Dampak Globalisasi terhadap Kebudayaan Moposad dan Moduduran

Oleh:
Ryan Himawan

SURABAYAONLINE.CO – Nilai tolong-menolong adalah nilai kemanusiaan yang utama dalam menjalani hidup sehari-hari sebagai makhluk sosial. Nilai ini mencerminkan suatu kebersamaan yang tumbuh bersama dengan masyarakat untuk bekerja sama dalam membantu orang lain atau rasa empati dalam kehidupan sosial. Perlu diingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

DIperlukan adanya keterlibatan orang lain untuk terus menjaga harmonisasi yang telah terbentuk. Sudah seharusnya nilai tolong-menolong yang ada di masyarakat membangun mentalitas anak bangsa agar bisa bertumbuh dalam karakter dan memiliki nilai luhur yang bermanfaat terhadap sesama. Nilai tolong-menolong ini juga bukan hal yang baru di Indonesia, tetapi sudah lahir dan hidup bersama dengan adat istiadat di daerah. Salah satunya adalah kebudayaan Moposad dan Moduduran dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Moposad dan Moduduran adalah suatu kebudayaan yang mengajarkan pada nilai tolong-menolong terhadap sesama. Kebudayaan ini bermula dari sektor pertanian di daerah Bolaang Mongondow dimana masyarakat saling bahu-membahu untuk memberikan bantuan, baik ketika masa tanam, masa pemeliharaan, hingga masa panen.

Saat ini, nilai kearifan lokal (termasuk nilai tolong-menolong) kerap ditinggalkan oleh generasi muda, baik karena ketidaktahuan generasi muda tentang kearifan lokal tersebut, ketidakinginan generasi muda untuk dikaitkan dengan adat istiadat, hingga tergerusnya tradisi karena arus globalisasi. Prof. Dr. Selo Soemardjan menjelaskan bahwa globalisasi merupakan suatu proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia dengan tujuan untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama. Namun, globalisasi sendiri memiliki sisi positif dan negatif terhadap dampak yang ditimbulkan kepada kebudayaan lokal di Indonesia. Sisi negatif globalisasi dapat terlihat dari tergerusnya budaya dan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh budaya asing yang jauh lebih fenomenal dan dikenal oleh masyarakat. Masyarakat dapat saja meninggalkan nilai kebudayaan yang ada dan beralih kepada kebudayaan asing dikarenakan perkembangan IPTEK yang sangat cepat dan memudahkan pertukaran informasi dari seluruh dunia.

Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa perkembangan IPTEK memiliki dampak yang besar terhadap masyarakat terkait dengan cara pandang, budaya, dan gaya hidup yang lahir di generasi tersebut. Masyarakat saat ini sudah mulai terbiasa untuk aktif di dunia maya dan mulai terlepas sentuhannya dengan dunia nyata. Nyatanya, arus globalisasi dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan kebudayaan, termasuk Moposad dan Moduduran. Generasi muda saat ini sudah dapat membedakan yang mana nilai-nilai kehidupan yang baik dan buruk akibat cepatnya informasi dikirimkan melalui gawai yang dimiliki. Nilai luhur tolong-menolong yang dimiliki oleh Moposad dan Moduduran atau Posad dan Mokodilu dapat menciptakan integrasi sosial di masyarakat tanpa harus melakukan kontak secara fisik. Pertolongan di era teknologi saat ini dapat dilakukan bahkan melalui dunia maya. Seperti memberikan donasi melalui website atau aplikasi yang menyalurkan dana donasi, meningkatkan kesadaran masyarakat atas suatu isu sosial dan menggerakan masyarakat untuk membantu, hingga melakukan kegiatan sosial bersama untuk menolong masyarakat di daerah tertentu. Kekhawatiran globalisasi yang dapat menggerus kebudayaan lokal sudah seharusnya diminimalisasi dan diubah paradigmanya.
Masyarakat sudah seharusnya memperjuangkan dan mempromosikan kebudayaan-kebudayaan yang ada dengan nilai luhur yang ditawarkan. Walaupun nantinya globalisasi membuat kebudayaan lokal tidak lagi diminati oleh masyarakat, tetapi nilai luhur di dalamnya akan tetap bersemayam di tengah-tengah masyarakat. Nilai tolong-menolong tidak hanya sebatas pada nilai luhur suatu kebudayaan daerah tertentu, melainkan telah menjadi cerminan bangsa dan cita-cita berdasarkan Pancasila dan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai dari Moposad dan Moduduran tentang tolong-menolong dapat dijumpai dari semua sila yang ada dalam Pancasila. Pancasila pun lahir dari adat istiadat yang sudah menjadi bagian hidup di Indonesia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Moposad dan Moduduran memiliki relevansi dengan masyarakat Indonesia dengan nilai yang terkandung di dalamnya sehingga globalisasi tidak lagi menjadi hambatan untuk berani menyuarakan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia beserta nilai luhur yang ada. Kebudayaan Moposad dan Moduduran dapat diimplementasikan dari lingkungan terkecil seorang individu, yaitu lingkungan keluarga seperti membantu ibu membersihkan rumah, mengajari adik untuk belajar berhitung, atau membantu ayah untuk memperbaiki mobil yang rusak.

Selanjutnya adalah lingkungan sekolah dimana kita dapat mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan lapangan sekolah, mengikuti program kerja sosial seperti pengembangan masyarakat yang menjadi mata pelajaran wajib sekolah. Yang terakhir adalah lingkungan masyarakat seperti mengikuti kegiatan kerja bakti mingguan di perumahan dan mengikuti kegiatan donasi yang diadakan untuk korban bencana alam. Setiap tindakan tersebut dapat dilakukan baik secara fisik maupun non-fisik selama ada niat dari masyarakat untuk menolong. Oleh karena itu, Moposad dan Moduduran yang menawarkan nilai tolong-menolong sudah seharusnya dilestarikan dan menjadi ciri khas Indonesia.

*) Mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Prasetiya Mulya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *