SURABAYAONLINE.CO, Balikpapan – Tim bridge BTC kecewa kepada panitia penyelenggara Bridge Balikpapan Open Tournament (BBOT). Betapa tidak, BTC selaku juara II seharusnya menerima hadiah Rp 30 juta hingga seaat ini belum diberikan, bahkan kabarnya honor panitia perangkat pertandingan pun juga belum dibayar oleh Panpel.
Seperti diketahui BBOT dilakasanakan sejak 12 – 14 Juni, di Balikpapan Sduperblock (BSB) menuai banyak gunjingan dari semua peserta.
Menurut Ronny Eltanto selaku Kapten BTC, hingga saat ini ia belum menerima hadiah dari pihak Panpel. Sebab selama mengikuti event baru pertama kali ia mengalami hadiah yang menjadi hak para juara belum diterima.
“Ya mangkel (kecewa) karena baru pertama kali ini saya mengalaminya, bahkan saya dengar ada beberapa perangkat pertandingan atau panitia juga belum terima honor,” katanya saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Sabtu kemarin.
Ronny juga sudah beberapa kali menghubungi ketua Panpel Oktavianus Batara, namun hanya mendapatkan janji dan hingga saat ini uang hadiah itu belum terealisasi.
“Terakhir saya menghubungi Oktavianus Batara tanggal 3 Juli,” tegas Ronny yang juga pemain senior bridge Jatim itu.
Lebih lanjut Ronny mengatakan, dari keterangan Oktavianus Batara, pihak Panpel belum bisa mencairkan hadiah itu karena dana dari beberapa sponsor belum cair.
“Alasannya karena sponsor ada yang belum cair. Kalau dipending seminggu itu masih wajar tapi ini sudah hampir sebulan. Harusnya dana sponsor itu cair sebelum pertandingan,” katanya.
Dihubungi terpisah CEO atau owner BTC, Thoriq Alkatiri membenarkan kalau pihaknya hingga saat ini belum menerima hadiah dari Panpel. Ia berharap masalah ini segera diselesaikan karena membawa nama baik daerah yakni Balikpapan.
Apalagi event ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, C.I. Ratih Kusuma W, mewakili Wali Kota Balikpapan yang berhalangan hadir.
Bahkan kejuaraan berhadiah total Rp 250 juta itu juga diikuti atlet dari luar negeri yakni Filipina dan Singapura.
“Jauh-jauh kita ikut BBOT itu karena ingin bridge berkembang di semua daerah di Indonesia. Kalau kita hitung nilai hadiah dengan biaya (akomodasi dan transportasi) ke Balikpapan tidak ketemu, tapi kita tetap berangkat untuk menghargai undangan dari pihak Panpel,” cerita Thoriq.
Ia juga mengkhawatirkan dampak dari masalah ini bisa merembet ke event yang digelar di Kalimantan. “Rencananya ada kejuaraan Bridge di Samarinda dan Kalimantan Barat, khawatirnya peserta batal mengikuti dua event itu karena masalah ini,” jelas Thoriq.
Harapannya, pihak Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) untuk turun tangan agar masalah ini bisa segera diselesaikan.
“PB Gabsi harus turun tangan agar hak atlet, pelatih maupun klub terlindungi. Selain itu saya berharap agar masalah seperti ini tidak terjadi di kepengurusan PB Gabsi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.
Sementara itu, salah satu perangkat pertandingan saat dihubungi melalalui telepon genggamnnya mengaku hingga saat ini ia belum menerima honor. Ia juga berharap para sponsor segera mencairkan dana agar hadiah dan honor panitia atau perangkat pertandingan bisa segera cair.
“Semua panitia atau perangkat pertandingan belum terima honor, bahkan semua juara juga belum menerima hadiah berupa uang,” kata narasumber yang menolak untuk disebutkan namanya itu.
Bahkan, Ketua Panpel BBOT Oktavianus Batara saat dihubungi untuk konfirmasi terkait masalah ini, handpone tidak aktif. (ega)


