SURABAYAONLINE.CO – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan PT Pertamina (Persero) mencatat omzet mencapai Rp8,57 miliar dari keikutsertaan dalam berbagai pameran regional, nasional, hingga internasional sepanjang semester I 2026.
Capaian tersebut menunjukkan pameran menjadi salah satu strategi untuk membuka akses pasar bagi UMKM sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, mitra bisnis, dan jaringan kolaborasi baru.
Sepanjang Januari-Juni 2026, Pertamina telah memfasilitasi UMKM binaannya mengikuti 414 pameran. Sejumlah ajang yang diikuti antara lain Food & Hospitality Indonesia, Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Indonesia International Motor Show (IIMS), hingga INACRAFT 2026.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan dukungan terhadap UMKM tidak hanya dilakukan melalui pameran, tetapi juga penguatan kapasitas dan kesiapan usaha.
“Di balik setiap produk UMKM, ada keringat dan kerja keras. Namun, langkah mereka sering terhenti oleh keterbatasan ruang untuk berkembang. Memahami kondisi ini, Pertamina hadir bukan sekadar memberi pelatihan,” ujar Baron.
Menurut dia, Pertamina membantu UMKM melengkapi sertifikasi dan legalitas, membuka akses pasar, memperluas jejaring, serta menciptakan peluang agar usaha dapat berkembang secara mandiri.
Selain membuka akses pasar, Pertamina juga mencatat 2.822 UMKM binaan telah mengantongi sertifikasi hingga akhir Juni 2026. Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya membantu pelaku usaha memenuhi aspek legalitas dan standar produk sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Penguatan kapasitas pelaku UMKM juga dilakukan melalui 579 pelatihan yang diselenggarakan melalui Rumah BUMN Pertamina. Materi pelatihan meliputi pemasaran digital, legalitas usaha, peningkatan kualitas dan daya saing produk, hingga pengelolaan bisnis.
Salah satu UMKM binaan yang merasakan manfaat program tersebut adalah Sambal Ning Niniek. Pemilik usaha, Sri Wahyuni, mengatakan pendampingan Pertamina turut membantu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran.
Sambal Ning Niniek juga pernah terpilih sebagai salah satu dari 30 finalis Pertamina Aggregator 2025.
“Bagi saya, setiap tahap yang kami lalui adalah bagian dari proses untuk terus berkembang. Peran Pertamina dalam perjalanan Sambal Ning Niniek sangat luar biasa. Kami mendapatkan bantuan modal Rp35 juta pada 2023 yang sangat membantu memperkuat operasional dan meningkatkan kapasitas produksi,” kata Sri Wahyuni.
Pertamina menilai akses pasar perlu diimbangi dengan kesiapan internal UMKM. Legalitas, sertifikasi, kualitas produk, kemampuan pemasaran, serta pengelolaan usaha menjadi faktor penting agar pelaku UMKM mampu memanfaatkan peluang pasar secara berkelanjutan.
Baron mengatakan pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang mendukung pelaku usaha untuk terus meningkatkan kapasitas dan daya saing.
“Momentum Hari UMKM Nasional juga menjadi pengingat bahwa pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha terus berkembang,” katanya.
Menurutnya, Pertamina mengambil peran sebagai enabler melalui pendampingan, peningkatan kapasitas, sertifikasi, serta pembukaan akses pasar bagi UMKM binaan.
Upaya tersebut sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), terutama Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Pengembangan UMKM juga sejalan dengan Asta Cita ketiga melalui penguatan kewirausahaan, industri kreatif, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Dengan berbagai program tersebut, Pertamina mendorong UMKM binaan agar tidak hanya memperoleh akses pasar, tetapi juga memiliki kapasitas dan daya saing untuk mengembangkan usaha secara mandiri.


