Antara Percaya dan Tidak

SURABAYAONLINE.CO – Pukul 16.43 WIB berita dan video kejadian di Mabes Polri Rabu (31/3/2021) kemarin sore sudah viral di medsos. Hanya selisih 13 menit dari terjadinya perstiwa itu pada puku 16.30.

Dua tayangan video berdurasi masing-masing sekitar 38 detik yang mempertontonkan seorang perempuan ‘penerobos’ bersenjata api akhirnya roboh dan tewas seketika tertembak oleh entah siapa penembaknya. Yang pasti, anggota Polri.

Sesaat, setelah kejadian, karuan saja peristiwa tak lazim ini jadi tranding topic. Semua mengunjingkan.

Hingga menjelangkan tengah malam kemarin, berbagai media online melansir berita menghebohkan itu. Dan dengan judul berita beragam. Intinya Mabes Polri diserang dan kebobolan.

Kapolri Jendral Pol Listyo S Prabowo dan jajarannya ikut ke TKP melihat sosok perempuan ‘penerobos’ yang kemudian identitasnya diketahui bernama Zakia Aini (ZA), 25 tahun.

Kamis pagi, media cetak lebih lengkap memberitakannya. Siapa si ZA didiskripsikan.

Perempuan lajang ini warga Jln Lapangan Tembak, Ciracas, Jakarta Timur. Ia mahasiswa PTS DO pada semester V.

Waktu beraksi seorang diri, ZA membawa airsoft gun. Sebelumnya ia berpamitan ke keluarga melalui WA. Dan meninggalkan surat wasiat.

Perihal surat wasiat ZA yang ditemukan petugas saat mengeledah rumahnya, juga jadi tranding topic. Kenapa ? Karena, surat wasiatnya kalimat dan gaya bahasanya sama dengan surat wasiat pelaku bom bunuh diri di gereja Katedral, Makassar, Minggu lalu. Kok bisa ?

Beberapa media cetak menyebut ZA terpapar paham ISIS.

Sayangnya, ZA sudah jadi mayat. Sehingga tak bisa mengorek benarkah ia berpaham ISIS. Semestinya, ZA yang _alone wolf_ itu bisa dilumpuhkan. Tak sampai nyawanya tercabut.

Saat kejadian, di Mabes Polri ada ratusan anggotanya dan diantarnya tentu ada penembak jitu. Yang bisa menembak bagian kaki ZA hingga ia tak berdaya. Bukan tak bernyawa. Yang endingnya _the end_ tak bisa mengintrogasinya.

Andai ZA hanya dilumpuhkan, tentu bisa dikorek bagaimana ia masuk ke dalam markas besar korps baju coklat itu. Apa tujuannya ia ‘menembak’ pakai airsoft gun.

Menyimak perstiwa di akhir bulan Maret ini, *antara percaya dan tidak*. Percaya memang terjadi. Tidak (percaya), lantaran begitu gampang seseorang membawa senjata masuk Mabes Polri.

Lalu, bagaimana fungsi alat dektektor di pos jaga. Ada atau tidak ada ? Sudahkah petugas jaga menjalankan SOP ?

Apakah, ketika ZA masuk, para petugas jaga terkesima atau sedang lengah ? Bisa juga, karena petugas jaga sibuk dengan perangkat gawainya. Seperti halnya petugas Polantas yang kerap kita lihat di perempatan jalan-jalan saat bertugas sambil mengamati perangkat gawainya. Yang pasti, catatan ini bukan April mop ! (fim)