Se-Asean Cuma Indonesia yang Jual BBM Premium

SURABAYAONLINE.CO – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dengan nilai oktan (RON) 88 atau dikenal dengan merek Premium sampai saat ini masih dijual di Indonesia. Padahal, negara-negara tetangga lainnya di kawasan Asia Tenggara sudah meninggalkannya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hanya Indonesia yang masih menjual bensin dengan RON terendah 88 atau bensin Premium, sementara negara-negara tetangga lainnya di Asia Tenggara menjual bensin dengan nilai oktan terendah 90/91 seperti di Thailand, Filipina, dan Laos.

Dengan harga jual bensin Premium saat ini Rp 6.450 per liter memang membuat Indonesia tercatat menjual harga bensin paling murah dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Namun bila membandingkan bensin dengan nilai oktan lebih tinggi, misalnya bensin dengan RON 97 di Malaysia dan Pertamax Turbo (RON 98) di Indonesia, harga Pertamax Turbo jauh lebih mahal dibandingkan dengan RON 97 Malaysia.

Harga terbaru bensin RON 97 di Malaysia per kemarin, Kamis (23/09/2021), hingga sepekan ke depan tercatat sebesar RM 2,75 atau sekitar Rp 9.342,03 (asumsi kurs 1 RM = Rp 3.397,1) per liter.

Sedangkan harga Pertamax Turbo yang baru saja dinaikkan Pertamina pada 18 September 2021 lalu menyentuh Rp 12.300 per liter.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih mengatakan, di Indonesia harga jual terendah yakni Premium dan Solar subsidi dengan Cetane Number (CN) 48 seharga Rp 5.150 per liter karena pemerintah memberikan subsidi dan kompensasi.

Sementara untuk BBM non subsidi, khususnya bila dibandingkan dengan Malaysia, harga BBM lebih murah di Malaysia karena Malaysia memberlakukan kebijakan Automatic Pricing Mechanism (APM) formula dalam penetapan harga BBM-nya.

Kebijakan APM ini berfungsi untuk menstabilkan harga bensin (bensin RON 95, bensin RON 97) dan solar sampai batas tertentu, melalui pemberlakuan pajak penjualan dan subsidi dalam jumlah yang bervariasi, sehingga perubahan harga eceran dipengaruhi oleh besaran pajak dan subsidi dalam batas tertentu sesuai kebijakan yang ditetapkan pemerintah Malaysia.

“Dengan kebijakan APM tersebut, Pemerintah Malaysia menjaga harga BBM pada level tertentu melalui pemberian insentif,” tambahnya, seperti dikutip dari keterangan resmi, dikutip Jumat (24/09).

Seperti diketahui, Pertamina per 18 September 2021 menaikkan dua produk BBM non subsidi yakni bensin Pertamax Turbo dan solar Pertamina Dex. Harga Pertamax Turbo di daerah DKI Jakarta dan Pulau Jawa, kini naik menjadi Rp 12.300 per liter dari sebelumnya dipatok Rp 9.850 per liter. Sementara Pertamina Dex naik dari Rp 10.200 menjadi Rp 11.150 per liter.Sementara mengenai penyesuaian harga jual eceran BBM yang dilakukan PT Pertamina, kata Soerja, PT Pertamina (Persero) telah melaporkan penyesuaian harga jual eceran Jenis BBM Umum yang disalurkan melalui SPBU dan/atau SPBN untuk jenis Pertamax Turbo (Bensin RON 98) dan Pertamina Dex (Solar CN 51) yang berlaku per tanggal 18 September 2021 kepada Kementerian ESDM c.q. Ditjen Migas melalui surat Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nomor R-141/C00000/2021-S3 tanggal 11 September 2021 perihal Informasi Penyesuaian Harga BBM Jenis Umum Pertamina Bulan September 2021.

Sementara di luar Jawa, harga Pertamax Turbo rata-rata naik menjadi kisaran Rp 12.500 – Rp 12.700 per liter dari sebelumnya di kisaran Rp 10.050 – Rp 10.250 per liter. Untuk harga Pertamina Dex di luar Pulau Jawa naik menjadi di kisaran Rp 11.350 – Rp 11.550 per liter dari sebelumnya Rp 10.450 – Rp 10.650 per liter.

Kenaikan harga BBM ini juga dilakukan oleh pesaing Pertamina, yakni Shell. Bahkan, Shell telah menaikkan lebih dulu sejak 3 September 2021 lalu.

Harga Shell V-Power Nitro+ dengan RON 98 dijual dengan harga Rp 12.310 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sempat menyebut hanya ada empat negara di dunia yang sampai saat ini masih mengonsumsi bensin Premium. Indonesia menjadi salah satu dari empat negara tersebut.

Arifin mengajak masyarakat untuk beralih ke BBM dengan RON yang lebih tinggi, karena tidak hanya bagus untuk mesin, namun juga lebih ramah lingkungan.

“Masih ada empat negara di dunia masih gunakan Premium. Kita tertinggal dari Vietnam yang sudah Euro 4 dan akan masuk ke Euro 5, Kita masih Euro 2,” paparnya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VII DPR RI, Kamis (26/08).

Lebih lanjut dia mengatakan ke depannya teknologi kendaraan akan terus berkembang, di mana teknologi ini menuntut kualitas BBM yang lebih baik. Dia kembali mengajak masyarakat untuk beralih ke BBM dengan nilai oktan lebih tinggi seperti Pertamax.

“Dalam hal ini kami mohon dukungan bagaimana bisa merespons ini dengan baik, outlet penjualan Premium dikurangi pelan-pelan,” ucapnya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati juga pernah menyampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) Rabu (1/7/2020), ada tujuh negara yang masih menjual Premium. Ketujuh negara itu adalah Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, Uzbekistan, dan Indonesia.

Di Singapura, minimal yang dijual adalah BBM RON 92, Malaysia minimal yang dijual, yaitu BBM RON 95 dan BBM RON 97. Kemudian di Thailand (BBM RON 91 & BBM RON 95), Filipina (BBM RON 91, BBM RON 95, dan BBM RON 100), Vietnam (BBM RON 92, BBM RON 95, dan BBM RON 98).

Sementara itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat, serapan Premium selama Januari sampai Juli 2021 masih sangat rendah.Selama Januari-Juli 2021, konsumsi Premium baru mencapai 2,71 juta kilo liter (kl) atau hanya 27,18% dari kuota tahun ini sebesar 10 juta kl.