Oleh: Gatot Sundoro
SURABAYAONLINE.CO – Dalam Islam, hati adalah pusat spiritual manusia yang menentukan baik atau buruk amalan seseorang.
Jika hatinya baik, maka amal perbuatannya akan baik, namun apabila hatinya dipenuhi penyakit, maka perilaku akhlaknya akan rusak.
Pengertian penyakit hati bukanlah penyakit secara fisik, melainkan penyakit batin yang merusak jiwa dan keimanan seseorang.
Penyakit hati muncul akibat bisikan setan, hawa nafsu dan kelalaian ibadah kepada ALLOH. Jika tidak diatasi dengan segera, penyakit hati ini menjauhkan seseorang dari kebaikan dan mendekatkannya pada keburukan serta kemaksiatan.
Hal hal yang merusak hati ada tujuh, yaitu:
1. Terlalu banyak berinteraksi.
Terlalu banyak berinteraksi/bergaul dapat berdampak penuhnya hati dengan asap nafas nafas manusia, sehingga menghitam dan menyebabkan melemah, gundah gulana, menanggung beban teman teman yang buruk perangainya, sibuk dengan urusan urusan mereka, terbaginya pikiran demi memenuhi tuntutan dan keinginan mereka.
Ingatlah riwayat Abu Thalib saat sakaratul maut yang dikelilingi teman temannya yang buruk dan terus menemaninya, sehingga terhalang untuk mengucapkan kalimat syahadat; padahal Abu Thalib yakin bahwa yang menuntunnya adalah manusia yang paling benar dan paling jujur di jagad raya ini. Alhasil akhirnya Abu Thalib gagal masuk ke surganya ALLOH Ta’ala.
ALLOH SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al – Furqan ayat 27 dan 28 :” Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata:” Aduhai sekiranya (dulu) saya mengambil jalan bersama sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, sekiranya saya (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.”
2. Tenggelam dalam angan angan.
Angan angan itu ibarat mengarungi lautan tanpa ujung; seperti janji janji setan, khayalannya semu dan penuh kebohongan.
Terlena dengan harapan palsu, kekuasaan, harta dan wanita.
Asyik dengan angan angan yang memabukkan, ketika sadar ternyata semuanya kosong.
3. Bergantung kepada selain ALLOH.
Tidak ada yang paling berbahaya dibandingkan dengan ketergantungan ini. Manusia yang paling hina adalah orang yang bergantung kepada selain ALLOH. Ia telah menjerumuskan dirinya untuk hilang dan kehilangan.
ALLOH SWT sendiri telah berfirman:” Janganlah kamu mengadakan TUHAN yang lain disamping ALLOH, nanti kamu menjadi tercela dan terhina.” (Al-Israa’ : 22)
4. Terlalu banyak makan.
Seseorang yang makan melebihi batas, sehingga kekenyangan, membuatnya berat untuk melakukan ibadah, ia sibuk mengurusi perutnya. Yang menjadi kuat adalah unsur unsur syahwatnya, sehingga setan leluasa menggodanya.
Nabi Muhammad Saw sendiri pernah bersabda dalam suatu haditsnya yang mashur:” Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah baginya beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika mengharuskan melakukan, maka hendaklah ia memenuhi sepertiga lambungnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
5. Terlalu banyak tidur
Banyak tidur membuat hati mati, badan terasa berat, membuang buang waktu, lalai dan malas.
Kebanyakan tidur makruh dan tidak bermanfaat bagi badan.
6. Pandangan berlebihan.
Pandangan berlebihan akan menimbulkan rasa pengagungan, menyibukkan hati, berpikiran untuk meraihnya.
Permulaan melakukan fitnah juga disebabkan oleh pandangan yang berlebihan.
7. Terlalu banyak bicara.
Banyak bicara akan membuka pintu pintu keburukan seorang hamba dan sebagai tempat masuknya setan.
Kesalahan satu kata saja dari seorang kepala negara, bisa berakibat perang.
Nabi Saw pernah bersabda kepada Mua’adz, :” Dan tidaklah membuat manusia terjungkal wajahnya di neraka, karena akibat ucapannya.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kebanyakan berbicara bisa jadi yang mendengar menjadi bosan, muak dan tidak bersimpati lagi. Apalagi yang dibicarakan adalah hal yang membuat luka dihati, dampaknya bisa meluas.
Ulama salaf umumnya menjauhi banyak bicara, mereka berkata:” Tidak ada sesuatu yang lebih penting untuk ditahan, kecuali lidah (banyak bicara).


