SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Aksi tipu daya alias gendam menghantui Kota Surabaya. Kali ini pelaku menyasar dan mencari target korban yang masih berstatus pelajar. Seperti yang terjadi pada Jumat (17/4) sore di sekitar Jalan Taman Apsari, Surabaya. Korban seorang pelajar SMK bernama Raka, warga Jalan Rungkut Menanggal Harapan, Rungkut, Surabaya, pemilik motor Honda PCX.
Dua pelaku menggunakan motor Suzuki Satria FU warna oranye putih tanpa plat nomor, telah melarikan Honda PCX warna putih nopol L 3319 AADV. Saat itu korban bersama dua temannya, Yoga dan Hilmi, sedang bermain basket di Taman Apsari.
Orang tua Raka, yaitu Dadi Wahyudi menceritakan kronologis aksi tipu daya yang dialami putranya. “Jadi pada waktu itu motor diparkir di samping Taman Apsari tempat lapangan basket. Kemudian ada 2 pelaku menghampiri anak saya dan teman-temannya, lalu menuduh anak saya telah menabrak adik pelaku,” ujarnya, Minggu (19/4).
Dua pelaku dengan ciri ciri satu berbadan besar berbaju putih lengan panjang celana hitam dan satu pelaku lainya berbadan sedang celana pendek berbaju lengan pendek helm hitam.
Untuk pelaku berbadan tegap lengan panjang menuduh Raka menabrak adiknya. Kemudian pelaku mengajaknya untuk menemui adiknya, dengan bergoncengan mengendarai motor Satria FU. Aksi pelaku berhasil terekam CCTV di Warung Manja, jarak 30 meter dari tempat kejadian.
Korban Raka lalu diturunkan di Jalan Walikota Mustajab. Kemudian dua pelaku beralasan kembali menuju ke Jalan Taman Apsari guna menjemput Yoga dan akan diajak ke Jalan Walikota Mustajab, tempat Raka diturunkan.
Kedua pelaku sampai kembali di Taman Apsari, lalu bertemu dengan Yoga, teman SMK Raka. Kedua pelaku bilang bahwa Yoga dan motor Honda PCX milik Raka ditunggu di Jalan Wijaya Kusuma. Padahal Raka posisi berada di Jalan Walikota Mustajab.
Korban sadar setelah Raka menelpon temannya Hilmi yang masih di tempat basket. Karena merasa tertipu, Raka dan Yoga di tempat berbeda kembali ke Taman Apsari, menggunakan ojek online.
“Jadi anak saya dan temannya ini sengaja dibingungkan dan tidak sadar. Sadarnya putra saya setelah menelpon Yoga dan Hilmi. Pada hari itu juga saya laporan ke Polsek Genteng.” tutup Dedi Wahyudi.(*)


