cela orang lain biasanya adalah orang yang paling sengit menolak kecacatan di dalam batinnya sendiri. Sebaliknya, sufisme mengajarkan bahwa pengakuan atas cela universal adalah syarat mutlak untuk melangkah menuju Tawâdhu’ (kerendahan hati hakiki). Jiwa yang sadar akan celanya sendiri tidak memiliki sisa waktu untuk mengadili cela saudaranya.
”Aku Hanyalah Seorang Hamba”: Taslim dalam Pusaran Pengkhianatan
Memasuki bait ketiga—”Jika aku dikhianati maka aku adalah hanya seorang hamba yang kau khianati”—kita menyaksikan lompatan radikal menuju maqam Ubudiyyah (kepasrahan hamba).
Kata ‘abd (hamba) dalam bait ini adalah titik balik psiko-spiritual. Sebelum fitnah terjadi, Al-Nabighah memandang dirinya sebagai penyair agung dan elite bangsawan. Namun di hadapan ancaman hukuman mati dan pengkhianatan kawan-kawan istananya, seluruh Persona itu gugur. Yang tersisa hanyalah posisi paling polos: seorang hamba.
Dalam Sirr al-Asrâr, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa maqam Ubudiyyah yang sejati adalah ketika seorang hamba telah mengosongkan hatinya dari kepemilikan atas dirinya sendiri. Hamba sejati tidak memiliki hak milik (lâ milka lah), tidak memiliki kehendak sendiri di luar kehendak Tuannya. Ketika dunia, konspirasi politik, atau kawan terdekat melakukan pengkhianatan (gadr), jiwa yang sufistik tidak membalas dengan kebencian, melainkan mengembalikan kedudukannya pada hakikat kewalian.
Pengkhianatan hanya dapat melukai ego (al-nafs). Jika ego telah ditanggalkan, pengkhianatan tidak lagi memiliki target untuk ditusuk. Ketika seseorang memposisikan dirinya semata-mata sebagai “hamba”, perlakuan buruk dari makhluk tidak lagi menurunkan martabat batinnya. Martabat hamba disandarkan secara langsung pada Sang Pemilik Hamba, bukan pada penilaian atau konspirasi makhluk.
”Sosok Sepertimu Sungguh Rela”: Puncak Kerelaan
Bait penutup—”Jika Kamu orang yang menyalahkan perbuatanku, maka sosok sepertimu sungguh rela”—mencapai puncak Al-Ridha (kerelaan mutlak). Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani meriwayatkan kisah-kisah para wali yang tersenyum di tengah ujian paling berat. Mereka sampai pada derajat Ridhâ bi qadhâ’illâh (rela atas seluruh keputusan Ilahi). Jiwa yang tenang (al-nafs al-mutma’innah) tidak lagi berdebat secara histeris untuk mempertahankan kebenarannya di mata makhluk, karena ia tahu bahwa ujian dan celaan yang menimpanya adalah cara Allah untuk membersihkan sisa-sisa kehalusan egonya.
Kalimat ini adalah paradoks yang indah: di balik tuduhan ada kerelaan, di balik celaan ada rahmat. Seorang hamba yang telah mencapai ridha tidak lagi melihat manusia sebagai pelaku yang mandiri. Ia melihat Allah di balik setiap peristiwa. Maka, celaan manusia tidak lagi melukainya; ia melihatnya sebagai tajalli dari al-‘Aziz yang sedang mendidiknya.
Puncak Mistik: Fana’ul Fana’
Puncak analisis sufistik atas transmisi pemikiran ini bermuara pada doktrin tertinggi dalam tasawuf: Fana’ul Fana’ (kepunahan dari kepunahan).
Dalam Jâmi’ul Ushûl fil Auliya’, Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi menguraikan tingkatan fana secara sangat terperinci. Pertama, Fana’ fil Af’al: kebinasaan kesadaran akan adanya perbuatan makhluk; salik menyadari bahwa tidak ada yang berbuat secara hakiki kecuali Allah (Lâ fâ’ila illallâh). Kedua, Fana’ fis Sifat: kebinasaan kesadaran akan sifat-sifat makhluk; salik melihat bahwa seluruh pendengaran, penglihatan, dan kekuatan makhluk adalah pinjaman dari Sifat Ilahi. Ketiga, Fana’ fid Dzat: kebinasaan kesadaran akan eksistensi diri dan alam semesta; seluruh wujud selain Allah tampak lenyap bagaikan bayangan. Keempat, Fana’ul Fana’ (Fana’ ‘an al-Fana’): puncak kepunahan di mana salik bahkan tidak lagi merasa atau sadar bahwa dirinya sedang mengalami fana. Kesadaran akan “aku sedang fana” adalah sisa ego yang paling halus. Ketika kesadaran akan fana itu sendiri lenyap, muncullah keadaan Al-Baqâ’ billâh (kebekalan bersama Allah).
Bagaimana doktrin Fana’ul Fana’ ini terhubung dengan bait Al-Nabighah dan sosok Gus Dur? Ketika Al-Nabighah menggambarkan terbitnya Matahari yang membuat bintang-bintang tidak mampu menunjukkan diri, itu adalah alegori dari tahap awal Fana’ fis Sifat dan Fana’ fid Dzat. Bintang-bintang (eksistensi makhluk) punah di bawah Cahaya Matahari (Wujud Ilahi). Namun, ketika teks ini diserap dan dihidupkan oleh Gus Dur, kesadaran itu melompat menuju Fana’ul Fana’.
Seorang salik yang baru mencapai tahap Fana’ awal sering kali tampak mabuk spiritual (sukr), mengasingkan diri dari masyarakat, atau menjadi sangat kaku karena terpesona oleh Kebenaran Absolut yang baru disaksikannya. Namun, wali yang telah mencapai derajat Fana’ul Fana’ akan kembali ke tengah-tengah masyarakat dalam keadaan Baqâ’ dan Sohw (kesadaran jernih). Ia berada di tengah keramaian politik, pasar, dan konspirasi kekuasaan, namun hatinya sama sekali tidak terikat oleh semua itu. Ia telah fana dari keadaan fananya sendiri.
Gus Dur: Fana’ul Fana’ dalam Gelanggang Politik
Inilah rahasia keberanian dan ketenangan Gus Dur yang luar biasa. Ketika ia dijatuhkan dari kursi Kepresidenan Republik Indonesia pada tahun 2001 melalui konspirasi politik yang sangat riuh, Gus Dur tidak menunjukkan kekecewaan, kemarahan, atau dendam. Di malam pelengserannya, ia keluar ke balkon Istana Merdeka hanya dengan melambaikan tangan, mengenakan celana pendek dan kaos kutang, menyapa rakyatnya dengan senyuman.
Dunia terperanjat oleh sikap tersebut. Secara psikoanalisis dan sosiologi politik, seorang penguasa yang kehilangan tahta akan mengalami trauma krisis identitas (identity crisis) dan luka narsisistik (narcissistic injury). Namun bagi Gus Dur, yang telah mereguk kesadaran Fana’ul Fana’, jabatan Presiden hanyalah salah satu “bintang” fana. Ketika jabatan itu hilang, ia tidak merasa kehilangan apa-apa, karena ia telah fana dari rasa memiliki. Bahkan ia telah fana dari perasaan bahwa ia sedang mengorbankan diri. Ia tidak merasa menjadi pahlawan, tidak merasa menjadi korban, dan tidak merasa menjadi wali. Lenyapnya rasa merasa inilah hakikat dari Fana’ul Fana’. Di dalam dada yang telah sepi dari klaim ego itulah, kedamaian mutlak bersemayam.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam perkataan seorang sufi: “Aku tidak membenci siapa pun, karena aku tidak melihat siapa pun selain Allah.” Gus Dur mencapai tingkatan ini: ia mencintai tanpa memandang agama, suku, atau golongan, karena ia melihat Cahaya yang sama di balik setiap wajah. Pluralisme Gus Dur—yang ia rumuskan sebagai PLUR (Peace, Love, Unity, Respect)—adalah buah dari Fana’ul Fana’: ketika ego telah lebur, yang tersisa hanyalah kedamaian, cinta, kesatuan, dan penghormatan.
”Gitu Aja Kok Repot”: Spiritualitas yang Membebaskan
Dari perjumpaan antara psikoanalisis kerentanan Al-Nabighah, kitab-kitab klasik tasawuf, dan doktrin Fana’ul Fana’, lahirlah kristalisasi filosofis Gus Dur yang paling fenomenal: “Gitu aja kok repot.”
Secara epistemologis, kalimat empat kata ini sering kali dituduh oleh para penganut formalisme hukum sebagai bentuk simplifikasi yang meremehkan masalah. Padahal, jargon ini adalah sebuah pembebasan spiritual (spiritual liberation) yang berdiri di atas jalinan empat fondasi agung:
- Eksistensialisme Puitis Al-Nabighah: pengakuan bahwa dunia memang penuh celah dan kerumitan. Mencoba memaksa dunia menjadi sempurna murni adalah tindakan menyiksa diri.
- Kaidah Fiqhiyyah: Al-masyaqqatu tajlibu at-taisîr (Kesulitan itu secara otomatis menarik kemudahan).
- Hadits Nabawi: Yassirû wa lâ tu’assirû (Permudahlah dan jangan kalian persulit).
- Firman Ilahi (QS. Al-Baqarah: 185): Yurîdullâhu bikumu al-yusra wa lâ yurîdu bikumu al-‘usra (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran).
Dalam perspektif Sirr al-Asrâr Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kerumitan hidup (al-‘usr) hampir selalu diciptakan oleh dorongan Nafs Ammarah dan Nafs Lawwamah manusia yang ingin menonjolkan diri. Manusia merumitkan agama dengan dogma yang menakutkan, merumitkan birokrasi untuk menumpuk kekuasaan, dan merumitkan perbedaan pendapat hingga menjadi perang saudara—semua karena ego manusia ingin merasa penting dan paling suci.
Ketika Gus Dur melontarkan “Gitu aja kok repot”, ia sedang menampar ego kolektif masyarakat. Ia membongkar ilusi kerumitan yang diciptakan oleh akal yang terhijab. Ia mengajak manusia untuk tertawa pada kekakuan egonya sendiri. Jika Allah Sang Maha Pencipta menghendaki kemudahan, dan jika seluruh alam semesta ini hanyalah bayangan fana di hadapan Matahari Dzat-Nya, mengapa manusia harus merumitkan hal-hal yang fana?
Jargon “Gitu aja kok repot” adalah buah manis dari maqam Fana’ul Fana’. Hanya jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri, jiwa yang tidak lagi terikat oleh ilusi keagungan duniawi, yang mampu memandang gelombang krisis politik dan sosial dengan kelapangan dada yang tak terbatas, sembari tersenyum ramah dan berkata: “Gitu aja kok repot.”
Warisan Cahaya dari Ukadz ke Tebuireng
Pada akhirnya, penelusuran tasawuf atas syair Al-Nabighah al-Dzubyani membawa kita pada sebuah kesimpulan esoteris yang jernih. Teks sastra dari zaman Jahiliyyah ini bukan sekadar peninggalan sejarah sastra Arab, melainkan sebuah wadah ruhani yang disediakan takdir untuk diisi oleh hikmah-hikmah Tauhid.
Melalui pembacaan yang diperkaya oleh Jâmi’ul Ushûl fil Auliya’, Hilyatul Auliya’, dan Sirr al-Asrâr, kita memahami bahwa manusia memang hanyalah bintang-bintang kecil yang sarat cela, rentan terhadap kesalahan, dan acap kali dikhianati oleh bayang-bayang dunianya sendiri. Namun, ketika jiwa berani menanggalkan topeng kesombongannya, melangkah masuk ke dalam ruang kepasrahan Ubudiyyah, dan melebur dalam samudera Fana’ul Fana’, maka seluruh kerumitan dan ketakutan eksistensial itu sirna.
Gus Dur telah menunjukkan bagaimana syair pra-Islam ini ditransformasikan menjadi energi pembebasan kemanusiaan, pluralisme yang penuh kasih sayang, dan keberanian politik yang tak tergoyahkan. Di tengah dunia modern yang kian riuh oleh percekcokan, klaim kesucian, dan kerumitan buatan, suara dari Ukadz dan Tebuireng itu terus bergema, mengajak kita untuk kembali pada kemurnian hamba: menatap Matahari Kebenaran, memaafkan bintang-bintang yang berkedip di sekitar kita, dan melangkah di muka bumi dengan hati yang ringan, merdeka, dan penuh kedamaian.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


