SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) terus melakukan edukasi dan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Langkah ini diambil menyusul peningkatan kasus kebakaran lahan terbuka dan area pemukiman di tengah cuaca kemarau ekstrem yang melanda Kota Pahlawan.
Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengungkapkan bahwa fenomena kemarau ekstrem memicu banyaknya rumput dan alang-alang kering di berbagai wilayah. Seperti Surabaya Barat, Timur (Gunung Anyar), hingga utara. Kondisi ini makin rentan akibat embusan angin kencang yang dapat mempercepat perambatan api.
“Banyak lahan terbuka di Surabaya yang rumputnya mulai mengering akibat cuaca ekstrem. Kami mengimbau warga untuk tidak membakar sampah di lahan kosong, tidak membakar semak-semak, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di tepi jalan,” ujar Laksita Rini, Rabu (16/9).
Berdasarkan data DPKP, jumlah kejadian kebakaran pada bulan Agustus 2026 menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Agustus 2025, tercatat ada 31 kejadian kebakaran, sedangkan pada Agustus 2026 meningkat menjadi 55 kejadian kedaruratan, yang didominasi oleh kebakaran alang-alang di sekitar kawasan perumahan dan lahan terbuka.
Secara akumulatif, total kejadian kedaruratan sepanjang tahun 2025 mencapai 271 kasus. Sementara pada tahun 2026, hingga pertengahan September saja, angka kedaruratan telah menyentuh 232 kasus.
Laksita Rini menambahkan, memasuki bulan September, kasus kebakaran alang-alang bahkan terjadi hampir setiap hari dengan catatan sedikitnya 21 kejadian, terutama di tanah-tanah milik pengembang yang belum dibangun.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar peristiwa bencana ini justru bermula dari kelalaian kecil dalam kehidupan sehari-hari.”Banyak kebakaran yang dipicu hal sepele. Mulai dari lupa mematikan kompor saat memasak, korsleting listrik akibat kabel tua atau steker bertumpuk, membuang puntung rokok sembarangan, hingga penggunaan obat nyamuk bakar yang diletakkan dekat kursi busa,” jelasnya.
Selain itu, DPKP juga menyoroti maraknya penggunaan kendaraan listrik dan pengisian daya (charger) gadget yang kurang aman. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau warga untuk tidak melakukan pengisian daya motor atau sepeda listrik di dalam rumah. “Proses pengisian daya minimal dilakukan di teras untuk meminimalkan risiko jika terjadi korsleting,” imbuhnya.
Laksita Rini juga meminta, masyarakat untuk tidak membiasakan meninggalkan kabel charger yang masih terhubung ke stopkontak tanpa pengawasan,karena hal tersebut kerap memicu kepulan asap dan kobaran api besar.
Meski angka kedaruratan terbilang tinggi, Laksita Rini mengapresiasi tingginya partisipasi dan kesadaran warga Surabaya saat ini. Melalui edukasi dan sosialisasi yang dilakukan pada program Kampung Pancasila, masyarakat kini lebih sigap melakukan pencegahan awal serta cepat melapor.
“Alhamdulillah, warga Surabaya sekarang sudah sangat tanggap. Jika ada pembakaran sampah atau api kecil, mereka langsung melapor ke Command Center 112 sehingga petugas bisa bertindak cepat dalam kurun waktu tiga menit pertama sebelum api merambat luas,” tambahnya.
DPKP mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk selalu memeriksa instalasi listrik secara berkala, mencabut peralatan elektronik yang tidak digunakan saat keluar rumah, serta menjauhkan sumber api dari jangkauan anak-anak untuk menjaga Kota Surabaya tetap aman dari bahaya kebakaran.(*)


