Oleh: Tri Prakoso, SH., M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – ADA sebuah kegelisahan mendasar yang saban hari mengetuk dinding kesadaran manusia modern. Di tengah deru teknologi yang kian bising, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan lalu lintas informasi yang tak pernah tidur, kita sering kali merasa terasing. Kita berada di dalam kerumunan, namun secara eksistensial merasa terlempar sendirian. Kita mencapai puncak kemajuan sains, tetapi batin kita kerap merintih dalam kebingungan yang pekat. Mengapa manusia modern, dengan segala kelimpahan materi dan akses pengetahuan tanpa batas, justru semakin mudah jatuh ke dalam jurang kecemasan, hampa makna, dan keterasingan diri?
Jawabannya mungkin terletak pada bergesernya pusat gravitasi kehidupan kita. Kita terlalu sibuk mendengarkan kebisingan di luar, tetapi lupa mendengarkan bisikan yang paling hening di dalam jiwa. Sebuah syair spiritual klasik menyapa kita kembali dengan begitu tenang, namun menohok kedalaman batin:
”Dengarkanlah wahai orang-orang yang beriman… Tidak akan diutus Muhammad SAW, kecuali untuk memperbaiki kerusakan akhlak, dan juga diutus untuk menjadi pelita kehidupan semua umat. Sungguh, jika engkau mampu memahami perkataannya dan perbuatannya (Muhammad SAW), maka engkau akan mengerti pula dengan PRINSIP KETUHANANNYA. Sungguh, apabila di antara kalian (umat Muhammad SAW) mau mendengarkannya dan mengikutinya, niscaya kalian akan selamat dari panasnya API NERAKA.”
Bagi mata yang awam, baris-baris kalimat di atas mungkin tampak seperti ajakan keagamaan yang biasa kita dengar di mimbar-mimbar khotbah. Namun, jika kita menelusurinya lebih jauh—dengan menggunakan kacamata tasawuf klasik dan pendekatan kejiwaan—syair sederhana ini sejatinya adalah sebuah peta jalan esoteris (esoteric roadmap). Ini adalah peta navigasi untuk mengurai kekacauan jiwa manusia, menuntun langkah menembus lorong-lorong kegelapan eksistensial, hingga berpuncak pada pencapaian tertinggi spiritualitas Islam: fana’ ul fana’, yakni sebuah kondisi di mana seluruh ilusi ke-Aku-an musnah di dalam Kehadiran Ilahi.
Melalui bantuan panduan dari karya-karya besar para majelis ilmu klasik—seperti Sirr al-Asrar karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Jami’ul Ushul fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, serta Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani—kita diajak untuk membedah ayat demi ayat dari syair ini. Mari kita urai makna-makna yang tersembunyi di baliknya.
Seni Mendengar: Menghentikan Kebisingan Egoistik
Perjalanan spiritual tidak pernah dimulai dari wacana yang rumit, melainkan dari sebuah keheningan. Bait pertama syair ini membukanya dengan satu kata perintah yang sangat lugas: ”Dengarkanlah…”
Dalam tradisi tasawuf, mendengar bukanlah sekadar aktivitas biologis ketika gendang telinga kita menangkap getaran suara (udzun ash-zahir). Lebih dari itu, para sufi menyebutnya sebagai Sama’—sebuah seni mendengarkan dengan menggunakan telinga batin (udzun al-qalb). Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam kitabnya yang legendaris, Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam potret kehidupan para wali pendahulu (as-salaf as-shalih). Mereka adalah orang-orang yang telah melatih pendengarannya sedemikian rupa sehingga mampu menangkap panggilan-panggilan kebenaran di balik hiruk-pikuk duniawi. Bagi mereka, iman bukan sekadar dogma yang dihafalkan, melainkan kondisi kesadaran yang telah peka terhadap “Suara Tanpa Kata” (Nida’ al-Haqq).
Mengapa ajakan “dengarkanlah” ini menjadi begitu penting dalam konteks kejiwaan kita hari ini? Jika kita membedahnya dari kacamata psikoanalisis, manusia modern sebenarnya mengidap penyakit “monolog internal” yang tak pernah berhenti. Ego kita terbiasa mendikte segalanya. Dalam pandangan psikoanalisis Jacques Lacan, manusia sering kali terperangkap di dalam tatanan imajiner (The Imaginary Order)—sebuah ruang ilusi di mana ego terus-menerus membangun citra palsu tentang siapa dirinya, tentang kepemilikannya, kehebatannya, dan ambisinya. Kita begitu sibuk berbicara, memproyeksikan keinginan, dan mempertahankan pertahanan diri (ego defense mechanisms), sehingga kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan.
Seruan “Dengarkanlah wahai orang-orang yang beriman” adalah sebuah dorongan untuk melakukan dekonstruksi ego. Ini adalah panggilan untuk mematikan sejenak monolog ego yang narsisistik. Untuk dapat menangkap kebenaran kenabian, manusia harus rela mengheningkan diri. Tanpa keheningan batin, pesan-pesan spiritual seagung apa pun hanya akan memantul di permukaan otak sebagai konsumsi kognitif belaka. Pesan itu tidak pernah benar-benar menembus ke dalam jantung jiwa.
Dalam kerangka hierarki jiwa tasawuf, panggilan ini ditujukan untuk memindahkan pusat kesadaran kita: dari Nafs al-Ammarah (jiwa yang liar dan bergelora menuruti hawa nafsu) menuju Nafs al-Muthma’innah (jiwa yang tenang dan terang). Mendengar adalah pintu pertama dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Tanpa keterbukaan untuk mendengar, tidak akan pernah ada transformasi batin.
Restorasi Akhlak dan Misteri “Pelita Kehidupan”
Bait kedua syair melanjutkan perjalanannya dengan menyingkap hakikat dari tugas kenabian: ”Tidak akan diutus Muhammad SAW, kecuali untuk memperbaiki kerusakan akhlak, dan juga diutus untuk menjadi pelita kehidupan semua umat.”
Secara kasatmata, istilah “kerusakan akhlak” sering kali dipersempit maknanya sebatas pelanggaran norma sosial atau etika sopan santun. Namun dalam kedalaman kajian sufistik dan psikoanalisis, kerusakan akhlak adalah tanda dari sebuah tragedi yang jauh lebih dalam: fragmentasi kejiwaan dan disorientasi eksistensial. Kerusakan akhlak terjadi ketika takhta kerajaan batin manusia (al-qalb) dirampas oleh kekuatan-kekuatan rendah. Ketika dorongan agresivitas (al-ghadhab) dan dorongan pemuasan hasrat kebinatangan (al-bahimiyyah) berkuasa tanpa kendali, jiwa manusia hancur terpecah-pecah. Manusia mengalami alienasi dari fitrah aslinya.
Dalam kitabnya yang penuh dengan rahasia keilahian, Sirr al-Asrar, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyingkap dimensi metafisika di balik sosok Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan bahwa sebelum Nabi hadir dalam wujud historis-fisik di bumi, ada dimensi spiritual yang dipancarkan terlebih dahulu, yaitu Nur Muhammad (Cahaya Muhammad) atau al-Aql al-Awwal (Akal Pertama). Syekh Abdul Qadir menegaskan bahwa ruh manusia pada awalnya berasal dari alam yang sangat murni (Alam al-Lahut). Namun, ketika ruh tersebut diturunkan ke bumi untuk mengungsi dalam jasad fisik (Alam an-Nasut), ia tertutup oleh tebalnya kabut materi. Manusia mengidap penyakit “amnesia spiritual”—ia lupa akan perjanjian primordialnya dengan Tuhan (Alastu bi Rabbikum).
Di sinilah Nabi Muhammad SAW hadir sebagai “pelita kehidupan” (Siraj Munir). Pelita ini bukan sekadar lampu penerang secara harfiah, melainkan manifestasi Cahaya Primordial yang bertugas menyinari lorong-lorong gelap jiwa manusia. Memperbaiki kerusakan akhlak berarti memulihkan kembali jiwa manusia yang terdistorsi oleh ego menuju kesucian fitrahnya (al-fitrah al-asliyyah). Akhlak mulia (makarim al-akhlak) dalam tradisi tasawuf bukanlah formalitas etis belaka, melainkan sebuah proses penyelarasan diri dengan Sifat-sifat Ilahi (at-tahalluq bi akhlaqillah).
Secara psikoanalitis, jika kita merujuk pada pemikiran psikologi kedalaman Carl Gustav Jung, sosok Nabi sebagai “pelita” dapat dipahami sebagai pengejawantahan dari arketipe The Self—pusat dari ketidaksadaran kolektif yang mengintegrasikan seluruh elemen kepribadian manusia. Kerusakan akhlak adalah kondisi di mana individu terpecah (neurotik) akibat konflik berkepanjangan antara topeng sosial (Persona) dan sisi-sisi gelap dirinya yang tertekan (Shadow). Kehadiran Nabi sebagai pelita bertindak sebagai pemandu dalam proses individuation (proses menjadi manusia yang utuh dan selaras), menuntun jiwa keluar dari kegelapan konflik internal menuju integrasi kesadaran yang utuh.
Dari Meneladani Sunnah menuju Penyingkapan “Prinsip Ketuhanan”
Langkah selanjutnya dalam syair ini membawa kita pada sebuah formulasi epistemologi spiritual yang sangat dalam: ”Sungguh, jika engkau mampu memahami perkataannya dan perbuatannya (Muhammad SAW), maka engkau akan mengerti pula dengan PRINSIP KETUHANANNYA.”
Bait ketiga ini meletakkan sebuah hubungan kausalitas esoteris: bagaimana mungkin pemahaman atas tindakan insani (perkataan dan perbuatan Nabi) dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman tentang Yang Maha Transenden (Prinsip Ketuhanan)? Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam karya monumental beliau, Jami’ul Ushul fil Auliya’, memetakan metodologi suluk (perjalanan spiritual) para pencari Tuhan. Al-Kamasykhanawi menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk mencapai Tauhid Hakiki (Tawhid adz-Dzat) tanpa terlebih dahulu melintasi dan meniadakan egonya di dalam pribadi spiritual Rasulullah SAW.
Dalam tradisi suluk, terdapat tahapan peleburan kesadaran (fana’) yang berjenjang: Fana’ fi ash-Syaikh (peleburan ego murid di dalam kesadaran pembimbing spiritualnya), Fana’ fi ar-Rasul (peleburan ego dalam hakikat pribadi spiritual Nabi Muhammad SAW), dan Fana’ fi Allah (peleburan kesadaran ego secara mutlak di dalam Dzat Allah SWT). Memahami “perkataan dan perbuatan” Nabi tidak boleh berhenti sekadar sebagai kajian tekstual-formalis (level syariat). Dalam kacamata tasawuf, perkataan Nabi adalah Syariat, perbuatan Nabi adalah Thariqat (Jalan Praktis), dan kondisi batin Nabi (hal) adalah Hakikat. Ketika seorang penempuh jalan spiritual mampu meresapi hal atau suasana batin Nabi, ia mulai memandang alam semesta tidak lagi dengan pandangan manusianya yang sempit dan egois, melainkan melalui kacamata kesadaran Muhammadiah.
Di titik inilah “Prinsip Ketuhanan” (Ahkam al-Uluhiyyah) tersingkap. Prinsip Ketuhanan yang dimaksud di sini adalah pemahaman yang utuh tentang bagaimana Allah bertajalli (mengejawantahkan Kehadiran-Nya) melalui Sifat, Nama (Asma), Perbuatan (Af’al), dan Dzat-Nya. Secara filosofis, Nabi Muhammad SAW adalah cermin sempurna (al-mir’at al-kamilah). Di dalam cermin yang bersih tanpa noda itulah seluruh Sifat dan Keindahan Ilahi terpantul secara utuh. Dengan mempelajari dan menyatu dengan sang “cermin”, manusia dapat mengenali Yang Memantul di dalam cermin tersebut.
Pendekatan ini sekaligus menyelamatkan akal manusia modern dari dua jebakan ekstrem: Agnostisisme atau Ateisme—kondisi di mana Tuhan dianggap terlalu abstrak, jauh, dan tak terjangkau, sehingga akhirnya dianggap tidak ada (tanzih yang berlebihan)—dan Antropomorfisme Vulgar—kondisi di mana Tuhan dibayangkan secara fisik menyerupai makhluk-Nya (tasybih yang keliru). Melalui pribadi Nabi, Tuhan dapat dikenali melalui sifat-sifat kasih sayang, keadilan, kebijaksanaan, dan kebenaran yang mewujud dalam sejarah manusia. Nabi hadir sebagai barzakh—jembatan spiritual yang menghubungkan Yang Tak Terhingga (Unconditioned) dengan realitas insani yang terbatas (Conditioned).
Rekonstruksi Makna “Api Neraka”: Siksaan Eksistensial Jiwa
Bait terakhir dari syair ini membawa kita pada sebuah kesimpulan eskatologis: ”Sungguh, apabila di antara kalian (umat Muhammad SAW) mau mendengarkannya dan mengikutinya, niscaya kalian akan selamat dari panasnya API NERAKA.”
Bagi pandangan keagamaan yang bersifat eksoteris (lahiriah), “Api Neraka” selalu dipahami sebagai sebuah tempat penyiksaan fisik di alam akhirat kelak, lengkap dengan kobaran api yang membakar kulit. Tentu, pemahaman ini memiliki kebenarannya sendiri dalam tataran dogma. Namun, para sufi melalui pendekatan ta’wil (penafsiran dalam) melangkah lebih jauh: mereka melihat bahwa “neraka” sebenarnya memiliki dimensi eksistensial dan psikologis yang sudah mulai membakar manusia sejak ia hidup di dunia ini.
Dalam kitab Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani mengutip tuturan mendalam dari para ahli makrifat. Mereka menyatakan bahwa neraka terbesar bagi jiwa bukanlah sekadar penderitaan fisik, melainkan Nar al-Hijab (Api Dinding Pemisah)—yakni sebuah kondisi terpisahnya jiwa dari Sumber Kehidupannya, yaitu Allah SWT. Terasing dari Tuhan adalah penderitaan batin paling dahsyat yang bisa dialami oleh seorang manusia. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirr al-Asrar membagi tingkatan neraka secara esoteris: Neraka Materi/Lahiriah—siksaan fisik bagi jasad yang diperuntukkan bagi mereka yang terbelenggu oleh dorongan-dorongan ego kasar—dan Neraka Hijab—siksaan batin bagi jiwa-jiwa yang terhalang dari memandang Keindahan Ilahi (Jamalullah) karena hati mereka terlalu pekat terikat pada selain-Nya (masiwallah).
Jika kita bedah secara psikoanalisis, “panasnya api neraka” adalah gambaran yang sangat presisi tentang kondisi kepunahan eksistensial, kecemasan neurotik (existential anxiety), dan penderitaan intrapsikis manusia modern. Sigmund Freud dalam teori psikoanalisisnya mengidentifikasi keberadaan dorongan Thanatos—dorongan bawah sadar untuk menghancurkan diri sendiri. Ketika seseorang menolak untuk mendengarkan dan mengikuti panduan kenabian (yang berarti menolak menyelaraskan egonya dengan prinsip moral-spiritual universal), dorongan-dorongan ego yang liar (Id) dan rasa bersalah yang destruktif akan mengambil alih. Jiwa manusia membakar dirinya sendiri dari dalam. Muncul rasa hampa, paranoid, kesepian yang menggigit, serta hilangnya makna hidup. Itulah neraka psikologis.
Keselamatan dari api neraka melalui Ittiba’ (proses mengikuti perbuatan dan jejak Nabi) pada hakikatnya adalah sebuah proses penyembuhan kejiwaan (psikoterapi spiritual). Mengikuti Nabi berarti membiarkan struktur kepribadian kita yang kacau ditata ulang oleh prinsip-prinsip Ilahi. Dorongan-dorongan agresif dan hasrat egoistik disublimasikan menjadi kasih sayang, kepedulian sosial, dan pencarian kebenaran. Jiwa yang telah selamat dari “api ego” di dunia secara otomatis akan selamat dari api neraka di akhirat, sebab tidak ada lagi bahan bakar kebodohan dan kesombongan yang tersisa di dalam dirinya untuk dibakar.
Puncak Perjalanan Mistik: Menuju Maqam Fana’ ul Fana’
Ketika seluruh bait syair ini kita jahit kembali menjadi sebuah keutuhan, kita akan melihat sebuah muara besar dari perjalanan ini. Seluruh proses—mulai dari mendengarkan panggilan iman, pembersihan akhlak oleh pelita kenabian, pemahaman atas Prinsip Ketuhanan, hingga keselamatan dari api neraka—berpuncak pada sebuah konsep paling radikal dalam doktrin tasawuf: Fana’ ul Fana’ (Kemusnahan dari Kemusnahan).
Bagaimana arsitektur spiritual dari empat bait syair ini bekerja menuntun jiwa menuju Fana’ ul Fana’? Mari kita cermati tahapannya berdasarkan panduan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’ dan Sirr al-Asrar. Pada tahap awal (Fana’ as-Sifat dan Fana’ al-Af’al), seorang penempuh jalan spiritual mulai menyadari bahwa sifat-sifat kebaikannya dan tindakan-tindakannya sejatinya bukan milik egonya sendiri. Segala kebaikan adalah pantulan dari Sifat dan Perbuatan Ilahi. Kemudian, ia melangkah menuju Fana’ fi Allah—sebuah kondisi di mana kesadaran akan keberadaan dirinya yang parsial musnah di dalam Wujud Mutlak Allah SWT. Ia menyadari dengan segenap hakikat batinnya bahwa tidak ada yang benar-benar wujud secara mandiri selain Realitas Tunggal (Lā Mawjūda illā Allāh).
Namun, Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ memberikan peringatan yang sangat halus. Seorang sufi yang baru berada pada maqam Fana’ kerap kali masih menyisakan sedikit “noda” ego. Di dalam batinnya, masih ada kesadaran subjektif yang berkata: “Aku sedang mengalami Fana’,” atau “Aku sedang melebur dengan Tuhan.” Adanya pengakuan “Aku” yang menyaksikan peleburan ini membuktikan bahwa dinding pemisah (hijab) belum sepenuhnya runtuh. Masih ada dualitas antara “Subjek yang melebur” dan “Objek tempat melebur”. Di sinilah maqam Fana’ ul Fana’ mengambil peran.
Fana’ ul Fana’ adalah kondisi di mana kesadaran akan proses peleburan itu sendiri dimusnahkan. Pengalaman mistik itu lenyap dari memori egoistik. Tidak ada lagi kesadaran akan “Aku”, tidak ada lagi kesadaran akan “Fana'”, bahkan tidak ada lagi kesadaran akan pencapaian spiritual itu sendiri. Seluruh prasangka, klaim, dan memori tentang diri telah tersapu bersih. Yang ada hanyalah Yang Maha Ada.
Jika kita kaitkan dengan syair kita: ketika seseorang mendengarkan ajakan iman, ia memulai perjalanan sebagai seorang Subjek pencari. Ketika ia dibersihkan oleh Pelita Kenabian, Subjek mengalami pembersihan batin. Ketika ia menyatu dalam pemahaman Prinsip Ketuhanan, Subjek mengalami peleburan (Fana’). Dan ketika ia melangkah menuju keselamatan mutlak dari api neraka, ia melampaui seluruh ketakutan dan harapan egoistiknya. Ia tidak lagi terikat pada kalkulasi pahala atau dosa, surga atau neraka. Ketakutan akan neraka hanyalah milik ego yang merasa terpisah dari Tuhan. Ketika ego musnah secara mutlak dalam Fana’ ul Fana’, siapakah yang tersisa untuk dibakar oleh api neraka? Siapakah yang tersisa untuk mengklaim dirinya telah selamat?
Dalam titik ini, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menegaskan bahwa jiwa telah memasuki alam Lahut—sebuah wilayah spiritual murni tempat segala bentuk cengkeraman kata, konsep, nama, dan dualitas tidak lagi berlaku. Dalam diskursus psikologi transpersonal modern, fenomena Fana’ ul Fana’ sering kali disandingkan dengan istilah Absolute De-centering atau pelampauan total atas struktur ego. Psikoanalisis konvensional melihat Ego sebagai pelindung utama manusia agar tidak jatuh ke dalam kegilaan. Namun, psikologi transpersonal dan tasawuf melihat bahwa Ego yang terisolasi justru merupakan sumber dari segala penyakit kejiwaan. Egoism adalah ilusi primordial yang memisahkan manusia dari Keutuhan Alam Semesta dan Sang Pencipta.
Kembali ke Bumi: Maqam Baqa’ dan Kehidupan Sehari-hari
Salah satu kesalahpahaman paling umum dalam memahami tasawuf adalah menganggap bahwa puncak spiritualitas—seperti Fana’ ul Fana’—akan membuat seseorang menjadi apatis, terasing dari realitas, atau mengasingkan diri selamanya di puncak gunung. Kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’ memberikan koreksi yang sangat tegas atas anggapan ini. Al-Kamasykhanawi menjelaskan bahwa puncak perjalanan seorang wali bukanlah berhenti di dalam Fana’ ul Fana’. Puncak sejati adalah ketika ia kembali turun ke dunia nyata dalam kondisi Baqa’ bi Allah (Abadi Bersama Allah) dan berada dalam kesadaran penuh (As-Sahw baada al-Mahw).
Seseorang yang telah mengalami kemusnahan ego secara mutlak akan kembali ke tengah-tengah masyarakat tidak lagi sebagai pribadi yang egois, sombong, atau pemarah. Ia kembali sebagai manusia yang utuh (Insan Kamil)—sebuah wadah murni yang memancarkan Pelita Kenabian dalam kehidupan sehari-hari. Ia kembali ke pasar, ke kantor, ke ruang-ruang diskusi, dan ke dalam keluarga untuk menjadi pendengar yang baik bagi sesamanya yang sedang tertimpa kesusahan (Sama’), memperbaiki kualitas etika dan keadilan di lingkungannya (Restorasi Akhlak), menjadi cermin kebaikan, kasih sayang, dan kejujuran (Manifestasi Prinsip Ketuhanan), serta membawa kedamaian dan membebaskan orang-orang di sekitarnya dari “neraka” kecemasan, keputusasaan, dan kebencian. Orang yang berada dalam maqam Baqa’ berjalan di atas bumi, tetapi hatinya senantiasa terikat pada Yang Maha Abadi. Kakinya menapak nyata di dalam sejarah, namun jiwanya telah melampaui waktu.


