Kekhawatiran Pekerja Jika Cukai Rokok Naik Tahun Depan

SURABAYAONLINE.CO – Pemerintah menaikkan target penerimaan cukai tahun depan 11,9% menjadi Rp 203,9 triliun. Dari kenaikan target tersebut, ada kemungkinan cukai hasil tembakau (CHT) ikut mengalami kenaikan.

Kenaikan tarif CHT ini dinilai bisa menyebabkan terjadinya pengurangan tenaga kerja dan serapan tembakau. Provinsi Jawa Timur, yang merupakan sentra penghasil tembakau terbesar di Indonesia, bahkan mencatat telah terjadi pengurangan 5.000 pekerja pabrik rokok sejak tahun lalu. Padahal lebih dari 50% pekerja industri hasil tembakau ada di Jawa Timur.

“Dari data yang ada, IHT di Jawa Timur, khususnya untuk skala kecil dari tahun ke tahun memang terjadi penurunan apalagi saat pandemi. Sehingga muncul pengangguran dan turunnya kesejahteraan petani tembakau, karena mereka ini memasok tembakau untuk pabrik kecil,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Drajat Irawan, dalam keterangannya, Senin (20/9).

Ia menambahkan, saat ini setidaknya ada 90 ribu lebih pekerja tembakau di Jawa Timur. Kontribusi Jawa Timur terhadap penerimaan negara via CHT juga merupakan yang terbesar. Tahun lalu, Jawa Timur menyumbang Rp 101,9 triliun cukai, atau setara 59,38% total penerimaan cukai nasional.

Hal ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang paling rentan terhadap dampak ekonomi bila IHT terganggu. Banyak warganya yang menggantungkan hidupnya saat ini sebagai petani tembakau maupun pekerja di sektor industri.

Hal senada juga disampaikan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Ubaidillah Umar Sholeh. Ia mengatakan bahwa kenaikan tarif CHT hanya akan merugikan petani tembakau, khususnya yang berada di Jatim.