Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah sudut malam yang basah oleh embun, seorang lelaki tua duduk bersila di atas tikar pandan. Matanya terpejam, namun batinnya terbangun. Ia baru saja menunaikan shalat malam, dan kini ia tenggelam dalam lautan muhasabah—introspeksi diri yang telah menjadi kebiasaan para pencinta Ilahi sejak zaman para nabi. Tiba-tiba, dari kedalaman hatinya yang paling rahasia, sebuah suara bergema tanpa bunyi. Suara itu bukanlah suara yang akrab dengan telinga jasmani. Ia adalah suara sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di dalam diri setiap insan, yang hanya bisa didengar oleh telinga batin yang telah disucikan. Suara itu berkata, lirih namun menghantam: Dirimu adalah pemimpin bagimu.
Lelaki tua itu tersentak dalam diamnya. Seketika itu juga, ia teringat sebuah syair hikmah yang pernah didendangkan oleh gurunya di masa lalu—seorang mursyid yang telah mencapai maqam al-insan al-kamil. Syair yang dahulu hanya ia hafal di permukaan akal, kini kembali hidup di dalam dadanya, berdenyut bersama detak jantungnya, dan menyingkapkan lapis demi lapis makna yang selama ini tersembunyi:
”Dirimu adalah pemimpin bagimu. Pemimpin bagi ucapanmu. Pemimpin bagi penglihatanmu. Pemimpin bagi pendengaranmu. Pemimpin bagi sikap-sikapmu. Sungguh dirimu adalah pemimpin di setiap tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka.
Pimpinlah dirimu dengan ilmu. Pimpinlah dirimu dengan kejujuranmu. Pimpinlah dirimu dengan tanggung jawabmu. Pimpinlah dirimu dengan kerendahan hatimu. Pimpinlah dirimu dengan ketulusan jiwamu.
Jangan engkau pimpin dirimu dengan kesombonganmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan kesenangan nafsumu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan keserakahanmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan syahwatmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan kelicikanmu.
Dan di dalam sholatmu, sesungguhnya dirimu adalah imam bagi seluruh anggota tubuhmu. Sungguh di akhirat kelak, Allah akan meminta tanggung jawabmu atas kepemimpinanmu di setiap perbuatan-perbuatanmu.”
Syair ini bukanlah sekadar nasihat moral yang biasa kita dengar dari mimbar-mimbar. Ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang membuka peta menuju kerajaan tersembunyi yang ada di dalam setiap manusia: kerajaan diri. Dan setiap insan, disadari atau tidak, adalah raja di kerajaannya sendiri. Masalahnya, tidak setiap raja memerintah dengan adil. Banyak yang justru menjadi tiran bagi dirinya sendiri, menindas rakyatnya sendiri—lisan, mata, telinga, hati—dan menyeret seluruh kerajaannya menuju kehancuran.
Kerajaan Mikro di Dalam Dada
Dalam kosmologi tasawuf, manusia adalah ‘alam saghir—semesta kecil, mikrokosmos. Di dalam semesta kecil itu, Allah telah menempatkan elemen-elemen yang menyerupai alam besar: ada akal yang menjadi singgasana, ada hati yang menjadi mahkamah agung, ada nafsu yang menjadi pemberontak yang selalu siap melakukan kudeta, dan ada anggota tubuh yang menjadi rakyat jelata yang akan mengikuti siapa pun yang memegang tampuk kekuasaan. Setiap manusia adalah raja atas kerajaan mikronya, memegang kendali penuh atas pasukan lisannya, pasukan matanya, pasukan telinganya, dan pasukan seluruh anggota badannya.
Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah yang menjadi rujukan utama para salik, menjelaskan bahwa nafs adalah amanah terbesar yang diletakkan Allah di pundak manusia. Setiap orang adalah pemimpin bagi nafs-nya, dan kelak di hadapan pengadilan Allah, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana ia memerintah kerajaannya. Hadis Nabi Saw. menegaskan dengan bahasa yang tak terbantahkan: ”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan, yang jika direnungkan akan membuka pintu-pintu makrifat: siapakah yang memimpin sang pemimpin? Jika diri adalah pemimpin, lalu siapa yang memimpin diri? Di sinilah letak paradoks yang akan mengantarkan kita pada samudra makna yang paling dalam. Sebab, sang pemimpin—yaitu nafs—ternyata juga harus dipimpin. Ia harus tunduk kepada sesuatu yang lebih tinggi, yaitu qalb (hati) yang telah disinari oleh cahaya Ilahi. Dan qalb itu sendiri, pada puncaknya, harus tunduk dan melebur sepenuhnya kepada Allah.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menguraikan hierarki kepemimpinan ini dengan sangat indah. Beliau menulis bahwa dalam diri manusia terdapat al-mulk (kerajaan) dan al-malakut (kerajaan ruhani). Al-mulk adalah wilayah zahir yang dipimpin oleh akal dan nafsu. Al-malakut adalah wilayah batin yang dipimpin oleh hati dan ruh. Seorang salik yang cerdas akan menyerahkan seluruh kerajaannya—baik yang zahir maupun yang batin—kepada Allah, sehingga ia menjadi al-mutakhalliq bi akhlaqillah, orang yang berakhlak dengan akhlak Allah.
Memimpin dengan Ilmu: Cahaya di Tangan Sang Raja
Pimpinlah dirimu dengan ilmu. Demikian perintah pertama yang diamanatkan syair itu. Dalam tradisi tasawuf, ilmu bukanlah sekadar kumpulan informasi yang tersusun rapi di dalam otak. Ia bukanlah sekadar hafalan teks dan kutipan yang bisa dipamerkan di majelis-majelis. Ilmu adalah nur—cahaya—yang menerangi jalan. Tanpa ilmu, seorang pemimpin diri akan berjalan dalam kegelapan, seperti orang buta yang meraba-raba di tengah hutan belantara. Ia akan tersesat, dan lebih buruk lagi, ia akan menyesatkan seluruh rakyatnya: lisan akan mengucapkan dusta, mata akan memandang yang haram, telinga akan mendengar yang sia-sia, dan anggota badan akan bergerak tanpa arah.
Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat, katanya, adalah ilmu yang menghantarkan kepada khasy-yah—rasa takut yang disertai cinta dan pengagungan kepada Allah. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya menumpuk di kepala tetapi tidak menggetarkan hati, tidak membasahi mata dengan air mata taubat, tidak mendorong tangan untuk terangkat dalam doa. Seorang pemimpin diri yang berilmu sejati tidak akan menggunakan ilmunya untuk menipu, memanipulasi, atau mendominasi. Ia akan menggunakan ilmunya untuk mengenali batas-batas Allah (hududullah), untuk membedakan antara yang haqq dan yang batil, antara yang sunnah dan yang bid’ah, antara cahaya dan fatamorgana.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa syarat pertama bagi seorang salik—penempuh jalan spiritual—adalah memiliki ilmu yang sahih tentang syariat. Ilmu adalah kompas. Tanpa kompas, seorang musafir tidak akan sampai ke tujuan, meskipun ia berjalan siang dan malam. Ia hanya akan berputar-putar di tempat yang sama, atau lebih buruk lagi, ia akan berjalan menjauhi tujuan tanpa menyadarinya, dikira dekat padahal semakin jauh, dikira sampai padahal tersesat.
Kejujuran: Cermin yang Tak Pernah Berdusta
Setelah ilmu, syair itu menyebutkan kejujuran: Pimpinlah dirimu dengan kejujuranmu. Dalam bahasa Arab, jujur adalah shidq, sebuah kata yang memiliki akar yang sama dengan shadaqah (sedekah) dan shiddiq (orang yang sangat jujur, gelar yang disandang oleh Abu Bakar, sahabat paling agung). Kejujuran dalam perspektif tasawuf bukan sekadar berkata benar. Ia adalah keselarasan sempurna antara yang zahir dan yang batin, antara yang diucapkan lisan dan yang tersembunyi di hati, antara yang tampak di permukaan dan yang mengendap di dasar samudra jiwa.
Al-Qusyairi menulis bahwa shidq adalah “kesesuaian antara rahasia dan yang terang-terangan, antara ucapan dan perbuatan.” Seorang pemimpin diri yang jujur tidak akan menipu dirinya sendiri. Ia berani mengakui kesalahannya. Ia tidak membungkus keburukannya dengan seribu alasan. Ia tidak membenarkan hawa nafsunya dengan ayat-ayat yang dipelintir. Kejujuran adalah cermin yang selalu ia letakkan di hadapannya, dan di cermin itu ia melihat dirinya apa adanya—telanjang, tanpa topeng, tanpa riasan, tanpa kepalsuan.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam kisah seorang wali yang setiap malam melakukan muhasabah—menghisab dirinya sendiri sebelum ia dihisab di akhirat. Ia berkata pada dirinya, “Wahai nafs, apa yang telah engkau lakukan hari ini? Adakah engkau berkata dusta? Adakah engkau memandang yang haram? Adakah engkau mendengar yang sia-sia? Adakah engkau melangkah menuju kemaksiatan?” Jika ia menemukan kesalahan, ia tidak memaafkan dirinya sendiri begitu saja. Ia menghukum dirinya dengan memperbanyak puasa atau shalat malam, bukan sebagai balasan, tetapi sebagai latihan agar nafs-nya jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Inilah contoh pemimpin diri yang jujur. Ia tidak hanya memimpin rakyatnya—lisan, mata, telinga—tetapi juga mengaudit mereka dengan ketat, seperti seorang raja yang turun langsung memeriksa setiap sudut kerajaannya.
Tanggung Jawab: Beban yang Memuliakan
Pimpinlah dirimu dengan tanggung jawabmu. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dengan bahasa yang penuh keagungan: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72). Amanah ini, menurut para mufasir dan ahli tasawuf, adalah tanggung jawab untuk taat kepada Allah, tanggung jawab untuk menjadi khalifah—pemimpin—di muka bumi, tanggung jawab untuk mengelola kerajaan diri dan kerajaan alam dengan hukum-hukum-Nya.
Tetapi tanggung jawab yang paling elementer, yang paling asasi, yang menjadi fondasi bagi semua tanggung jawab lainnya, adalah tanggung jawab atas diri sendiri. Sebelum memimpin orang lain, seseorang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya atas dirinya sendiri. Apakah lisannya telah dijaga dari dusta dan ghibah? Apakah matanya telah ditundukkan dari pandangan haram? Apakah waktunya telah diisi dengan kebaikan atau justru dihamburkan dalam kelalaian? Semua ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan al-Malik al-Haqq. Allah sendiri yang menegaskan: ”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra’: 36).
Dalam Jami’ul Ushul, Al-Kamasykhanawi menulis bahwa wara’—kehati-hatian yang ekstrem dalam menjaga diri dari yang haram dan syubhat—adalah buah dari tanggung jawab yang disadari sepenuhnya. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab tidak akan ceroboh. Ia tidak akan mengucapkan kata-kata kecuali setelah menimbangnya dengan timbangan syariat. Ia tidak akan melangkahkan kaki kecuali setelah memastikan arahnya. Ia hidup dalam kesadaran yang terus-menerus bahwa setiap detiknya adalah amanah yang akan diperiksa di pengadilan akhirat, dan bahwa saksi-saksinya—lisan, tangan, kaki, bahkan kulitnya sendiri—akan berbicara di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil.
Kerendahan Hati: Ketinggian yang Tersembunyi
Setelah tanggung jawab, syair itu menyebutkan kerendahan hati: Pimpinlah dirimu dengan kerendahan hatimu. Dalam terminologi tasawuf, kerendahan hati adalah tawadhu’, sebuah kata yang berasal dari akar kata wadha’a yang berarti meletakkan atau merendahkan. Seorang yang tawadhu’ adalah ia yang meletakkan dirinya di tempat yang rendah, bukan karena ia hina, melainkan karena ia sadar bahwa semua kemuliaan, semua kehormatan, semua ketinggian, hanyalah milik Allah semata.
Nabi Saw. bersabda: ”Barangsiapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan meninggikannya” (HR. Muslim). Ini adalah paradoks spiritual yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mengecap manisnya ma’rifah: semakin engkau merendah, semakin engkau tinggi. Semakin engkau mengosongkan diri dari klaim-klaim keakuan, semakin engkau dipenuhi oleh Cahaya Ilahi. Semakin engkau mengakui kehinaan dirimu, semakin Allah memuliakanmu di hadapan makhluk-Nya.
Al-Kamasykhanawi menekankan bahwa tawadhu’ adalah salah satu ciri utama para wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang ilmunya paling tinggi, amalnya paling banyak, kedudukannya di sisi Allah paling mulia—tetapi justru karena itulah mereka menjadi orang yang paling rendah hati. Mereka tidak merasa lebih baik dari orang lain. Mereka tidak memandang siapa pun dengan hina. Mereka melihat semua makhluk sebagai ciptaan Allah yang harus dihormati. Seorang pemimpin diri yang rendah hati akan mudah menerima nasihat, tidak defensif ketika dikritik, selalu terbuka untuk belajar, bahkan dari orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya. Ia sadar bahwa kebenaran adalah barang hilang milik seorang mukmin; di mana pun ia menemukannya, ia akan memungutnya dengan rasa syukur.
Ketulusan: Ruh dari Segala Amal
Pilar kelima adalah ketulusan: Pimpinlah dirimu dengan ketulusan jiwamu. Tulus, atau ikhlas, adalah ruh dari setiap amal. Ia adalah napas yang menghidupkan jasad ibadah. Tanpa ikhlas, amal hanya akan menjadi bangkai yang tidak bernilai, seperti tubuh tanpa ruh yang akan membusuk dan lenyap ditelan bumi. Tanpa ikhlas, shalat hanya akan menjadi gerakan fisik yang kosong, naik turun tanpa makna. Tanpa ikhlas, sedekah hanya akan menjadi transaksi sosial yang hampa, memberi dengan tangan kanan tetapi mengharap pujian dengan hati.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sufi agung bernama Al-Fudhail bin Iyadh. Suatu malam, ia membaca firman Allah: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami beriman’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2). Seketika itu juga, Al-Fudhail menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya. Murid-muridnya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Guru?” Ia menjawab dengan suara yang bergetar, “Ya Allah, Engkau menguji hamba-hamba-Mu bukan untuk mengetahui—karena Engkau Maha Mengetahui, bahkan sebelum mereka diciptakan—tetapi untuk menunjukkan kepada mereka betapa sedikitnya keikhlasan di dalam hati mereka. Engkau ingin mereka melihat sendiri betapa kosongnya amal mereka, agar mereka kembali kepada-Mu dengan penuh kehinaan.”
Seorang pemimpin diri yang tulus adalah ia yang memurnikan seluruh amalnya hanya untuk Allah. Ia tidak mencari pujian manusia. Ia tidak berharap balasan duniawi. Ia bahkan tidak berharap surga atau takut neraka—ia hanya menginginkan Allah. Seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah, sang pencinta agung yang kisahnya juga direkam oleh Abu Nu’aim: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu atau mengharap surga-Mu. Aku menyembah-Mu karena Engkau layak disembah. Aku mencintai-Mu bukan karena surga, tetapi karena Engkau.” Inilah puncak dari ketulusan: meniadakan segala tujuan selain Allah, termasuk surga dan neraka, sehingga yang tersisa hanyalah Dia.
Lima Musuh di Dalam Benteng
Setelah menyebutkan lima pilar kepemimpinan yang baik, syair itu memperingatkan tentang lima musuh yang selalu mengintai, siap menghancurkan kerajaan diri dari dalam: kesombongan, hawa nafsu, keserakahan, syahwat, dan kelicikan. Kelimanya adalah serigala buas yang mengenakan bulu domba, musuh dalam selimut yang pura-pura menjadi sahabat, tetapi sesungguhnya sedang menunggu raja lengah untuk kemudian menerkam dan mencabik-cabik seluruh kerajaannya.
Kesombongan adalah penyakit iblis, musuh pertama yang membangkang kepada Allah. Ia adalah perasaan bahwa diri lebih besar, lebih mulia, lebih berhak dihormati. Al-Ghazali menulis bahwa sombong adalah pintu dari segala kehancuran. Seorang pemimpin yang sombong tidak akan bisa memimpin dirinya, karena ia telah dibutakan oleh cinta kepada dirinya sendiri.
Nafsu adalah tuhan palsu yang paling banyak disembah oleh manusia. Al-Qur’an memperingatkan: “Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23). Jika nafsu yang memimpin, maka seorang hamba akan menjadi budak bagi dirinya sendiri, diperbudak oleh keinginan-keinginannya yang tak bertepi.
Keserakahan adalah api yang tak pernah padam, semakin disiram air semakin membara. Orang yang serakah tidak akan pernah merasa cukup. Ia akan terus mengumpulkan, terus menimbun, terus mengejar, sampai akhirnya ia masuk ke liang kubur dengan tangan kosong, meninggalkan semua yang telah ia kumpulkan dengan susah payah.
Syahwat adalah dorongan biologis yang, jika tidak dikendalikan, akan menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan yang paling dalam. Ia adalah api yang membakar dari dalam, dan abunya adalah penyesalan abadi.
Kelancungan adalah kecerdasan yang digunakan untuk keburukan. Orang yang licik menggunakan akalnya untuk menipu, memanipulasi, dan mengambil keuntungan dari orang lain. Ia mengira dirinya paling pintar, padahal ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri dengan tangannya sendiri.
Shalat: Panggung di Mana Sang Raja Diuji
Di tengah syair itu, ada satu kalimat yang sangat istimewa, yang jika direnungkan akan mengubah cara kita memandang ibadah yang setiap hari kita lakukan: ”Dan di dalam sholatmu, sesungguhnya dirimu adalah imam bagi seluruh anggota tubuhmu.” Shalat adalah miniatur dari kepemimpinan diri. Ia adalah laboratorium spiritual di mana seorang hamba dilatih untuk menjadi raja yang adil bagi kerajaannya. Dalam shalat, seorang hamba menjadi imam bagi seluruh anggota tubuhnya. Lisannya menjadi makmum yang membaca Al-Fatihah dengan tartil. Matanya menjadi makmum yang menunduk ke tempat sujud. Telinganya menjadi makmum yang mendengarkan bacaan imam. Akalnya menjadi makmum yang merenungkan makna. Hatinya menjadi makmum yang paling utama, yang khusyuk dan hadir sepenuhnya di hadapan Allah.
Jika dalam shalat saja—yang hanya berlangsung beberapa menit—seseorang tidak bisa memimpin dirinya, jika pikirannya mengembara ke pasar dan kantor, jika matanya liar memandang ke sana ke mari, jika hatinya sibuk dengan urusan dunia yang tak kunjung selesai, maka di luar shalat ia akan lebih tidak mampu lagi. Sebaliknya, jika dalam shalat ia berhasil menjadi imam yang sempurna bagi seluruh anggota tubuhnya, maka di luar shalat ia akan mampu memimpin dirinya dengan lebih baik. Shalat adalah latihan kepemimpinan yang paling intensif. Lima kali sehari—Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya—seorang hamba dilatih untuk mengendalikan seluruh kerajaannya dan menghadapkannya kepada Sang Raja Diraja, al-Malik al-Haqq.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menulis bahwa shalat adalah mi’raj bagi seorang mukmin, sebagaimana Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan agung Nabi Saw. menuju Hadirat Allah. Dalam mi’raj yang dilakukan lima kali sehari itu, sang hamba harus menjadi pemimpin yang sempurna bagi dirinya. Ia tidak boleh membiarkan satu pun rakyatnya—lisan, mata, telinga, pikiran, hati—membangkang. Semua harus tunduk, semua harus patuh, semua harus menghadap kepada Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan, karena hanya dengan demikian mi’raj itu akan benar-benar mengangkatnya menuju derajat qab qawsayn aw adna.
Puncak Kepemimpinan: Fana’ ul-Fana’
Sampai di sini, kita mungkin bertanya-tanya: apakah tujuan akhir dari kepemimpinan diri yang dipaparkan oleh syair ini? Apakah sekadar menjadi pemimpin yang baik, yang adil, yang bijaksana, yang dicintai rakyatnya? Dalam perspektif tasawuf, jawabannya jauh lebih radikal, jauh lebih mengguncang. Tujuan akhir dari kepemimpinan diri adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap, sirna dari sirna. Apa maksudnya?
Selama masih ada “aku” yang memimpin, selama itu pula ada ego. Selama masih ada perasaan “aku telah berhasil memimpin lisanku,” “aku telah berhasil menundukkan nafsuku,” “aku telah berhasil menjadi raja yang adil,” selama itu pula ada potensi ujub—kesombongan tersembunyi yang lebih halus dari sutra dan lebih gelap dari malam. Inilah residu ego yang paling sulit dibersihkan, yang hanya bisa dihancurkan dengan fana’ ul-fana’.
Dalam maqam fana’, seorang hamba lenyap dari kesadaran akan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat bahwa dirinya yang memimpin, karena ia telah menyaksikan dengan ‘ain al-bashirah (mata batinnya) bahwa yang memimpin dirinya adalah Allah.


