Oleh;: Gatot Sundoro
SURABAYAONLINE.CO – Abu Dzar Al Ghifari, nama aslinya adalah Jundi bin Junadah ar-Rabazi, seorang tokoh kabilah Adnan.
Ia dijenang sebagai pribadi yang suhud (sederhana) dan kritis.
Merupakan sahabat utama Nabi Saw, seperti halnya Abdullah bin Mas’ud maupun Ibnu Abbas. Ia dikenang karena kesalehannya. Akan tetapi, satu hal yang membuatnya mencolok, perjuangannya yang selalu mewakili orang orang miskin, apalagi adanya hak orang miskin yang terenggut.
Abu Dzar dengan Abdullah bin Mas’ud dikenal sebagai ahli hadits terkemuka. Abu Dzar lah yang menjelaskan bahwa ucapan ‘Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh’ adalah produk budaya Islam, bukan budaya Arab. Sebab, memang orang orang Arab sebelum Islam tidak mengenal kata itu.
Suatu hari Abu Dzar, seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ali Husain Al Ajiri masuk kedalam masjid dan mendapati Rasulullah Saw sedang duduk sendirian.
Abu Dzar pun duduk mendekati Nabi Saw dan berkata:” Wahai Rasulullah, Tuan meminta saya untuk melakukan sholat.”
Rasulullah Saw menjawab:” Sholat adalah hal terbaik. Lakukanlah dengan banyak ataupun sedikit.”
Kemudian terjadilah tanya jawab Abu Dzar dan Nabi Saw.
” Amalan apakah yang paling mulia?”
“Beriman kepada ALLOH dan berjihad di jalan-NYA.”
” Diantara kaum mukmin, siapakah yang paling baik?”
” Yang paling baik akhlaknya dan bisa menjaga lidahnya (perkataan) dan tangannya (perbuatan).”
” Hijrah seperti apa yang paling utama?”
” Hijrah dari keburukan.”
” Sholat yang paling baik itu sholat apa?”
” Sholat yang paling panjang qunut (doa)nya.”
” Wahai Rasulullah, puasa yang paling baik itu, puasa yang bagaimana?”
” Dilaksanakan dengan baik, yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari ALLOH.”
” Jihad yang utama itu bagaimana?”
” Yang mengakibatkan tewasnya kuda terbaiknya dan mengalir darahnya.”
” Memerdekakan budak paling bagus itu seperti apa?”
” Budak yang paling mahal harganya dan paling disayangi oleh majikannya.”
” Sedekah yang paling baik itu, bagaimana wahai Rasulullah?”
” Yang susah payah didapatkan dan diberikan kepada orang miskin.”
” Dari sejumlah ayat (Al’quran), ayat manakah yang paling mulia?”
” Ayat kursi,” Rasulullah Saw melanjutkan:” Bila dibandingkan dengan tujuh langit, seperti gelang yang dilemparkan ke padang luas; keutamaan ayat kursi seperti kelebihan padang luas terhadap gelang itu.”
Kemudian saya (Abu Dzar) bertanya lagi:” Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi?”
” Seratus dua puluh empat ribu.”
” Dari sekian jumlah itu, berapa diantaranya yang menjadi Rasul?”
” Tiga ratus tiga belas.”
” Siapakah Nabi pertama?”
” Adam.”
” Adam itu Nabi sekaligus Rasul?”
” Ya, ALLOH menciptakan langsung dengan tangan-NYA. Meniupkan roh-NYA dan menciptakan Qabil untuknya.”
” Wahai Rasulullah, ada berapa kitab yang ALLOH turunkan.”
” Seratus empat, kepada Nabi Syits 50 lembar, kepada Idris 30 lembar, kepada Ibrahim 10 lembar, kepada Musa sebelum Taurat ada 10 lembar. Selain itu diturunkan pula Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an.”
Kemudian saya minta nasihat kepada Nabi Saw.
” Berilah saya nasihat, wahai Rasulullah!”
” Saya wasiatkan agar kamu bertakwa kepada ALLOH.”
” Tambahkan, wahai Rasulullah!”
” Perbanyaklah membaca Al Qur’an dan berzikir karena itu membuatmu disebut sebut di langit dan menjadi cahaya di bumi.”
” Rasulullah, tambahkan lagi untuk saya.”
” Jangan terlalu banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati dan menyebabkan sinar wajah menghilang.”
” Wahai Rasulullah, tambahkan lagi.”
” Kamu harus banyak diam, kecuali untuk kebaikan. Sebab diam itu dapat mengusir setan dan membantumu mengamalkan agama.”
” Tambahkan lagi, wahai Rasulullah.”
” Lihatlah kebawah, jangan lihat keatas karena itu akan lebih membuatmu tidak meremehkan nikmat ALLOH yang ada padamu.”
” Tambah lagi, wahai Rasulullah.”
” Cintailah orang miskin dan bertemanlah dengan mereka karena itu dapat membuatmu lebih menghargai nikmat ALLOH kepadamu.”
” Tambah lagi, wahai Rasulullah.”
” Tetaplah sambungkan tali silaturahmi, meskipun mereka memutuskannya.”
” Tambahkan lagi, wahai Rasulullah.”
” Katakanlah yang benar walaupun itu pahit.”
” Wahai Rasulullah, tambah lagi.”
” Jangan takut terhadap caci maki di jalan ALLOH.”
Kemudian Rasulullah Saw menepuk nepuk dada Abu Dzar seraya bersabda:” Wahai Abu Dzar, tidak ada kepintaran yang lebih baik dari pintar mengatur urusan, tidak ada sifat wara’ (meninggalkan hal yang meragukan) yang lebih baik daripada menahan diri dan tidak ada kemuliaan yang lebih baik daripada Budi pekerti.” (HR. Ibnu Al Ajiri)


