Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – Diogenes, filsuf eksentrik dari Yunani Kuno, dikisahkan pernah berjalan di pasar Athena pada siang hari sambil membawa lentera yang menyala. Orang-orang yang melihatnya tentu heran. Matahari sedang terang, untuk apa ia membawa lampu? Dengan nada yang menusuk, Diogenes menjawab bahwa ia sedang mencari manusia.
Anekdot itu selalu menarik karena Diogenes jelas tidak sedang mencari makhluk berkaki dua yang memenuhi pasar. Ia tidak sedang kekurangan orang untuk dilihat. Yang ia cari adalah manusia dalam pengertian yang lebih dalam: makhluk yang memiliki keberanian moral, kejujuran, kemandirian berpikir, serta kesediaan hidup sesuai dengan suara batinnya.
Kegelisahan semacam itu terasa hidup kembali ketika membaca _Pribadi_, karya Buya Hamka yang pertama kali terbit pada 1959. Buku tersebut lahir dari masa ketika Indonesia baru menempuh jalan panjang sebagai bangsa merdeka. Revolusi fisik mungkin telah dilalui, tetapi revolusi watak belum selesai. Kemerdekaan politik belum otomatis melahirkan manusia yang merdeka secara batin.
Hamka melihat gejala yang, enam dekade kemudian, masih mudah dikenali. Ada manusia yang memburu pangkat, tetapi kehilangan martabat. Ada yang mencari pengaruh, tetapi miskin ketulusan. Ada yang pandai berbicara tentang bangsa dan agama, tetapi hidupnya digerakkan oleh iri hati, ketakutan, pamrih, dan kebutuhan untuk selalu dipuji. Ada pula yang tampak kuat di hadapan khalayak, tetapi batinnya rapuh ketika berhadapan dengan kesunyian.
Di tengah kehidupan modern yang penuh citra, gagasan Hamka tentang _”pribadi”_ menjadi semakin relevan. Kita hidup dalam zaman ketika penampilan kerap mengalahkan kedalaman, ketika popularitas sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan, dan ketika opini dapat dibentuk hanya dalam hitungan detik oleh kerumunan digital. Manusia dapat memiliki banyak pengikut, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal dirinya. Ia dapat dikenal luas, tetapi tidak mempunyai pegangan batin yang kukuh.
Dalam situasi seperti itu, _Pribadi_ dapat dibaca bukan semata-mata sebagai buku motivasi atau petuah moral. Buku itu merupakan peta pembentukan manusia. Hamka mengajak pembacanya untuk melihat hubungan antara tubuh, akal, nafsu, hati nurani, kerja, pengorbanan, ketulusan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Ia berbicara tentang watak, tetapi tidak menyederhanakan manusia sebagai kumpulan nasihat. Ia memahami bahwa pribadi tumbuh melalui pergulatan yang panjang.
Dari sini, pemikiran Hamka dapat dibaca melalui dua jalan sekaligus: psikologi dan tasawuf. Psikologi membantu kita memahami dorongan-dorongan manusiawi yang bekerja dalam diri seseorang. Tasawuf membantu kita melihat kemungkinan manusia untuk menata dorongan tersebut, membersihkan batin, dan menempatkan hidup dalam orientasi yang melampaui kepentingan ego.
Tubuh dan Jiwa yang Saling Bertaut
Salah satu kekuatan _Pribadi_ terletak pada cara Hamka memandang hubungan tubuh dan jiwa. Ia menolak anggapan bahwa manusia dapat dipisahkan secara kaku antara jasmani dan rohani. Bagi Hamka, tubuh bukan sekadar bungkus bagi jiwa. Kesehatan badan, makanan, aliran darah, otak, kelelahan, dan penyakit memiliki pengaruh terhadap keadaan pikiran serta gerak batin manusia (Hamka, 1959, hlm. 85-91).
Pandangan ini terdengar biasa bagi pembaca masa kini, tetapi sesungguhnya mengandung ketajaman. Dalam banyak tradisi pemikiran, tubuh dan jiwa sering dipertentangkan. Tubuh dipandang rendah, sementara jiwa dianggap luhur. Ada pula pandangan sebaliknya, yang menempatkan tubuh dan kenikmatan material sebagai pusat kehidupan. Hamka tidak jatuh pada dua kutub itu.
Ia menyadari bahwa manusia yang lapar, sakit, lelah, atau terganggu kesehatan fisiknya tidak selalu mudah berpikir jernih. Orang yang hidup dalam tekanan juga dapat lebih mudah tersulut emosi, putus asa, atau mengambil keputusan buruk. Karena itu, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya dengan ceramah tentang moralitas. Ia juga memerlukan perhatian pada kesehatan, disiplin hidup, ketahanan fisik, dan keseimbangan kebutuhan jasmani.
Di titik ini, Hamka dapat disejajarkan secara terbatas dengan pemikiran psikoanalisis Sigmund Freud. Freud menekankan bahwa manusia memiliki dorongan-dorongan dasar yang berakar pada kehidupan biologis. Keinginan untuk bertahan hidup, mencari kenikmatan, memperoleh cinta, memiliki kuasa, serta memenuhi kebutuhan seksual merupakan tenaga yang nyata dalam kehidupan manusia.
Namun, Hamka tidak berhenti pada pengakuan terhadap dorongan naluriah. Ia tidak memandang manusia sebagai makhluk yang sepenuhnya dikendalikan oleh libido, naluri, atau kebutuhan biologis. Bagi Hamka, manusia memang memiliki hawa nafsu, tetapi manusia juga diberi kemampuan untuk mengolah, mengarahkan, dan memberi makna terhadap tenaga-tenaga tersebut.
Dalam bahasa psikologi, proses itu dapat disebut sublimasi. Energi yang semula mentah dan liar tidak harus berakhir sebagai perilaku merusak. Ia dapat diubah menjadi karya, ilmu, keberanian, kepemimpinan, kecintaan kepada keluarga, kesungguhan bekerja, atau pelayanan kepada masyarakat. Ambisi, misalnya, tidak selalu buruk. Ambisi dapat menjadi kerakusan apabila hanya ditujukan untuk mengalahkan orang lain. Namun, ia dapat menjadi tenaga yang baik apabila diarahkan untuk menghasilkan prestasi dan kemanfaatan.
Begitu pula cinta. Hamka melihat cinta kepada pasangan bukan sebagai halangan bagi pertumbuhan jiwa, selama cinta itu diletakkan dalam arti yang baik (Hamka, 1959, hlm. 91-92). Cinta dapat menjadi sumber semangat, kesetiaan, tanggung jawab, dan pengorbanan. Yang merusak bukanlah cinta itu sendiri, melainkan ketika cinta berubah menjadi pemilikan, ketergantungan, atau pelampiasan hawa nafsu tanpa kesadaran moral.
Dalam kerangka ini, pribadi yang kuat bukan pribadi yang memusuhi tubuh atau menolak seluruh keinginan manusiawi. Pribadi yang kuat adalah pribadi yang sanggup menjadi tuan atas dirinya sendiri. Ia memahami bahwa tubuh memiliki hak, tetapi tubuh tidak boleh menjadi penguasa tunggal. Ia memiliki keinginan, tetapi tidak membiarkan keinginan itu membutakan pertimbangan.
Hamka kemudian membawa pembicaraan ke wilayah yang lebih dalam: dhamir, suara hati atau sanubari. Dhamir adalah bagian dari diri manusia yang masih mampu membedakan yang benar dan yang salah, bahkan ketika kepentingan pribadi berusaha mengaburkannya (Hamka, 1959, hlm. 80). Dhamir mungkin tertutup oleh kebiasaan buruk, tekanan lingkungan, atau godaan kekuasaan. Akan tetapi, ia tidak benar-benar lenyap.
Krisis manusia yang paling serius bukan ketika ia tidak tahu bahwa tindakannya keliru. Krisis itu terjadi ketika ia mengetahui yang benar, tetapi sengaja memilih mengkhianatinya.
Dhamir yang Tertimbun Ketakutan
Hamka menulis Pribadi pada saat masyarakat Indonesia masih kuat dipengaruhi feodalisme, kepatuhan kepada orang besar, dan kebiasaan mengikuti kehendak pihak yang berkuasa. Dalam keadaan demikian, banyak orang enggan berpikir sendiri. Mereka lebih suka menjadi “Pak Turut”, ikut mengangguk, ikut memuji, dan ikut diam ketika kebenaran sedang disembunyikan (Hamka, 1959, hlm. 78).
Mentalitas itu tidak hilang begitu saja dari kehidupan modern. Hanya bentuknya yang berubah. Kini, ketakutan bisa muncul dalam ruang kerja, organisasi, kampus, birokrasi, politik, bahkan media sosial. Ada orang yang tidak berani mengemukakan pendapat karena takut kehilangan posisi. Ada yang membela kekeliruan demi menjaga kedekatan dengan atasan. Ada yang ikut menyebarkan kemarahan karena takut dianggap tidak sejalan dengan kelompoknya.
Dalam kondisi seperti itu, dhamir sering kali tertimbun. Manusia tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar atau salah. Ia hanya bertanya apakah tindakan itu menguntungkan atau berisiko bagi dirinya. Akibatnya, keputusan-keputusan publik pun mudah kehilangan dasar etikanya.
Hamka menyerukan pembebasan dhamir. Gagasan ini dapat dibaca melalui lensa tasawuf. Dalam tradisi sufistik, manusia tidak hanya memiliki badan dan pikiran, melainkan juga lapisan-lapisan batin. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam Sirr al-Asrār, menjelaskan perjalanan manusia dari lapisan yang paling luar menuju kedalaman hati. Ada ṣadr atau dada, qalb atau hati, fu’ād atau hati nurani, lubb atau inti hati, hingga sirr, rahasia terdalam manusia.
Bahasa tasawuf itu dapat dimengerti sebagai ajakan untuk tidak berhenti pada permukaan diri. Banyak orang mengira dirinya adalah jabatan, pekerjaan, gelar akademik, asal keluarga, kekayaan, atau pengaruh sosial. Padahal, semua itu hanya bagian dari identitas luar. Manusia baru mulai mengenal dirinya ketika berani memasuki pertanyaan-pertanyaan yang lebih sunyi.
Mengapa saya ingin dihormati? Mengapa saya marah ketika dikritik? Mengapa saya sulit melihat kelebihan orang lain? Mengapa saya ingin mendapatkan kedudukan itu? Apakah saya sedang bekerja untuk kebaikan, atau hanya ingin dilihat baik? Apakah saya membela prinsip, atau sebenarnya sedang mempertahankan kepentingan?
Pertanyaan semacam ini mudah dijawab. Ia mengganggu kenyamanan ego. Namun, tanpa keberanian untuk memeriksa diri, manusia bisa hidup sebagai mesin sosial: bekerja, bergaul, beribadah, berbicara, dan mengejar prestasi, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengetahui apa yang menggerakkan dirinya.
Dalam tasawuf, pembersihan ini dikenal sebagai takhalli, yaitu usaha mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Riya’, sombong, hasad, takut kepada manusia, cinta berlebihan kepada kedudukan, dan ketergantungan terhadap pujian dipandang sebagai karat yang menutupi hati. Hamka sendiri sangat keras mengkritik watak benalu: keinginan hidup dari keringat orang lain tanpa kemauan bekerja dan tanpa kesediaan memikul tanggung jawab (Hamka, 1959, hlm. 144-146).
Yang dimaksud benalu bukan semata-mata orang miskin atau mereka yang membutuhkan pertolongan. Kemiskinan bukan aib, dan meminta bantuan dalam keadaan sulit bukan kesalahan. Yang dikritik Hamka adalah mentalitas yang menjadikan hubungan, kedekatan, atau belas kasihan orang lain sebagai jalan permanen untuk menghindari usaha. Ia menentang kebiasaan meminta tempat tanpa kemampuan, menginginkan hasil tanpa kerja, dan menuntut penghormatan tanpa prestasi.
Mentalitas benalu berbahaya karena menghancurkan martabat. Seseorang mungkin memperoleh keuntungan sesaat, tetapi kehilangan daya berdiri. Bangsa yang terlalu banyak memelihara budaya ketergantungan akan sulit melahirkan manusia kreatif, pekerja keras, dan berani mengambil risiko.
Setelah proses pengosongan diri, tasawuf mengenal tahap tahalli, yakni menghiasi batin dengan sifat-sifat baik: jujur, sabar, rendah hati, berani, adil, penyayang, dan ikhlas. Pada tahap inilah manusia tidak lagi hanya sibuk menolak keburukan, tetapi mulai membangun watak positif dalam dirinya.
Bagi Hamka, pribadi yang merdeka adalah manusia yang tidak diperintah oleh ketakutan terhadap penilaian orang. Ia tidak berarti keras kepala atau anti-kritik. Justru, ia bersedia mendengar kritik karena tidak menggantungkan harga dirinya pada pujian. Ia dapat berubah ketika memang salah, tetapi tidak mudah goyah hanya karena tekanan kerumunan.
Penempaan Diri di dalam Tungku Kehidupan
Hamka berkali-kali menegaskan bahwa pribadi besar tidak lahir dari kehidupan yang terlalu nyaman. Ia lahir dari tempaan. Seperti intan yang baru memancarkan cahaya setelah digosok, manusia menemukan kekuatannya melalui ujian, kegagalan, penderitaan, dan tanggung jawab (Hamka, 1959, hlm. 76).
Perumpamaan itu penting untuk dibaca secara hati-hati. Hamka bukan sedang memuliakan penderitaan. Kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan tidak boleh dianggap sebagai nasib yang harus diterima dengan pasrah. Semua itu harus dilawan. Namun, ketika kesulitan datang dan tidak dapat dihindari, manusia masih mempunyai pilihan: menyerah atau menjadikan pengalaman itu sebagai jalan pendewasaan.
Jenderal Sudirman adalah contoh yang kerap digunakan Hamka. Dalam keadaan sakit berat, dengan kondisi paru-paru yang terganggu, Sudirman tetap memimpin perjuangan gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan. Tubuhnya melemah, tetapi kehendaknya tidak runtuh. Dalam dirinya, tugas terhadap bangsa lebih besar daripada keinginan untuk menyelamatkan kenyamanan pribadi (Hamka, 1959, hlm. 68-69).
Begitu pula Abraham Lincoln yang menjalani jalan panjang sebelum mencapai kepemimpinan nasional di Amerika Serikat (Hamka, 1959, hlm. 105-106). Atau Emile Zola yang mempertaruhkan reputasinya ketika membela Alfred Dreyfus dalam perkara yang mengguncang Prancis (Hamka, 1959, hlm. 129-130). Tokoh-tokoh seperti itu tidak menjadi penting karena hidupnya tanpa kesulitan. Mereka menjadi penting karena tidak membiarkan kesulitan mengalahkan prinsip.
Dalam tradisi Abu Nu’aim al-Ashfahani melalui Ḥilyat al-Awliyā’, kemuliaan para wali tidak terutama terletak pada hal-hal luar biasa atau kesaktian yang mengundang kekaguman. Kemuliaan terletak pada akhlak, kesabaran, keteguhan, dan kesediaan menanggung beban demi kebenaran. Kesalehan bukan pelarian dari kehidupan, melainkan kemampuan menjaga hati ketika hidup menjadi berat.
Hamka menyebut kesanggupan menahan hati sebagai sendi kemanusiaan (Hamka, 1959, hlm. 51). Menahan hati berarti tidak segera membalas hinaan. Menahan hati berarti tidak tergesa membuat keputusan saat marah. Menahan hati berarti tidak menghancurkan persahabatan hanya karena perbedaan. Menahan hati juga berarti tidak menyerah kepada putus asa ketika usaha belum membuahkan hasil.
Akan tetapi, keteguhan tanpa empati dapat menjelma menjadi kekerasan. Orang yang merasa dirinya paling kuat dan paling benar mudah memandang orang lain sebagai penghalang. Ia dapat menggunakan bahasa kebenaran untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya zalim.
Karena itu, Hamka memberi tempat besar pada timbang rasa (Hamka, 1959, hlm. 32-36). Dalam bahasa masa kini, timbang rasa dapat dimaknai sebagai empati: kemampuan membayangkan diri dalam keadaan orang lain, memahami luka dan keterbatasannya, serta tidak menjadikan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Empati tidak sama dengan kelemahan. Orang yang berempati tetap dapat tegas terhadap kesalahan. Ia dapat menolak korupsi, kebohongan, pengkhianatan, dan ketidakadilan. Namun, ia tidak kehilangan kesadaran bahwa orang yang salah tetap manusia. Ia menghukum tanpa menghina, mengkritik tanpa merendahkan, dan berbeda pendapat tanpa memelihara kebencian.
Dalam pandangan Hamka, puncak kemanusiaan tampak dalam kemampuan memaafkan. Membalas kejahatan dengan kejahatan adalah reaksi yang mudah. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang wajar. Tetapi membalas keburukan dengan kebaikan, atau setidaknya menahan diri dari dendam ketika memiliki kesempatan membalas, adalah kemenangan batin yang jauh lebih tinggi (Hamka, 1959, hlm. 49-50).
Memaafkan bukan berarti menghapus tanggung jawab hukum. Bukan pula berarti membiarkan kesalahan diulang. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak menyerahkan jiwa kepada kebencian. Orang yang mampu memaafkan menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi dikuasai luka masa lalu.
Kehendak, Ikhlas, dan Manusia Paripurna
Di dalam Pribadi, Hamka memberi perhatian besar kepada kemauan atau kehendak (Hamka, 1959, hlm. 160-161). Menurutnya, manusia tidak cukup hanya memiliki kecerdasan. Pengetahuan tanpa kemauan akan tinggal sebagai bahan percakapan. Bakat tanpa ketekunan akan menjadi kemungkinan yang tidak pernah mewujud. Cita-cita tanpa keberanian mengambil langkah hanya berubah menjadi angan-angan.
Kemauan adalah daya yang membuat manusia bertahan dalam proses. Ia membuat seseorang bangun kembali setelah jatuh, belajar setelah gagal, dan tetap bekerja meski hasil tidak segera datang. Namun, kemauan juga harus memiliki arah moral. Kehendak yang kuat tanpa kejujuran dapat berubah menjadi ambisi buta. Ia mungkin menghasilkan kekuasaan, tetapi tidak menghasilkan kemuliaan.
Di titik inilah konsep ikhlas menjadi penting. Hamka menggambarkan ikhlas sebagai kemurnian, seperti emas tulen yang tidak bercampur tembaga (Hamka, 1959, hlm. 162). Ikhlas berarti kesesuaian antara yang tampak dan yang tersembunyi. Apa yang dikatakan selaras dengan yang dikerjakan. Apa yang diperjuangkan di hadapan orang banyak tidak bertentangan dengan niat yang disimpan dalam hati.
Ikhlas tidak berarti manusia tidak boleh memiliki mimpi besar. Ikhlas bukan pula alasan untuk menolak jabatan atau menutup diri dari ruang publik. Yang menjadi masalah adalah ketika jabatan, pujian, dan popularitas berubah menjadi tujuan utama. Dalam keadaan itu, kerja kehilangan makna. Manusia mudah kecewa, marah, dan merasa tidak dihargai ketika apa yang ia lakukan tidak segera mendapatkan pengakuan.
Sebaliknya, orang yang ikhlas bekerja karena merasa pekerjaannya adalah kewajiban. Ia mengajar karena pendidikan penting. Ia berdagang dengan jujur karena tidak ingin mengambil hak orang lain. Ia memimpin karena amanah harus dijalankan. Ia menulis karena percaya bahwa gagasan perlu disampaikan. Ia menolong karena tidak tega melihat penderitaan.
Dalam pemikiran Ibn Arabi, manusia paripurna atau insan kamil merupakan manusia yang mampu menjadi cermin bagi sifat-sifat ilahi dalam batas kemanusiaannya. Gagasan ini tentu tidak berarti manusia menjadi Tuhan. Justru sebaliknya, manusia menyadari keterbatasannya sambil berusaha menghadirkan sifat-sifat baik dalam perilaku sehari-hari: kasih sayang, keadilan, ilmu, kesabaran, kebijaksanaan, dan kehendak untuk menciptakan kebaikan.
Hamka dapat dibaca dalam arah yang serupa, meski bahasanya jauh lebih populer dan membumi. Pribadi yang kuat adalah manusia yang tidak terjebak dalam pesimisme. Ia memiliki harapan. Ia percaya bahwa hidup dapat diperbaiki dan masyarakat dapat dibangun, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah (Hamka, 1959, hlm. 54-59).
Harapan bukan optimisme kosong. Harapan harus diwujudkan dalam kerja. Orang yang berharap pada perbaikan bangsa tidak cukup hanya mengeluh tentang keadaan. Ia perlu mulai dari dirinya: bekerja dengan benar, menghargai waktu, tidak menyebarkan kebencian, mendidik anak dengan baik, tidak mengkhianati amanah, serta tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berbuat curang.
Dalam tasawuf, pengendalian ego sering dihubungkan dengan konsep fanā’, yakni lenyapnya keakuan yang berlebihan. Yang harus hilang bukan kecerdasan, kehendak, atau daya kerja manusia. Yang perlu dilenyapkan adalah perasaan bahwa diri sendiri merupakan pusat segala sesuatu. Ego yang selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri, ingin dianggap paling berjasa, dan tidak tahan melihat orang lain berhasil.
Ketika ego mulai surut, manusia justru dapat bekerja lebih baik. Ia tidak sibuk menjadikan seluruh aktivitas sebagai panggung untuk dirinya. Ia dapat memimpin tanpa mabuk kekuasaan, kaya tanpa menghina yang miskin, pandai tanpa meremehkan orang lain, dan berpengaruh tanpa merasa dirinya paling penting.
Pada horizon tertinggi, tradisi tasawuf mengenal istilah fanā’ ul-fanā’, yakni lenyapnya kesadaran akan kelenyapan diri itu sendiri. Konsep ini tidak perlu dipahami secara harfiah sebagai hilangnya kesadaran manusia. Ia lebih tepat dibaca sebagai keadaan ketika seseorang tidak lagi sibuk dengan dirinya, bahkan tidak pula sibuk membanggakan kesalehan atau kerendahan hatinya.
Ia berbuat baik tanpa merasa sedang menjadi orang baik. Ia berkorban tanpa menghitung-hitung jasa. Ia bekerja tanpa terus-menerus meminta pengakuan. Ia menolong tanpa menjadikan pertolongan sebagai alat untuk mengikat orang lain.
Dalam pengertian itu, fanā’ ul-fanā’ dapat menjadi metafora yang kuat untuk membaca puncak gagasan Hamka tentang pribadi. Pribadi yang matang adalah pribadi yang telah melampaui ego, tetapi tidak melarikan diri dari dunia. Ia kembali ke tengah kehidupan dengan hati yang lebih jernih.


