Rupiah Perkasa di Mata Dollar Singapura

SURABAYAONLINE.CO – Nilai tukar dolar Singapura turun melemah lagi melawan rupiah pada perdagangan Senin (18/10). Mata Uang Garuda memang sedang perkasa sejak pekan lalu, ditopang oleh aliran modal yang masuk ke dalam negeri, sentimen pelaku pasar yang membaik, hingga readyviewed necara dagang yang melanjutkan tren surplus.

Alhasil, kurs dolar Singapura tak berkutik. Melansir data Refinitiv, pagi tadi dolar Singapura merosot 0,4% ke Rp 10.393,46/SG$ di pasar spot. Level tersebut merupakan yang termurah sejak 10 November.

Kabar baik datang dari dalam negeri yang membuat aset-aset dalam negeri menghijau.

Sentimen positif datang dari perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di mana kasus Covid-19 di Tanah Air tercatat di bawah 1.000 dalam 2 hari terakhir sehingga memicu harapan bahwa pemulihan ekonomi nasional bakal segera terjadi. Per hari Minggu (17/10), Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengumumkan hanya ada tambahan 747 kasus baru Covid-19.

Hal tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik dan memicu capital inflow. Di pasar saham investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 5,15 triliun, sepanjang pekan lalu. Nilai yang cukup besar. Kemudian di pasar obligasi, juga terjadi capital inflow di pasar sekunder. Hal ini terlihat dari penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang turun 8,1 basis poin hari in ke 6,269%.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Saat harga naik yield akan turun. Saat harga turun berarti terjadi aksi beli.

Sementara itu di pasar primer, penawaran yang masuk dari lelang obligasi yang dilakukan pemerintah sebesar Rp 50,15 triliun. Dari nilai tersebut yang dimenangkan sebesar Rp 8 triliun sesuai dengan target indikatif.

Menambah sentimen positif pada Jumat (15/10/2021), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor periode September 2021 adalah US$ 20,6 miliar. Dalam waktu yang sama, impor tercatat US$ 16,23 miliar. Ini menghasilkan surplus neraca perdagangan U$ 4,37 miliar.

Dengan demikian neraca perdagangan mengalami surplus selama 17 bulan berturut-turut.

Aldian Taloputra, Ekonom Bank Standard Chartered Indonesia. mengatakan harga komoditas batu bara hingga minyak kelapa sawit diperkirakan masih terus meningkat, sehingga mendorong ekspor dan penguatan nilai tukar rupiah.

“Kalau kami lihat penguatan rupiah saat ini didorong oleh penguatan harga komoditas terutama batubara, metal, palm oil, dan gas. Selain itu kita juga melihat permintaan domestik yang belum normal juga berkontribusi pada masih relatif rendahnya permintaan impor,” papar Aldian.