Kalah dan Menang

Muh. Rudiansyah (catatan perjalanan mendampingi team anggar Jatim)

SURABAYAONLINE.CO – Perhelatan olahraga terbesar secara nasional ke 20 yang diselenggarakan di tanah Cendrawasih Papua sudah mendekati hari-hari akhir, banyak yang berbahagia karena mendapatkan kemenangan karena memang semua kontingen ketika berangkat berharap memperoleh kemenangan karena dengan kemenangan tersebut mereka bisa berbangga karena mendapatkan pujian dan janji materi berupa bonus atas prestasi yang diraih.

Tetapi dalam sebuah ajang kompetisi tentu tidak semua bisa menang karena yang disebut juara hanya satu, yang gagal menang menjadi kecewa apalagi kalau kegagalan tersebut dalam persangkaan mereka disebabkan oleh kecurangan, kecewaan itu terkadang sampai menyulut kemarahan.

Karena harus mendampingi atlet yang berlaga di arena PON, maka ada pengalaman yang menjadi catatan saya, ketika beberapa atlit yang kalah menangis menyesali kekalahan, saya katakan kepada mereka : ini hanyalah permainan, tugas kalian adalah berusaha dan berjuang karena kalian membawa amanah masyarakat Jawa Timur, makanya pesan yang selalu saya ingatkan adalah niatkan berjuang untuk mengemban amanah berat tersebut, memuliakan orang tua dan guru-guru kalian, jangan untuk ambisi pribadi, ditambah banyak dzikir, doa dan istighfar, kalau itu sudah kalian lakukan hasilnya serahkan kepada ALLAH SWT, karena ini hanya permainan dunia maka kalah atau menang keduanya adalah ujian, kalau kalah kita harus introspeksi apakah perjuangan kita mulai latihan sampai bertanding sudah maksimal, kalau kalah karena dicurangi mungkin justru itu adalah bentuk kasih sayang ALLAH SWT kepada kita karena sebagai orang yang terdzalimi kita mendapat fasilitas doa-doa kita lebih mustajabah.

Kemenangan juga sebuah ujian, apakah kita tetap rendah hati atau justru menjadi sombong.

Erwan Tona, atlit Aceh asal Gayo yang sering kami daulat menjadi imam shalat subuh berjamaah di mushola wisma atlit, ketika meraih medali perak nomor floret perseorangan menolak ucapan selamat dari atlit-atlit Jatim seusai shalat jamaah dan mengatakan : urusan apa kok diberikan selamat, nggak ada yang perlu diselamati, saya baru sekarang ditakdir mendapatkan medali di PON, padahal sudah12 tahun lebih main anggar baru kali ini ikut PON, saya enjoy saja main dan terus berlatih walaupun kalah, Tetapi pada PON kali ini Erwan Tona menjadi faktor dominan kebangkitan team anggar Aceh dengan menyumbang 1 Emas beregu dan 1 Perak perseorangan nomor floret.

Erwan Tona sebagai imam memberikan teladan kepada atlit Jatim yang sering makmum kepadanya cara menyikapi kemenangan dengan tetap rendah hati dtetap rendah hati dan ramah.

Atlit-atlit Aceh juga memberikan contoh bagaimana adab murid terhadap guru, seusai perhelatan PON XX Papua mereka tidak langsung pulang ke Aceh tetapi mereka bersama-sama mengantarkan terlebih dahulu guru (pelatih) mereka Fatholah ke Probolinggo dan silaturrahim ke keluarga guru mereka.

Sebuah pemahaman dan pengamalan agama yang kuat, mungkin itulah kunci datang pertolongan ALLAH SWT kepada team anggar Aceh bangkit sebagai salah satu provinsi dengan tradisi emas. Erwan Tona dkk mengajarkan bagaimana pengamalan surah An Nasr yang turun setelah kemenangan besar ditaklukkan dan dibuka kembali kota Mekkah oleh umat islam. ketika telah datang pertolongan ALLAH SWT dan datang kemenangan, bukan sikap sombong yang muncul tetapi justru dengan memperbanyak bersyukur dan bertasbih serta memohon ampunan atas kesalahan karena ALLAH maha penerima taubat.

wallahu’alam bishawab.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *