Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI penghujung malam yang paling sunyi, ketika bahkan bintang-bintang tampak enggan berkelip dan bulan telah lama tenggelam di balik cakrawala, seorang hamba duduk sendirian di atas sajadahnya. Ia tidak lagi membuka lembaran doa yang biasa ia baca, tidak lagi menghitung untaian tasbih yang biasa ia putar, dan tidak lagi menyebut satu per satu permintaan yang selama bertahun-tahun mendominasi munajatnya. Malam ini berbeda. Dari lubuk jiwanya yang paling dalam, dari sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di dalam dirinya—meluncur kalimat-kalimat yang bukan sekadar permohonan. Kalimat-kalimat itu adalah sebuah akad ruhani, sebuah kontrak eksistensial yang mengikat seluruh dirinya kepada Sang Pemilik Sejati:
”Aku adalah milik-Mu, dan milikilah aku. Aku korbankan diriku karena-Mu, karena Engkau berhak atas diriku. Sungguh aku adalah hak-Mu, dan aku tiada berhak menyekutukan-Mu, karena diri-Mu kuasa yang tunggal dalam hatiku. Ampunilah aku, karena aku berhak mendapat ampunan-Mu. Jadikanlah aku hamba-Mu yang berguna atas hamba-hamba-Mu yang mencintai-Mu.”
Syair ini bukanlah puisi yang lahir dari imajinasi estetis. Ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang merangkum seluruh perjalanan spiritual manusia dari awal hingga akhir, dari penjara ilusi keakuan menuju samudra Kehadiran Ilahi yang tak bertepi. Dalam lima baitnya yang ringkas, terhampar tidak hanya tangga-tangga pendakian sufi, tetapi juga peta dekonstruksi ego dalam psikoanalisis spiritual dan dialektika mistik-metafisik tentang ketiadaan dan keberadaan. Mari kita masuki syair ini melalui tiga pintu besar: pintu psikoanalisis spiritual, pintu sufisme klasik, dan pintu mistik-metafisik—untuk kemudian menyaksikan bagaimana ketiganya bermuara pada samudra yang sama: Fana’ ul-Fana’ dan Baqa’ billah.
Dekonstruksi Ego: Membaca Syair sebagai Manual Psikoanalisis Spiritual
Bagi para pembaca modern yang akrab dengan bahasa psikologi, syair ini dapat dibaca sebagai sebuah manual dekonstruksi ego yang sangat presisi. Ia memetakan perjalanan dari struktur narsisistik yang rapuh menuju kematangan psikis transpersonal. Untuk memahami ini, kita perlu menengok sejenak ke pemikiran Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis yang merumuskan konsep Jouissance—kenikmatan berlebihan yang melampaui prinsip kesenangan biasa, yang seringkali justru menjadi sumber penderitaan karena ia terikat erat pada hasrat yang tak pernah terpuaskan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Jouissance manusia terikat pada objek-objek duniawi: harta, kekuasaan, pengakuan, bahkan penderitaan sekalipun. Kita menikmati pujian, kita menikmati rasa memiliki, kita menikmati ilusi bahwa kitalah yang memegang kendali atas hidup kita. Tetapi kenikmatan ini adalah jerat. Ia mengikat kita pada ilusi keakuan yang semakin memperkuat tembok-tembok ego. Kita menderita, tetapi kita tidak bisa melepaskan sumber penderitaan itu, karena kita telah menjadi addict dari Jouissance kita sendiri.
Syair ini menawarkan jalan keluar yang radikal. “Aku adalah milik-Mu, dan milikilah aku” adalah langkah pertama dekonstruksi: subjek secara sukarela menyerahkan Jouissance-nya kepada Yang Ilahi. Ia melepaskan kenikmatan memiliki, kenikmatan mengontrol, dan kenikmatan menjadi pusat dari dunianya sendiri. Dalam bahasa Lacanian, ini adalah traversing the fantasy—melampaui fantasi fundamental yang selama ini menopang struktur neurotik subjek. Fantasi bahwa “aku adalah pemilik diriku sendiri” dibongkar total, dan subjek membuka diri untuk dimiliki sepenuhnya oleh Yang Lain.
Langkah kedua, “Aku korbankan diriku karena-Mu”, adalah dekonstruksi lebih lanjut. Subjek tidak hanya melepaskan objek-objek eksternal, tetapi juga melepaskan dirinya sendiri sebagai objek yang berharga. Ini adalah symbolic castration—penerimaan bahwa subjek tidak lagi menjadi pusat dari alam semesta psikisnya sendiri. Ada Kekuasaan yang lebih besar, dan kepada-Nya seluruh eksistensi diserahkan.
Ketika syair ini mencapai bait “Ampunilah aku, karena aku berhak mendapat ampunan-Mu”, kita menyaksikan penyembuhan dari retakan psikis (split subject) yang selama ini mendera. Subjek tidak lagi terbelah antara keinginan untuk menjadi sempurna dan kenyataan bahwa ia penuh kekurangan. Ia menerima ketidaksempurnaannya, dan pada saat yang sama, ia percaya bahwa ia “berhak” atas ampunan—bukan karena jasanya, tetapi karena janji dan kasih sayang Yang Ilahi. Ini adalah integrasi psikis yang mendalam: Superego yang kejam dan selalu menuntut telah digantikan oleh Rahmah yang memeluk.
Puncaknya, “Jadikanlah aku hamba-Mu yang berguna” adalah buah dari kematangan transpersonal. Subjek yang telah melewati dekonstruksi ego tidak lagi terpenjara dalam narsisisme. Ia kini mampu melihat orang lain, mampu peduli, mampu melayani. Ia telah mencapai apa yang oleh Abraham Maslow disebut self-transcendence—melampaui aktualisasi diri menuju pelayanan kepada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dan pelayanan ini bukanlah beban; ia adalah ekspresi alami dari jiwa yang telah sembuh.
Perjalanan Organ-Organ Lathā’if: Membaca Syair dalam Sorotan Sufisme Klasik
Jika kita beralih dari ruang konsultasi psikoanalis ke zawiyah para sufi, syair ini menampakkan wajahnya yang lain: ia adalah peta perjalanan seorang salik mengarungi organ-organ Lathā’if—pusat-pusat kesadaran halus dalam diri manusia—dari Qalb hingga Akhfa. Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ memberikan pemetaan yang sangat presisi tentang anatomi spiritual manusia. Hati bukanlah sekadar segumpal darah; ia adalah Lathifah Rabbaniyah Ruhaniyah, entitas lembut ketuhanan yang berlapis-lapis: Shadr (dada), Qalb (hati), Fuad (hati nurani), Sirr (rahasia), Khafi (yang tersembunyi), dan Akhfa (yang paling tersembunyi).
“Aku adalah milik-Mu, dan milikilah aku” adalah pekerjaan pada level Shadr dan Qalb. Pada tahap ini, salik membersihkan lapisan terluar hatinya dari klaim kepemilikan duniawi. Shadr yang selama ini disesaki oleh hubbud dunya—cinta buta pada dunia—mulai dibersihkan. Inilah fase Takhalli: pengosongan.
“Aku korbankan diriku karena-Mu” adalah pekerjaan pada level Fuad dan Sirr. Di sini, salik tidak hanya melepaskan benda-benda, tetapi juga melepaskan dirinya sendiri. Fuad, yang merupakan pusat penglihatan batin (mata hati), mulai melihat bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Sirr, yang merupakan pusat rahasia ketuhanan dalam diri, mulai bergetar dan merindukan asal-usulnya.
“Sungguh aku adalah hak-Mu, dan aku tiada berhak menyekutukan-Mu” adalah pekerjaan pada level Khafi. Di sini, salik membersihkan hatinya dari shirk al-khafi—syirik tersembunyi yang sangat halus. Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ merekam banyak kisah para wali yang justru semakin takut pada syirik tersembunyi seiring dengan meningkatnya maqam mereka. Mereka sadar bahwa selama masih ada “aku” yang mengaku bertauhid, selama itu pula ada potensi syirik. Maka, kalimat “aku tiada berhak menyekutukan-Mu” adalah pengakuan bahwa bahkan hak untuk bertauhid pun bukan milik sang hamba.
“Ampunilah aku, karena aku berhak mendapat ampunan-Mu” adalah pekerjaan pada level Akhfa—pusat yang paling tersembunyi, yang hanya diketahui oleh Allah. Di sini, salik mencapai fana’ ul-fana’: lenyap dari lenyap. Kesadaran “aku telah suci” dan “aku telah mencapai” dihapuskan total. Yang tersisa hanyalah kehinaan diri dan kebesaran ampunan Allah.
Puncaknya, “Jadikanlah aku hamba-Mu yang berguna” adalah Baqa’ billah—ketetapan bersama Allah setelah kefanaan. Al-Kamasykhanawi menulis bahwa baqa’ adalah maqam di mana salik dikembalikan ke dunia dengan kesadaran yang telah ditransformasi. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya; ia adalah khalifah sejati, yang memenuhi tuntutan ‘Ubudiyyah murni.
Dialektika Mistik-Metafisik: Dari Fana’ al-Milk menuju Baqa’ billah
Akhirnya, kita tiba pada pintu ketiga: pintu mistik-metafisik. Syair ini, bila dibaca dengan kacamata ini, menggambarkan dialektika spiritual yang utuh—sebuah gerakan melingkar yang dimulai dari pengakuan, menuju pemusnahan, dan kembali lagi ke dunia sebagai pancaran kasih sayang.
Ikrar “Aku adalah milik-Mu” adalah titik tolak. Ini adalah Fana’ al-Milk—peleburan rasa kepemilikan. Dalam ontologi sufistik, manusia pada hakikatnya adalah ‘adam (ketiadaan). Ia tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri. Maka, mengakui bahwa dirinya adalah milik Allah adalah kembali ke fitrah, kembali ke realitas sejati.
“Aku korbankan diriku karena-Mu” adalah Fana’ al-Nafs—peleburan eksistensi diri. Ini adalah puncak dari fana’ tahap pertama, di mana sang hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai entitas yang terpisah. Ia telah menjadi kurban, persembahan, yang sepenuhnya diserahkan kepada Yang Maha Esa.
“Sungguh aku adalah hak-Mu, dan aku tiada berhak menyekutukan-Mu” adalah Fana’ al-Tauhid—peleburan dalam keesaan. Pada titik ini, dualitas antara “yang menyembah” dan “Yang Disembah” mulai luluh. Hati telah menjadi ‘Arsy Allah—singgasana Ilahi—yang di dalamnya tidak ada sekutu, tidak ada berhala, tidak ada tuhan-tuhan kecil.
Namun, perjalanan tidak berhenti di sini. Para Arifin—orang-orang yang telah mencapai kedalaman makrifat—menyadari bahwa fana’ saja belum cukup. Karena selama masih ada “aku” yang menyadari bahwa dirinya fana’, selama itu pula masih ada jejak ego yang tersembunyi. Maka, diperlukan Fana’ ul-Fana’: lenyap dari lenyap, pemusnahan dari kesadaran akan pemusnahan itu sendiri.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang menyerahkan diri, “aku” yang berkorban, “aku” yang bertauhid, atau “aku” yang memohon ampun. Semua “aku” telah sirna tanpa bekas. Yang ada hanyalah al-Haqq yang bekerja melalui hamba-Nya. Inilah realisasi dari firman Allah dalam hadis qudsi: “Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, dan tangannya…”
Dan dari puncak Fana’ ul-Fana’ ini, sang hamba tidak menghilang begitu saja dari realitas. Ia dikembalikan ke dunia dalam maqam Baqa’ billah—ketetapan bersama Allah. “Jadikanlah aku hamba-Mu yang berguna” adalah buah dari baqa’ ini. Sang hamba kini bergerak di tengah manusia, tetapi hatinya tidak lagi terpaut pada dunia. Ia adalah rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam—bukan karena ia hebat, tetapi karena ia telah menjadi saluran bagi kasih sayang Ilahi.
Manifestasi Arketipal Perjalanan Pulang Jiwa
Demikianlah, munajat yang dilantunkan oleh sang hamba di penghujung malam itu bukanlah sekadar tangisan emosional seorang penyerah diri. Ia adalah manifestasi arketipal dari perjalanan pulang jiwa manusia—dari penjara ilusi keakuan menuju samudra Kehadiran Ilahi yang tak bertepi.
Ia adalah manual dekonstruksi ego bagi para pencari yang terluka oleh ilusi kontrol. Ia adalah peta perjalanan Lathā’if bagi para salik yang merindukan kejernihan batin. Ia adalah dialektika mistik tentang ketiadaan dan keberadaan, tentang fana’ dan baqa’, yang telah dinyanyikan oleh para sufi sejak zaman dahulu.
Dan pada akhirnya, ia adalah bukti bahwa puncak dari seluruh pencarian spiritual bukanlah pelarian dari dunia, melainkan kembali ke dunia dengan membawa lentera. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menerangi. Bukan untuk memisahkan diri, melainkan untuk melayani. “Jadikanlah aku hamba-Mu yang berguna atas hamba-hamba-Mu yang mencintai-Mu.”
Inilah doa para pencinta. Inilah akad ruhani yang mengubah segalanya. Inilah jalan pulang menuju Rumah yang sesungguhnya—Rumah yang pintunya selalu terbuka, menanti kepulangan setiap jiwa yang lelah dan merindu.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


