Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Ada yang ganjil sekaligus getir dalam sinema kehidupan berbangsa kita hari-hari ini. Beberapa waktu lalu, sebuah pesan WhatsApp seorang teman masuk. Dengan gaya satire-jurnalistiknya yang tajam, ia memotret sebuah drama dua layar yang diputar secara bersamaan oleh sejarah.
Layar pertama berada di Vladivostok, Rusia. Di hadapan Vladimir Putin dan para delegasi Eastern Economic Forum, Presiden berbicara dengan nada puitis-heroik mengenai pembangunan sejati yang diukur dari meja makan rakyat. “Inilah sebabnya mengapa Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi semua anak-anak kita…” ucapnya penuh kebanggaan.
Namun pada saat yang persis sama, layar kedua menyalakan lampu daruratnya di Sidoarjo, Nganjuk, Agam, hingga Rembang-Lasem. Di sana, layar tidak memperlihatkan anak-anak yang tumbuh perkasa, melainkan deretan lorong rumah sakit dan puskesmas yang mendadak sibuk. Ribuan anak tumbang, tersiksa oleh mual, muntah, dan diare setelah menyantap hidangan dari program raksasa tersebut.
Lalu dunia menoleh. Reuters, The Guardian, Al Jazeera, hingga Channel NewsAsia berebut memberitakannya. Angka keracunan bergulir cepat seperti odometer mobil tua yang kabel remnya putus—melewati puluhan ribu kasus, hingga beredar kabar jumlahnya mendekati angka lima puluh ribu.
Inilah split screen effect yang sempurna sekaligus tragis: di satu sisi ada diplomasi tingkat tinggi dan retorika kebesaran (rhetoric of greatness), di sisi lain ada kenyataan kasat mata di Instalasi Gawat Darurat (reality of incompetence). Media internasional berebut melaporkannya bukan karena kedengkian geopolitik, melainkan karena keheranan yang mendasar: bagaimana mungkin sebuah proyek raksasa yang digadang-gadang mengalahkan skala porsi harian McDonald’s justru ambruk pada prinsip paling elemental dari sebuah hidangan—keamanan pangan (food safety)?
Sebagai seorang yang puluhan tahun bergelut dalam tata kelola pembangunan daerah, saya melihat tragedi Dapur SPPG ini bukan sekadar kegagalan teknis pencucian sayur atau kecerobohan penyediaan rantai pasok dingin (cold chain supply). Ini adalah symptom—gejala klinis dari penyakit struktural yang jauh lebih mematikan: sebuah kebijakan publik yang lahir dari Narcissistic Personal Disorder kekuasaan.
Kebijakan yang sehat lahir dari perencanaan teknokratis berbasis data (evidence-based policy), kalkulasi risiko, dan kesiapan kelembagaan. Sebaliknya, kebijakan yang dihinggapi narsisme politik lahir dari dahaga akan panggung, piala instan, dan pencitraan megalomanis. Ketika panggung lebih penting daripada proses, detail teknis diabaikan. Vendor-vendor ditunjuk bukan atas dasar kompetensi, melainkan jejaring patronase. Akibatnya, pemborosan anggaran raksasa mengalir deras ke ceruk-ceruk korupsi dan manipulasi tata niaga.
Dampaknya tidak berhenti pada perut anak-anak yang kesakitan. Ini adalah sebuah fundamental socio-economic, cultural, and political destruction. Secara ekonomi, terjadi penggerogotan uang negara secara masif. Secara sosial-budaya, terjadi erosi rasa percaya (erosion of social trust) yang parah—ketika orang tua tak lagi merasa aman menitipkan keselamatan anaknya pada program negara.
Secara politik, situasi ini melahirkan apa yang saya sebut sebagai last time panic. Terjadi kepanikan di ujung panggung kekuasaan akibat himpitan transisi politik dan ketakutan akan terbukanya “Kotak Pandora”. Keracunan MBG hanyalah retakan kecil di permukaan. Di bawahnya, menumpuk persoalan yang jauh lebih berat: manipulasi tata niaga komoditi strategis, carut-marut hilirisasi yang ugal-ugalan, hingga krisis legitimasi dan skandal moralitas pejabat publik.
Masyarakat hari ini mungkin tampak tenang di permukaan. Aktivitas pasar berjalan, lalu lintas tetap padat, dan toko-toko tetap buka. Namun jangan salah membaca keadaan. Secara fisik negeri ini belum mengalami chaos, tetapi secara psikologis, moral, dan politik, fondasinya sudah collapse.
Situasi kita hari ini mirip seperti kawasan Selat Sunda pada pertengahan Agustus 1883. Di permukaan, air laut tampak membiru dan angin berembus pelan. Namun di kedalaman, tekanan magmatis terus menumpuk, mencari celah sekecil apa pun untuk meledak. Gunung es korupsi dan manipulasi sistemik ini sedang bergerak menuju titik jenuhnya. Tinggal menunggu momentum sejarah untuk memicu ledakan dahsyat ala Krakatau 1883.
Di tengah situasi absurd seperti ini, tak jarang muncul rasa lelah yang amat sangat (intellectual fatigue). Terkadang timbul perasaan bahwa puluhan esai, tulisan pencerahan, dan analisis kritis yang kita susun hanya seperti melempar garam ke laut—tergilas dan tenggelam dalam samudera bisingnya propaganda serta kepatuhan buta.
Namun, kepada kawan-kawan seperjuangan, saya katakan: tugas seorang intelektual publik bukanlah untuk memenangkan tepuk tangan riuh, melainkan untuk menjaga nyala lilin nalar di tengah kegelapan. Tulisan dan satire ini mungkin terasa sunyi hari ini. Namun ia adalah dokumen sejarah dan kompas moral yang berharga.
Sebab ketika kelak “Gunung Krakatau” korupsi dan kelalaian sistemik itu benar-benar meledak, catatan-catatan sunyi inilah yang akan menjadi saksi abadi—bahwa di tengah kebohongan yang mendunia, masih ada anak-anak bangsa yang berani berdiri, berpikir jernih, dan mengingatkan sebelum bencana itu tiba.
Wallahualam


